
Herman pun tiba di Jakarta, dia ingin melihat rumah tua peninggalan Winda istrinya. Sesampainya di bandara, Herman lalu menghubungi sebuah taksi online untuk bisa segera sampai di depan rumah Winda, yang di berada di jalan Cempaka putih. mobil itu pun sudah tiba dan Herman pun masuk ke dalamnya lalu melaju ke arah rumah tua milik Winda.
tak berapa lama, Herman pun sudah tiba di depan rumah Winda saat itu. Herman pun turun dari dalam mobil dan membayar ongkos taksi online itu. Dari depan pagar gerbang rumah yang begitu jauh, Herman melihat rumah itu dengan tatapannya. Dalam benaknya rumah itu tidak ada yang berubah, namun auranya semakin saja gelap.
"Eh pak Herman."
"Pak Herman ke mana saja? Sudah lama tidak nampak, bagaimana dengan Bu Laras?" tanya salah satu tetangga Herman yang ternyata sedang melintas di depan pagar rumah itu.
"Oh iya Bu, Laras baik-baik saja kok sekarang sedang ada di Sulawesi." ucap Herman membalas pertanyaan dari tetangganya dahulu.
"Oh begitu. baiklah pak Herman, saya mau melanjutkan ke depan dulu. Titip salam untuk ibu Laras ya pak Herman." tetangga itu pun pergi setelah berkata kepada Herman lagi.
namun saat itu Herman tidak masuk ke dalam rumah tua, untuk saat ini dia takut masuk ke dalam rumah. Lalu hari itu, Anna ingin membuka toko Winda yang berada di persimpangan 3, di dekat rumah 2 milik mamanya.
Seketika Ana terkejut, melihat seorang pria yang berdiri di depan pagar rumah mamanya. Dia sangat mengenal pria yang berada di depan pagar rumah mamanya. Dengan cepat Ana berhenti dan menghampiri Herman di sana.
"Hai tuan Herman, akhirnya kau datang juga melihat rumah mamaku." Ana berkata secara tidak sopan kepada papanya sendiri.
Ana memang sudah lama tidak menyukai papanya itu, karena Herman selalu tidak bertanggung jawab akan hidupnya saat dari kecil hingga sekarang. Jadi dalam hidup Ana papanya telah tiada, bahkan di hatinya. Karena sama sekali Herman tidak pernah bertanggung jawab untuk membesarkan Ana.
"kau siapa?" tanya Herman yang tidak mengenal wanita yang berada di depannya.
"Yah wajar saja, kalau kamu tidak mengenalku. Karena kamu tidak pernah mau bertanggung jawab untuk membesarkanku, dan menyayangiku bersama mama.
__ADS_1
Ana segera mengeluarkan kata-katanya, untuk mengingat kembali Herman akan anaknya yang dahulu bersama Winda. seketika Herman terkejut akan kata-kata Anna, dengan seksama dia memperhatikan lebih jelas lagi wajah Ana yang begitu mirip dengan Winda istrinya dahulu.
"kau..."
"Kau anakku? kau ana benarkah itu?!" hormon terkejut dan membelalakkan matanya.
Dia tak menyadari dan tak menyangka, akan bertemu anaknya kembali di depan rumah tua milik mamanya. Herman pun menghampiri lebih dekat Ana dan menyentuh kedua bahu anak untuk memastikan secara langsung lagi.
"kau sudah besar nak, dan sekarang kau begitu cantik seperti mamamu."
"Ke mana kau dulu? aku selalu mencarimu." ucap Herman yang seketika air matanya menggenangi.
"Sudahlah, jangan anggap lagi aku anakmu. Karena dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah menganggapmu sebagai papaku." Ana menepis kedua tangan Herman dari bahunya.
Ana benar-benar sangat membenci papanya sampai dia tidak ingin disentuh oleh kedua tangan papanya itu. Ana pun memundurkan langkah kakinya ke belakang, dia tidak ingin terlalu dekat dengan papanya.
"Namun begitu banyak kejadian di saat seseorang telah menempati rumah itu, dengan bayaran sewa yang kau janjikan."
"Aku telah bertemu Laras di sana, dia mengatakan bahwa aku harus menemuimu dan bertanya padamu secara langsung, apa yang sudah terjadi pada Laras saat ini." Ana menjelaskan semua yang dia ketahui.
"Apa katamu?!"
"Laras?!"
__ADS_1
"Dia..., dia mengatakan apa padamu?!" Herman sedikit gugup ketika Ana menyebutkan nama Laras di depannya.
Wajah Herman seketika terlihat pucat dan dia merasa gelisah, keringat dingin sedikit mengucur dari dahinya. Ana mengetahui yang secara langsung, bahwa ada sesuatu di rumah itu, pasti ada hubungannya dengan Herman papanya. Herman sangat terlihat sekali gugup, dia tidak berani menatap mata Ana yang sedang bertanya dan menunggu jawaban darinya.
"jawablah aku menunggu jawabanmu, tidakkah kau perhatikan wanita yang di dalam itu. Mereka sepasang suami istri, namun setiap malam istrinya selalu kerasukan arwah Laras dan mengganggunya." Ana menceritakan kepada Herman.
"Lalu apa hubungannya denganku? Kau bertanya seperti itu seperti, seakan kau tahu tentang cerita Laras." lalu Herman keceplosan berbicara kepada Ana.
Seketika Ana langsung mengerti, bahwa memang ada hubungannya kematian Laras dengan Herman papanya. Dia pun mempunyai rencana, agar Herman membuka mulutnya serta mengatakan yang sesungguhnya.
"Baik jika kau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku akan menghancurkan rumah itu. Dan jangan harap kau mendapatkan rumah itu saat ini." Ana sedikit mengancam kepada papanya, semua itu dia lakukan agar segera mengetahui kematian Laras dan mengapa menjadi arwah penasaran.
"Kau mengancamku?!"
"kau itu masih anak-anak dan tidak perlu mengajariku, bagaimana caranya aku harus mengurus rumah itu dan juga Laras mantan istriku." ucap Herman dengan kasar kepada Ana anaknya.
"Tuan... yang harus perlu kau ingat, bahwasanya rumah surat itu masih ada padaku. Dan pastinya rumah itu masih atas milikku. Kau berharap akan memilikinya dengan cara jahatmu, aku tidak akan tinggal diam untuk hal itu." Ana berkata tegas dengan Herman, bahwasanya dia tidak main-main dengan apa yang dia ucapkan.
Herman sedikit bergetar dan dia juga baru tersadar bahwa suratnya memang tidak ada padanya dan hak kepemilikan itu masih atas nama Ana dan juga ada saksi mata yaitu notaris mereka yang mengurus surat rumah itu.
Setelah berkata kepada Herman, Ana pun pergi dengan sepeda motornya. Dia melaju kembali untuk menuju ke toko mamanya yang lama di Simpang pertigaan jalan itu. Herman hanya terdiam dan menatap dari jauh Ana anaknya, dia tak menyangka dan tak menyadari bahwa dengan kedatangannya di Jakarta akan bertemu dengan anaknya.
Kali ini Herman menjadi sedikit ketakutan akan kebohongan, dan juga rahasia yang selama ini dia simpan. Seketika Herman pun pergi dari depan rumah itu dia pergi menuju ke rumah lama peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
Ternyata sedari tadi dari balik jendela rumah tua itu, Laras telah melihat Anna dan Herman yang berada di depan rumahnya. Dia tersenyum dan kembali menutup tirai jendela dengan sangat puas.
"Kali ini, kau juga harus ikut denganku mati dengan cara mengenaskan, atau hidupmu akan terus menderita dengan hadir di tempat ini." Laras berencana dan sudah memikirkan, apabila suatu saat Herman datang untuk menemuinya.