
Operasi Herman saat ini sudah selesai, dokter dan suster membawanya keluar dari ruangan itu.
Herman kemudian diantar ke ruang rawat inap saat ini, namun Herman belum sadar dari biusnya. Dia masih tertidur dan belum sadar untuk saat ini, jadi Laras hanya bisa menatapnya saja dan menggenggam tangannya.
Laras berkata tidak mencintainya, namun seiringnya waktu perasaan cinta itu sudah tumbuh tanpa disadarinya. Semua bisa dilihat dari perhatian Laras kepada Herman, dan langsung pergi meninggalkan Haris ketika mendengar sesuatu terjadi kepada Herman.
Laras menangis melihat keadaan Herman dengan perban penuh di wajahnya, dan bahkan ada penyanggah dilehernya saat itu. Satu malam Laras menunggu Herman di rumah sakit, sampai keesokan paginya dia baru pulang untuk melihat keadaan Aldi anaknya.
Pagi itu Laras pulang ke rumahnya, dia melihat Aldi sedang sarapan di ruang makan bersama Ana. Laras yang pulang dari rumah sakit terlihat lesu dan sedikit sedih. Dia langsung naik ke atas kamarnya untuk mencuci muka dan berganti pakaian, setelah itu duduk bersama Aldi anaknya untuk sarapan pagi.
"Di mana papa ma? Kenapa papa tidak pulang dan mama juga baru pulang."
"Mama dan papa ke mana tadi malam?"
"Aldi tidur sama mbok tadi malam, Aldi takut tidur sendirian." ucap Aldi ke Laras.
"Iya sayang, mama harus temani papa di rumah sakit. Maaf ya Aldi, Mama tidak bisa temani Aldi di rumah. Dan nanti malam juga mama harus ke rumah sakit lagi." Laras menjelaskan pada anaknya Aldi.
Aldi hanya diam saja dan menekuk wajahnya, setelah selesai sarapan Aldi pun pergi ke sekolah dengan diantar oleh art mereka mengendarai taksi. Begitu juga Ana, dia sudah pergi dari tadi.
Kini tinggal Laras di rumah sendirian, dan ada sopir pribadi di depan menjaga pos penjaga. Sopir itu sudah tersenyum bahagia melihat Laras yang selesai sarapan naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Saat Laras sedang ingin berbaring tidur istirahat sebentar, sopir itu langsung masuk ke kamar Laras tanpa peduli apapun lagi. Laras terkejut melihat dia masuk ke dalam kamar dengan beraninya, lalu Laras bertanya sambil berteriak kepadanya.
__ADS_1
"Mau apa kau di sini?!" tanya Laras dengan kasar.
Sopir itu tidak menjawab dan tidak peduli, dia hanya tersenyum sambil menutup pintu kamar Laras dan menguncinya. Saat itu juga Laras pun segera menjadi pelampiasan supir pribadinya sendiri. Setelah itu Laras tak tahu harus bagaimana, supir pribadinya sudah pergi meninggalkannya di dalam kamar.
Tak ada yang mengetahui kejadian itu, bahkan art di rumahnya juga belum pulang dari mengantar Aldi saat itu.
sopir pribadinya itu langsung pergi dari rumah Laras dan tidak bekerja lagi di sana, dia pergi begitu saja dan Laras pun tak tahu dia kemana.
Laras menangis dan panik tak Karuan, tapi dia tetap harus menyembunyikan kejadian itu. Saat ini dia harus fokus menjaga Herman dan harus bisa mendapatkan harta milik Herman dulu, setelah itu pergi bersama Aldi untuk hidup bersama dengan Haris.
Sebenarnya Aldi itu adalah anaknya Haris, bukan anak dari Herman yang seperti dia katakan kepada Herman. Laras berbohong kepada Herman, agar dia sayang kepada Laras, dan memberi harta warisan kepada Aldi anaknya.
Malam harinya Laras pergi ke rumah sakit lagi dan menunggu Herman, Laras terkejut ternyata Herman sudah sadar. Lalu Laras memutar otak untuk bisa mendapatkan harta warisan yang sudah ada di tangan Herman.
Seperti kantor yang sekarang Herman duduki merupakan kantor Herman, yang sudah diberikan oleh papanya Laras untuk suaminya itu.
Laras dan dokter bekerja sama untuk hasil pemeriksaan Herman, akhirnya karena penjelasan itu Herman pun setuju dan menandatangani berkas. Bahwasanya kantor itu sekarang sudah menjadi milik Aldi, dalam hati Laras aku senang sekali dan sudah mendapatkan aset Herman yang dia inginkan.
***
Lalu Laras memutar otak bagaimana cara untuk bisa mendapatkan rumah Winda itu. Sementara arwah Winda masih berkeliaran di antara rumah-rumahnya.
Laras kemudian menemui Harris, dan mereka berencana ingin pergi ke salah satu rumah orang pintar, untuk mengusir Winda dari rumah itu.
__ADS_1
Itupun dilakukan oleh mereka, Ana yang mengetahuinya tidak rela, kalau mereka mengusik ibunya dan juga rumah itu.
Akhirnya Ana buka suara tentang Laras, dan juga kelakuan Laras kepada Haris saat mereka malamnya berada di rumah Winda rumah peninggalan papanya.
Ana mengetahui rencana mereka dari firasat yang dia terima, makanya ana datang ke rumah Winda malam itu juga untuk menemui mereka dan juga orang pintar itu. Ana berkata kepada hari semua apa kejadian yang telah dilakukan Laras, termasuk juga pada sopir itu.
Laras terkejut dan tak percaya bahwa Anna mengetahui semuanya, dan juga menceritakan kepada hari semuanya.
Di saat seperti itu, orang pintar tersebut malah pergi meninggalkan mereka, karena menurutnya sekarang bukan waktu yang tepat.
Amarah Haris memuncak, ketika mengetahui Laras telah bersenang-senang dengan pria lain lagi. Haris akhirnya hilang akal dan Winda pun memanfaatkan akan hal itu.
Winda masuk ke tubuh Harris dan mulai melakukan balas dendamnya pada Laras malam itu. Kemarahan Winda begitu emosi dan begitu besarnya sampai Laras ketakutan melihatnya.
Saat itu Ana hanya diam saja melihat, dan dia tidak mau ikut campur tentang pembalasan mamanya kepada Laras. Yang dia lihat hanya Harris yang marah kepada Laras dan melampiaskan semuanya.
Haris mengejar Laras sampai ke lantai 2 sampai terus ke lantai atas, Laras menutup pintu kamar lalu menguncinya.
Ana setelah mengetahui semuanya itu dia pergi dan ingin meminta tolong kepada art yang ada di rumah Laras.
Ana yang menunggu taksi dari tadi di pinggir jalan tidak ada satupun yang lewat. ponsel anak tidak terbawa, Ana bingung harus bagaimana dan dia tidak tahu bagaimana mau menghubungi art yang di rumah.
Laras semakin ketakutan dan bingung, setelah dikuncinya kamar itu ternyata tiba-tiba harus ada di belakangnya. Lalu Laras kembali membuka kunci pintu kamarnya dan berlari lagi ke bawah.
__ADS_1
Karena rasa takutnya itu, Laras berlari menuruni anak tangga, dia tergelincir jatuh ke bawah. Seketika tangga itu berlumuran darah Laras yang berguling disana. Winda sangat puas melihat semua itu, dan tiba-tiba Haris tersadar dari kerasukan arwah Winda.
Dia melihat Winda bersimbah darah, dengan cepat Haris membawa Laras pergi ke rumah sakit. Haris sangat ketakutan, dia mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang, agar Laras bisa dapat penanganan dengan cepat di rumah sakit.