Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 9.


__ADS_3

5 hari kemudian...


Selama di rumah sakit, Ana selalu ditemani oleh mamanya. Herman maupun Laras tidak pernah menemaninya di rumah sakit, mereka hanya membayar suster untuk menjaganya selama di rumah sakit.


Ana selalu tidur dengan Winda di ranjang rumah sakit tersebut, selama 5 hari itu Laras sangat tidur nyenyak di rumah papanya Winda. bahkan setiap malam lara sangat senang melayani Herman di atas ranjangnya.


Pengacara Winda pernah menjenguk Ana di rumah sakit dan melihat kondisinya. Pak Santo sangat khawatir dengan kondisi anak, karena papanya selalu ingin merebut harta warisan milik Ana.


sampai saat ini mereka tidak tahu di mana keberadaan Winda sekarang, bahkan pengasuh anak sudah dibuat gila oleh Laras. Pihak rumah sakit dan polisi bekerja sama dengan Laras untuk menyuntikkan obat ke tubuh pengasuh Ana.


Agar memang jelas bahwasanya pengasuhnya lah yang sudah melenyapkan Winda saat itu. Akhirnya Laras berkata bahwasanya, dia bermimpi Winda ada di sebuah hutan di dalam mobil yang terbakar. Lalu polisi pun mencari bukti dari keberadaan Winda lewat mimpi yang dikatakan Laras tersebut.


Akhirnya kasus pembunuhan Winda pun ditutup dan yang menjadi tersangka adalah pengasuh dari Ana. Akhirnya Laras lega dengan pemberitahuan polisi tersebut, Laras menjadi puas bisa membunuh Winda dengan tangannya sendiri tanpa ada yang tahu.


****


Hari ini Ana dijemput oleh sopir pribadi Herman untuk pulang ke rumah. semenjak mamanya tidak ada di rumah, Ana yang tadinya gadis kecil periang kini menjadi gadis kecil pemurung dan pendiam.


Dia sering berbicara sendiri ketika berada di dalam kamarnya, dan Laras pernah menyaksikannya sendiri ketika saat lewat di depan kamarnya Ana.


karena Winda sering menemui anaknya ketika di malam hari saja.


Sedangkan di siang hari Winda tidak bisa menampakan dirinya.


Aldi anak Laras sering berkata kepada Laras dan bertanya tentang wanita yang selalu sering berbicara dengan Ana di kamarnya. Laras sangat terkejut mendengar apa yang Aldi tanya dan Aldi bicarakan kepadanya.


Laras jadi sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Aldi saat itu, jadi malam ini Laras ingin memastikan dan melihatnya secara langsung di balik pintu kamar Ana.

__ADS_1


Sekarang tepat jam 23.00 malam, Herman belum pulang dari kantornya. Dia sudah memberitahu bahwa akan pulang terlambat malam ini, jadi menyuruh Laras untuk tidak menunggunya pulang dari kantor.


Malam itu ketika Laras ingin naik ke lantai 2 dan menuju ke kamarnya, kemudian Laras teringat akan perkataan Aldi anaknya. Laras jadi penasaran dengan apa yang diucapkan Aldi, sehingga membuat Laras berbelok menuju ke kamarnya Ana.


"Ma kenapa hanya malam saja Mama menemaniku di kamar ini?" terdengar suara Ana dari balik pintu kamarnya.


Laras jadi penasaran, Ana berbicara pada siapa. Dia mulai mengintip dari balik lubang kunci pintu kamar Ana.


Seketika Winda menyadari akan hal itu, lalu Winda menyuruh anaknya untuk menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur di wastafel kamar milik Ana.


Ana pun menuruti apa kata mamanya, dan segera pergi ke wastafel di depan kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Laras melihat dari lubang kunci ke dalam kamar Ana, namun tak ada yang dapat dia lihat melainkan kamar kosong saja.


Tiba-tiba bulu kuduk Laras merinding di belakang rambut-rambut halus di punggungnya. Laras pun berbalik dan ingin pergi dari depan kamar anak tersebut. Ketika dia akan berbalik dan ingin pergi, Winda tepat berada di depan wajahnya dengan mata yang melotot dan wajah yang seram.


Wajah itu wajah terkena luka bakar yang penuh dengan darah, Laras berteriak karena ketakutan dan dia langsung jatuh pingsan di lantai depan pintu kamar Ana. Art yang ada di rumah itu pun langsung keluar dari kamar, karena mendengar teriakan Laras.


Herman pulang dari kantornya, dan melihat art yang bersama Laras ada di depan pintu kamar Ana. Dengan cepat Herman mengangkat Laras dan membawanya ke dalam kamar.


"Mbak tolong ambilkan minyak angin dan air minum untuk ibu ya..?!" perintah Herman ke art-nya.


"Baik tuan." kata art itu.


Herman sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi kepada Laras, dia sempat menanyakan kepada art mereka. Tetapi art itu tidak tahu apa-apa, jadi Herman menunggu Laras sadar dan baru akan menanyakannya sendiri.


Setelah beberapa menit kemudian


Laras pun sadar dari pingsannya dan Herman memberinya minum agar Merasa Segaran, dan tidak merasa pusing karena sudah terhidrasi.

__ADS_1


Lalu Herman bertanya kepada Laras, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


"Kamu kenapa belum tidur? Aku kan sudah bilang kepadamu agar tidak usah menungguku pulang malam ini." ucap Herman kepadanya.


"Mas aku...," Laras bingung menjelaskannya kepada Herman.


Karena pasti Herman tidak akan percaya dengan apa yang akan Laras katakan. Karena Laras pernah ditampar oleh Herman, ketika mengatakan bahwa Winda sekarang telah menjadi hantu dan menghantui dirinya di rumah itu.


Lalu tiba-tiba mata Laras melotot memandang ke arah belakang Herman. Laras berteriak sekuat-kuatnya dan Herman menamparnya dua kali, Herman sangat emosi dengan kelakuan Laras tersebut.


"Plak!"


"Plak!"


"Mas, dia datang lagi mas? Ada di belakangmu, itu yang membuat aku tadi pingsan mas! Wajahnya sangat menyeramkan, aku takut sekali mas..?!" Laras menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Herman semakin muak melihat tingkah Laras yang selalu ketakutan di dalam rumah itu. Jadi Herman memutuskan untuk menempatkan Laras di rumahnya yang lama untuk sementara waktu.


Karena Minggu depan Herman akan pergi dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Pasti Laras tidak akan suka ditinggal sendirian di rumah milik papanya Winda tersebut.


Herman pun mengatakan bahwa dia akan pergi dinas untuk 2 minggu ke depan. Laras langsung ingin balik ke rumahnya yang lama dan tidak mau tinggal di rumah Winda.


Akhirnya Herman pun menuruti apa kemauan Laras, dan besok pun mereka pindah ke rumah yang lama untuk kebaikan Laras.


Untuk 2 minggu ke depan Herman akan pergi ke Sulawesi untuk melihat tanah yang akan dijual oleh klien. Herman berencana akan membangun perusahaan cabangnya di sana. dan diam-diam Herman juga memiliki kekasih di Sulawesi tersebut.


Wanita itu ialah kenalan dari klien Herman yang baru saja dia kenal, tapi mereka sudah bekerja sama selama 2 bulan. Kelemahan Herman adalah wanita cantik, dia tak dapat menahan dirinya bila sudah melihat wanita cantik yang ingin bersama dengannya. Namun dia tidak waspada akan hal itu, karena Herman sudah dibutakan oleh wanita cantik yang menggoda di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2