
Keesokan harinya, Ana datang ke rumah peninggalan dari Winda mamanya. Dia menemui Hesti, orang yang sekarang menempati rumah mamanya itu. Sore itu sebelum pergi ke toko mamanya dia menyempatkan untuk mampir ke rumah itu. Ana pun melihat sekeliling rumahnya dari depan pintu pagar sampai ke depan teras rumah tersebut.
Tanpa sengaja sekelebatan, Ana melihat sosok wanita berbaju putih namun penuh dengan darah, melayang ke arah samping rumah Winda. Tapi Ana tahu bahwa itu bukanlah sosok dari mamanya, melainkan orang lain yang pernah dia lihat.
Winda mamanya Ana sudah lama tidak menjadi arwah penasaran lagi, Dia sudah pergi dengan tenang karena dendamnya sudah terbalas dengan kematiannya Laras. namun masih ada misteri di balik rumah peninggalan Winda itu, dan Ana berpikir bahwa ayahnya lah yang mengetahuinya yaitu Herman.
Namun Ana tidak mau berurusan dengan Herman, bahkan Ana sudah sangat benci dengan Herman. Rasa kebenciannya itu Herman sendiri yang menciptakan, dan menumbuhkannya di dalam hati anaknya. Bahkan Herman tidak pernah mencari, ataupun menghubungi Anna sedikitpun.
****
Ting, tong...
Hesty dari dalam rumah mendengar suara bel berbunyi sore itu, dia bergegas keluar menghampiri pintu depan rumah dan membukanya.
"Siapa ya?" tanya Hesti sembari membuka pintu rumahnya.
"Oh maaf kamu siapa?"tanya Hesti yang sedang memperhatikan anak berdiri di hadapannya.
"Oh kenalkan, nama saya Ana saya hanya kenal saja pemilik rumah ini."
"Ibu sekarang yang menempati rumah ini ya?" tanya Ana dengan sopan.
"Oh iya sekarang ibu yang menempati rumah ini." ucap Hesti pada Ana.
Hesty dan Anna pun berbincang-bincang berdua duduk di kursi teras depan rumah itu. Anda langsung berkata kepada Hesti maksud dan tujuannya datang ke rumah itu. Ana menjelaskan beberapa kejanggalan dari rumah itu, namun Hesti tidak percaya akan ucapan Ana.
Hesti juga tidak mau pindah dari rumah itu karena dia sudah merasa nyaman dan sangat menyukai rumah itu. Ana hanya menyampaikan dan mengingatkan akan kejadian yang pernah menimpa di rumah itu, tetapi Hesti tetap bersikeras tidak mau untuk pindah dari rumah itu.
__ADS_1
Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya ataupun pergi dan berpamitan kepada Hesti sore itu juga. Ana mengendarai motornya kembali, dan melanjutkan perjalanannya menuju toko di persimpangan jalan depan, yang tidak jauh dari rumah mamanya.
Sesungguhnya Hesti tidak ingin berkata kasar kepada Ana, dan dia juga berpikir bahwasanya apa yang dibilang Ana, pernah dialami saat tinggal di rumah itu. Tetapi dia berpikir bahwa suaminya sekarang tengah bekerja di daerah itu, dan hanya rumah yang ditempatinya sekarang lah sedikit murah harganya.
Sampai ada kejadian suatu malam, Hesty dan Romi tidur di kamar mereka. Malam itu Hesti sudah terlelap dengan mimpinya namun tidak dengan Romi dia masih bermain game dengan ponselnya.
Tiba-tiba Romi ingin buang air kecil ke kamar mandi di kamarnya. Lalu entah mengapa dia sangat merasa kehausan saat sudah selesai dari kamar mandinya, dan ingin mengambil minum. Tetapi gelas air minumnya yang biasa ada di meja kecil di dalam kamarnya sudah habis dia minum dari tadi.
Jadi mau tak mau dia harus keluar kamar untuk mengambilnya sendiri, dia juga tidak mau mengganggu Hesti yang sedang tidur terlelap dalam mimpinya. Romi pun keluar dengan masih memegang ponsel dan memperhatikan gamenya. Dia berjalan tanpa memperhatikan jalan dan matanya masih menatap ke layar ponsel miliknya.
Romi pun mengambil gelas bersih dari lemari, berjalan menuju dispenser yang ada di dekat kulkas. Gelas itu di letaknya di atas dispenser, namun dia belum menekan tombolnya. Romi masih menggunakan jaringan untuk bermain game di ponselnya.
Dan berapa menit kemudian, Romi pun tersadar bahwa dia ke dapur ingin mengambil air minum untuk dirinya. Saat Romi mengarahkan pandangannya ke arah dispenser, dan ingin menekan tombolnya, dia terkejut ternyata gelasnya sudah penuh dengan air.
Romi sedikit merasa aneh dan mencoba untuk mengingat kembali ingatannya, sebelum dia menekan tombol dispenser itu. Mencoba berapa menit untuk mengingat, Romi pun sedikit bingung gelasnya yang sudah berisi air itu.
"Mungkin saat aku tadi bermain game sudah menekan tombolnya."
"Tapi kenapa airnya bisa berhenti sendiri sebelum aku tekan lagi tombolnya lagi?"
"Apakah dispenser ini rusak?"
"Tapi Hesti tidak ada bilang apapun tentang dispenser ini." Romi mengoceh sendiri dari dapur.
Gluk, gluk, gluk...
Ah...!"
__ADS_1
"Segarnya sudah minum begini." ucap Roma merasa puas karena sudah hilang dahaganya.
Romi lanjut berjalan menuju arah kamarnya, namun dia tidak langsung ke kamar. Dia masih memainkan ponselnya saat sedang berjalan. Kini dia berhenti dan duduk di ruang tamu sendirian.
Tanpa sengaja Romi melihat seorang wanita keluar dari kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi ruang tamu, yang berada tepat di depannya sekarang. Romi mengira wanita itu adalah Hesti yang keluar dari kamar mereka tadi. Romi masih belum menyadari, karena pikirannya masih berkonsentrasi dengan game online-nya.
"Argh..., mas tolong aku mas...!" terdengar suara Hesti berteriak di dalam kamar mereka.
"Hesty!"
Romi pun terkejut dan dia langsung melompat dari atas sofa berlari menuju kamarnya. Betapa terkejutnya Romi melihat ke dalam kamarnya, dia tidak melihat ada Hesti di atas kasur mereka. Melainkan Hesty sedang berada di atas dinding melayang, seperti sebuah burung yang terbang ke sudut kamar itu.
"Hesti kamu ngapain di situ Hesti bagaimana kamu bisa naik ke sana?"
"Ayo turun kamu ngapain di situ Hesti?!" Roni berteriak memanggil istrinya namun Hesti hanya diam saja dan mengerang.
"Argh...!"
Romi memperhatikan istrinya, yang dia lihat Hesti sudah seperti orang lain, bukan seperti Hesty yang dia kenal. Romi buru-buru keluar dari kamarnya, berlari menuju arah dapur dan mengambil tangga di bagian gudang. Dia bermaksud ingin memakai tangga, untuk menurun kan istrinya yang berada di atas dinding sudut kamarnya itu.
Romi sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada istrinya. Setelah tangga sudah diraihnya, Romi segera masuk ke dalam kamar itu lagi. Tetapi Romi terkejut saat melihat Hesti sudah ada di atas ranjangnya, tertidur dengan selimut yang rapi kembali.
Romi meletakkan tangganya di lantai, lalu menghampiri Hesti yang sedang tertidur. Romi hanya ingin memastikan bahwa istrinya memang benar-benar tidur saat ini. Romi heran dengan istrinya wajahnya terlihat pucat saat tidur di atas kasur bersamanya. Romi pun mengembalikan tangga itu ke dapur, dan menemani istrinya Hesti tidur di dalam kamar.
Keesokan paginya, Romi juga melihat keanehan dari sikap Hesti, setelah kejadian tadi malam. Hesti sekarang menjadi pendiam, dengan wajahnya yang pucat, tangannya yang dingin, dan juga pandangannya yang kosong.
Romi tidak mencurigai apapun, dan hanya berpikiran kalau Hesti saat ini sedang tidak enak badan saja. Selain dari itu sikap Hesti yang aneh menurut Romi, tapi cara dia makan dan melakukan tugasnya yang lain tidak ada yang berubah.
__ADS_1