Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 28.


__ADS_3

Keesokan harinya Ana pergi membawa pengasuhnya ke rumah sakit, hari ini kedua tokonya ditutupnya untuk sementara waktu. Semua para pegawainya pun diliburkan oleh Ana, karena memang situasi sudah sangat tidak baik, Ana akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Ana dan pengasuhnya pun sudah sampai di rumah sakit, yang tidak jauh dari rumah mereka. Anna dan pengasuhnya menemui suster jaga di balik meja resepsionis, Ana mengatakan ingin membawa ibu pengasuhnya untuk segera rontgen dan mengecek keadaan paru-paru pengasuhnya.


Dokter yang menangani pengasuhnya Ibu Ana, juga sudah mengetahui kedatangan mereka. Karena sebelum pergi Ana sudah menelpon dokter yang biasa menangani pengasuhnya.


Ana sengaja merahasiakan tentang pertemuan mereka di rumah sakit oleh dokter dari pengasuhnya itu, dan Ana juga minta tolong untuk pengasuhnya dirawat inap saja di rumah sakit.


Dan dokter pun setuju, karena penyakit batuk dari pengasuhnya Ana sudah sangat kritis dan tidak wajar. Ana juga ingin untuk melakukan cek darah dari ibu pengasuhnya, sudah beberapa hari ini pengasuhnya itu sangat terlihat pucat dan bahkan bibirnya pun membiru seperti orang keracunan.


Selama ibunya Ana di rumah sakit dirawat oleh dokter, Ana diam-diam menyelidiki dan mencari tahu penyebab semua ini terjadi. Lalu siang harinya, Ana pergi ke rumah peninggalan Winda mamanya, dan menemui Hesty istri dari Romi yang sekarang menempati rumah itu.


Tiba-tiba suasana hati Hesty siang itu berubah menjadi beku dan tubuhnya terasa sangat kedinginan. Wajah Hesty juga sangat pucat, dan dia menjadi bengong di depan ponselnya yang sudah menyala untuk siaran langsung di sosial medianya.


Banyak teman di sosial medianya melihat siaran langsung Hesty, namun bukan wajah Hesty yang terlihat di sana. Wanita itu berbicara terus dan memperkenalkan dirinya sebagai Laras wanita teraniaya.


Laras mulai bercerita bagaimana kehidupannya saat itu, dan cerita itu sedikit horor disiang hari. Banyak teman-teman Hesty menanggapi cerita nyata Laras yang dia ucapkan. Namun mereka semua menganggap hanya cerita untuk kesenangan saja, seperti apa yang sering Hesty lakukan.


Setelah Laras bercerita panjang lebar, terdengar suara ketukan pintu rumah itu dari luar. Laras pun mulai kecewa dan merasa dirinya terus musik akan ketukan pintu itu. Di saat itu, ponsel masih menyala dan merekam semuanya, Laras berdiri dari duduknya dan menghampiri pintu depan rumah.


Laras membuka pintu rumah untuk melihat siapa yang sudah mengusik kesenangannya saat ini. Dengan tatapan tajam, wajah yang pucat, dan mata yang melotot, Laras sangat tidak senang dengan kedatangan Ana di hadapannya.


"Mau apa kau ke sini? Kau selalu tidak bisa membuatku senang." ujar Laras ke Ana yang tidak tahu bahwa itu dirinya.


"Maksud ibu apa ya? Bukankah kita baru dua kali bertemu, saya ke sini hanya ingin melihat keadaan ibu." ucap Ana yang sedikit heran dan curiga, akan suara yang dia dengar sekarang ini beda dari suara wanita yang pertama kali dia temui.


"Maaf Bu, ada apa dengan suara ibu?"


"Apakah ibu sedang sakit?"

__ADS_1


"Dan wajah Ibu juga terlihat pucat, seperti ada sesuatu yang Ibu alami?"


"Apakah ibu selama ini merasakan sesuatu yang membuat perasaan tidak enak?" Ana mencoba mendekatkan diri kepada Hesti dan bertanya tentang keadaan dirinya.


"Sudahlah kau tidak perlu basa-basi, ataupun berbaik hati kepadaku. Aku sangat terganggu akan kedatanganmu."


"Apakah kau sudah tidak bisa mengenal suaraku lagi Ana, anak dari Winda bekas mantan istri suamiku Herman." Laras mulai menunjukkan aslinya dan dia merubah wajah istri dengan wajahnya tetapi masih berada di dalam tubuh dan raganya Hesti.


"Kau Laras?!"


"Mengapa kau ada di dalam tubuhnya? Pantas saja aku dari tadi merasakan aura yang tidak menyenangkan, dari wanita ini." kini Anang baru menyadari bahwasanya Laras sudah menjadi arwah penasaran di rumah tua milik mamanya.


"Ya ini aku!"


"Aku yang akan membalas dendam kepada kalian semua, terutama orang yang telah menempati rumah ini, aku tidak suka dengan kebahagiaan mereka." ucap lara sembari ingin menutup pintu rumah itu agar Ana tidak dapat masuk ke dalam rumah.


Namun tiba-tiba pintu itu dihalangi oleh Ana, dan dia segera bergegas membuka pintu itu dengan paksa sekuat tenaganya, agar bisa masuk ke dalam dan menolong Hesti saat itu juga.


Hahahaha....


Hahahaha....


Ana mencari-cari tubuh Hesti yang dirasuki oleh arwah Laras, dia mendengar suara-suara tawa Laras yang bergema di dalam rumah tua itu.


Suara tawa itu sangat mengerikan, dan membuat bolu kuduk Ana merinding seketika.


Ana terus mencari-cari suara tawa itu, bahkan matanya melihat kesana kemari dan memanggil-manggil nama lara serta nama Hesti di rumah itu. Maksud hati Ana ingin menolong Hesti wanita yang dia kenal dan yang menempati rumah tua peninggalan namanya tersebut.


Hari sudah menjelang magrib, namun Ana masih menunggu Laras keluar membawa Hesti ke hadapannya. Tiba-tiba terdengar suara tertawa menggema lagi, disaat magrib terakhir lalu.

__ADS_1


"Mengapa kau ada di sini?!"


"Ini semua bukan urusanmu! Kau pergilah dari sini bila kau tidak ingin kehilangan nyawamu." ucap seorang wanita paruh baya yang ternyata sudah mengetahui rencana dari Ana.


"Aku paling tidak suka keinginanku dan juga dendamku dicampuri dengan urusanmu."


"Kalau kau ingin menolongnya datang kemari, berarti sama saja kau telah mengantarkan nyawamu kepadaku."


"Dan aku sangat senang bila ada kedua gadis menjadi tumbal rumah terkutuk ini." ternyata wanita paruh baya itu pun juga bukanlah manusia.


Wanita paruh baya itu adalah ibunya Laras, yang selama ini menguasai Laras, selama ini menunggu mangsa sepasang suami istri untuk menghisap jiwa, dari manusia yang sudah menikah dan tinggal di dalam rumah itu.


Ana baru menyadari bahwa kedua arwah itu, memang bertujuan untuk menyakiti Hesti dan Romi yang sekarang tinggal di rumah peninggalan mamanya. Laras dan Hesti belum juga menampakkan dirinya, sedangkan wanita paruh baya itu terus menghalangi Ana untuk segera pergi dari dalam rumah itu.


"Kau sepertinya tidak menyayangi pengasuhmu?!"


"Kali ini dan hari ini juga pengasuhmu akan kubunuh, akan aku ambil raganya untuk aku bisa bertahan terus berada di rumah terkutuk ini." ucap Mamanya Laras kepada Ana.


"Sudah kuduga selama ini pengasuhku sakit bukan karena ada penyakit medis, melainkan kelakuan kalian yang membuatnya seperti itu."


"Pergilah kalian dari sini, di sini bukan alam kalian lagi, segeralah kalian pulang ke tempat asal kalian berada."


"Jangan kalian sakiti suami istri yang tinggal di sini, aku akan memberitahu pada mereka dan menyuruh mereka pergi dari rumah terkutuk ini." ucap Anna dengan tegas, menjelaskan bahwa perbuatan kedua arwah itu tidaklah benar.


Namun wanita paruh baya itu tidak mendengar ucapan Anna, dia bakal menyakiti Ana dengan cara menolak tubuh anak itu. Ana terjatuh dan terpental lalu suara tawa dari Laras pun terdengar kembali di setiap sudut rumah tua itu.


Hahaha...


Hahahaha....

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2