Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 7.


__ADS_3

6 bulan kemudian...


Perut Laras sudah semakin membesar, Herman sangat senang akan hal itu. Setiap hari dia selalu mengelus perutnya Laras fan menciumnya. Dan Herman Minggu depan ingin membawa Laras USG untuk mengecek kehamilan Laras.


Herman sudah telpon dan membuat janji pada dokter kandungan itu, dan mereka akan bertemu di hari Senin.


Dia sudah tak sabar ingin tahu jenis kelamin anak yang ada di dalam kandungan Laras. Setelah tahu baru dia akan buat sesuatu saat itu juga.


Sekarang Laras semua serba pelayan yang mengerjakan, dia sendiri hanya istirahat dan melayani suaminya saja.


Sampai Laras melahirkan Herman memang tidak mengizinkan Laras istrinya bekerja di rumahnya.


****


Sedangkan Winda sekarang semua harus dia yang mengerjakannya, bahkan untuk kebutuhan hidup dia pun mencarinya sendiri. Sekarang ini Herman tak pernah memberi uang bulanannya lagi, dan dia sudah menjelaskan apa alasannya.


"Aku sudah menikah lagi dengan sekretaris ku yang di kantor, dan dia sudah hamil 6 bulan sekarang ini." ujar Herman yang tak perduli sama sekali pada perasaan istrinya itu.


"Papa, tante Laras sudah bohong ke papa." ucapnya Ana yang langsung mulut anak itu di tutup oleh Winda.


"Hah? Dari mana dia tahu nama istri ku itu Laras. Apa sebenarnya kalian sudah tahu akan hal ini?" tanya Herman yang sedikit terkejut.


"Tidak mas, mungkin dia hanya asal bicara saja." Winda menyuruh pengasuhnya membawa Ana pergi.


Herman lalu pergi dari rumah itu, karena rumah itu adalah rumah Winda. Herman sudah sangat puas memberi tahukan tentang pernikahannya.


****


4 Tahun kemudian...


Laras diam-diam datang ke rumah Winda, dan dia mulai menyiksa Winda saat itu. Tujuannya hanya ingin membunuh Winda agar Herman segera menjadi miliknya seorang.


Ana yang sedang bermain sendirian itu melihat kalau ada wanita yang menarik tubuh mamanya saat itu, dan membawanya pergi dengan mobil merah. Wanita itu memakai masker dan wajahnya tak nampak jelas sama sekali.

__ADS_1


Namun Ana melihat gelang kakinya itu ada di sebelah kanan. Ana lalu memejamkan matanya dan melihat mobil dan tubuh mamanya itu di bakar di dalam hutan yang jauh.


Ana berlari ingin mengejar wanita itu, tapi sudah tak dapat di kejar lagi. Ana menangis dan ternyata selama ini mimpi Ana memang benar terjadi, mamanya terbunuh dan terbakar.


Laras pulang kerumah sudah larut malam, dan Herman juga sudah tidur, begitu juga sama Aldi anak lelaki Laras yang sekarang sudah berusia 4 tahun. Laras ingin mandi dan bersihkan dirinya dari darah yang ada di bajunya.


Saat dia ingin masuk ke kamar mandi tiba-tiba lampunya padam sendiri. Lalu terdengar suara teriakkan Winda sangat jelas di telinganya.


"Argh...!"


Laras menutupi telinganya, dan tersudut di balik dinding. Dia ketakutan dan menjerit sampai Herman terbangun dari tidurnya.


"Ada apa dengan mu Laras?" tanya Herman yang sangat marah.


"Ada kecoak tadi mas, aku terkejut dan dia terbang ke arah ku." ucap Laras terbata-bata.


"Kau sudah mengganggu ku saja, dan dari mana kau tadi sebenarnya?!" Herman menggenggam lengannya Laras dengan kuat.


"Aku tadi keluar dengan teman-teman mas, dan kemalaman karena mereka mengajak party sebab teman ku sedang ultah." Laras menjelaskan.


Herman pun pergi dan segera tidur kembali, Laras cepat-cepat mandi dan segera ikut tidur bersama Herman malam itu. Dia sangat ketakutan karena di bayangi oleh Winda yang sudah dia bakar di dalam mobil merah milik dirinya yang dibelikan oleh Haris.


****


Ana dan Pengasuhnya tinggal di rumah itu berdua saja, Ana menceritakan kejadian itu kepada pengasuhnya dan dia mulai mengerti.


Lalu pengasuhnya berkata dan berpesan pada Ana untuk tetap hidup apa pun yang terjadi. Karena kehidupannya di masa akan datang akan lebih sangat sulit lagi.


Ana yang berusia 7 tahun itu pun mengerti akan perkataan pengasuhnya. Dan beberapa hari kemudian Herman pulang ke rumahnya dan mencari istrinya Winda, namun pengasuh Ana tidak mengetahuinya.


Herman jadi panik dan mencarinya dimana-mana, sampai melapor ke polisi, Ana yang masih di sekolahnya pun tak tahu papanya datang ke rumah pagi itu. Herman pulang ke rumah dan menceritakan hal itu kepada Laras. Seketika Laras mendapatkan ide dan menghasut Herman untuk memenjarakan pengasuh Ana, Laras mulai berkata segala macam agar Herman termakan ucapannya.


Dan itu pun terjadi, lalu Herman menelpon polisi dan berkata untuk membawa ke kantor polisi pengasuh dari anaknya itu.

__ADS_1


"Pak, saya mencurigai pengasuh itu. Coba bapak interogasi dia sampai dia mengakuinya dan penjarakan dia segera."


"Karena hanya ada dia dirumah bersama istri dan anak saya. Sedangkan saya sangat jarang dirumah, jadi tak mungkin dia tak tahu akan kemana istri saya."


"Dan bapak bisa lihat sendiri ada sobekan dan darah di kain itu, dan itu adalah baju istri saya."


"Saya mohon pada bapak polisi saat ini, karena bila dibiarkan nyawa anak saya jadi terancam saat ini bila dia masih berada disana pak." ucap Herman panjang pada polisi tersebut.


Akhirnya polisi pun setuju dan membawa pengasuh Ana ke kantor polisi. Sedangkan Ana di jemput oleh Herman di sekolahnya, lalu membawa pulang ke rumah peninggalan papanya Winda.


Ana sampai di rumah, dilihatnya ada Laras dan Aldi dirumah mamanya. Dia terdiam dan berpikir, kenapa papanya membawa wanita itu ke rumah mamanya.


Dan ada seorang anak laki-laki yang berusia 5 tahun dirumahnya.


"Sini sayang.., kenalkan dulu ini tante Laras istrinya papa. Dan itu berarti mama kamu juga, mulai hari ini mereka akan tinggal di rumah ini." ucap Herman ke Ana.


Ana hanya diam saja dan malah berlari ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Disana Ana mengunci pintu kamarnya, dan menangis karena merindukan mamanya.


"Mama Winda.., dimana kamu sekarang. Kenapa meninggalkan Ana dengan papa yang sebenarnya tidak menginginkan Ana dari dulu ma..?!" kata Ana sendirian di dalam kamarnya.


"Ana...?" suara yang lembut seorang wanita persis seperti suara mamanya.


"Mama?!"


"Itu mama?" ucap Ana.


"Iya sayang ini mama, kamu jangan menangis. Mama gak kemana-mana sayang. Mama masih ada menjaga mu sampai saat ini, dan mereka tidak akan bisa menyakiti mu." ucap arwah Winda.


Ana sangat senang bisa melihat mamanya lagi, tapi sekarang mamanya sedikit berbeda. Tapi Ana tak menghiraukan akan hal itu yang terpenting baginya mamanya ada bersamanya saat ini.


Winda membelai rambut dan kepala Ana, sampai dia tertidur di dalam kamarnya. Winda menjadi arwah penasaran karena kematiannya yang membuatnya seperti ini. Kali ini dia akan datang untuk membalas dendam dan menjaga anaknya serta rumah peninggalan papanya. Memang dari dulu Herman selalu ingin mendapatkan rumah antik kuno yang bila di jual sangat mahal harganya.


Laras sangat licik dan dia juga ingin mendapatkan semua aset dari Herman dengan memanfaatkan anaknya. Herman sekarang sangat bahagia karena anaknya Laras ternyata lelaki dan bisa mewarisi aset milik Herman yang ternyata padahal itu semua adalah milik Ana anak dari Winda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2