
Herman yang berada di rumah orang tuanya, sedang berpikir keras bagaimana caranya agar anak tidak menghancurkan rumah itu. Herman takut rahasianya yang berada di dalam rumah itu, diketahui oleh anaknya. Herman akhirnya berpikir keras mencari rencana bagaimana untuk mengatasi Ana saat ini.
diam-diam setiap hari Herman mengikuti Ana dan memantau bagaimana gerak-gerik Ana setiap harinya. Dia ingin Ana tidak membongkar rumah itu dan terjadi sesuatu kepada dirinya. Kali ini Herman sangat bingung dan sempat terbesit dalam hatinya, untuk menghabisi Ana dan melakukannya seperti yang dia lakukan kepada Laras.
Usaha sedang berkembang pesat dan sekarang, sudah memiliki lima cabang di luar kota. Ana sekarang hanya berfokus kepada usaha milik mamanya, yang ingin menjadi seorang pengusaha mandiri seperti mamanya dahulu. Sedangkan rencana ingin membongkar rumah itu tidak pernah ingin dia lakukan, namun perkataan yang pernah dialontarkan hanya untuk menggertak Herman papanya.
Tetapi dari perkataannya Anna kepada Herman telah membuatnya dalam bahaya besar. Dulu Herman sudah dibutakan oleh harta, dan sekarang dia dibutuhkan oleh kejahatan, dan juga rahasia yang dia simpan selama ini.
kejahatan yang dia lakukan kini menjadi Momo di dalam dirinya sendiri. Kali ini Herman setiap hari hanya dibayang-bayangi oleh ketakutannya sendiri. Kekayaan serta hidup kebahagiaan yang sekarang dia dapatkan, tidak dapat dinikmatinya dengan adanya rahasia kejahatan yang sedang dia sembunyikan.
****
Malam itu Romi pulang dari kantor sangat terlambat, dan dia sudah memberitahu kepada istrinya untuk tidak menunggu saat dia pulang nanti malam. Namun di saat jam dinding menunjukkan pukul 21.00 malam, ada sesuatu kejadian aneh yang dialami Hesti di rumah itu untuk sekian kalinya.
Tok tok tok tok....
Suara pintu belakang terdengar dari kamar Hesty, hestipun terdiam kan bingung berpikir bahwa ada seseorang di belakang rumah. Dia sedikit ketakutan karena tidak ada Romi di rumah itu, Hesti tidak berani untuk keluar dari dalam kamarnya dan melihat keadaan di dapur.
Namun dia tetap berpikir positif, bahwa itu pasti Laras yang sedang membersihkan rumahnya malam ini.
Tok tok tok tok tok....
Bagh!
Bugh!
Bagh!
Suara itu terdengar lebih keras dari pertama yang dia dengar. Hesti semakin penasaran dan ingin keluar kamar untuk melihat serta memastikan bahwasannya itu Laras yang sedang membersihkan rumahnya.
ceklek...
__ADS_1
Hesty coba memberanikan diri keluar dari kamarnya, dan berjalan melewati ruang tamu. Dia ingin memastikan bahwasannya itu bukanlah maling atau siapapun selain Laras.
Hesti menyusuri jalan di dalam rumah, dia berjalan menuju ke arah dapur dan ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
"Laras kaukah itu? Kenapa di belakang sangat berisik sekali, kau sedang apa disana?" Hesti memanggil Laras dan mencari tahu apa yang sedang dilakukan di sana.
Namun Hesti tidak mendapat jawaban, ataupun suara dari Laras yang menjawab pertanyaannya. Hesti semakin berjalan kembali sampai ke arah dapur belakang dekat gudang yang selama ini tidak boleh dibuka. Setelah sampai di sana, Hesti mendengar ketuk-ketukan yang semakin jelas dari dalam gudang itu.
Tok tok tok...
Tok tok tok...
Suara itu semakin jelas dan semakin keras didengarnya, telinga Hesti sampai di lengketkannya di daun pintu gudang itu. Hesti semakin yakin suara itu berasal dari dalam gudang, namun seketika bulu kuduk Hesty merinding dan dia menggigil seketika.
"Laras kau kah itu di dalam?"
"Sedang apa kau di sana? bukankah nenekmu sudah melarang untuk tidak membuka dan masuk ke dalam gudang ini?!" Hesti tulus berbicara kepada Laras, yang menurutnya wanita itu ada di sana.
Suara itu terhenti dan tidak ada terdengar lagi, Hesty masih melengketkan telinganya dan mencari tahu keadaan di dalam gudang itu. Setelah dirasa tidak ada lagi suara-suara dari gudang itu, Hesty membalikkan badannya dan begitu terkejutnya dia, melihat Laras berada di belakangnya dengan tatapan marah dan wajahnya yang pucat.
Agrh...!
"Mau apa kamu Laras?! kenapa kamu mengejarku dengan tatapanmu yang marah seperti itu, aku tidak ada mengganggumu." ucap Hesti yang mencoba bangkit dari jatuhnya.
Laras mulai menunjukkan aslinya, dia terbang melayang mendekati Hesti, sambil tangannya ingin menggapai tubuh Hesti. Hesty lari ketakutan, lalu dia membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali tak lupa menguncinya dengan cepat. Hesti mencari ponselnya dan mencoba menggunakan nomor kontak Romi yang ada di sana.
Tut...
Tut...
Hesti menelpon Romi namun Romi belum juga mengangkat telepon dari Hesti.
__ADS_1
Tut...
Tut...
Tut...
"Ayo mas Romi, diangkat ponselnya. Aku sangat ketakutan kau di mana." Ucup Hesty dalam hatinya yang semakin ketakutan karena rohmu tidak mengangkat ponsel.
Hesty masih terus menelpon Romi dan dia sangat kebingungan tidak tahu mau berbuat apa. lalu ponsel itu pun diangkat oleh Romi dan terdengar suara Romi ditengah Hesti dari seberang sana.
"Ya halo sayang... kenapa kau sudah merindukanku?" Romi bergurau dan bercanda menanggapi telepon dari Hesti.
"Mas tolong aku mas, aku ketakutan. Laras menjadi gila, dan dia berubah menjadi arwah penasaran." ucap Hesti secara tiba-tiba kepada Romi.
"Apa maksudmu Hesti? Aku tidak mengerti, coba kau jelaskan dan berkatalah dengan perlahan." Romi malah berkata demikian kepada Hesti.
tok tok tok....
Suara ketukan itu terdengar dari luar pintu kamar Hesty. suara itu semakin kencang dan membuat Hesti ketakutan dia tidak bisa banyak bicara lagi pada Romi suaminya.
Agrh...!
"Mas tolonglah aku, mas aku sangat ketakutan dan dia ingin membunuhku tolong...!" tiba-tiba suara Hesti menghilang dari ponsel itu, ponselnya mati tiba-tiba.
Romi yang mendengar teriakan Hesti pun menjadi panik, walau tak mengerti, namun yang dia tahu sekarang istrinya dalam bahaya di dalam rumah itu. Romi pun segera mencari cara bagaimana agar Hesti dapat ditolong, namun dirinya tidak dapat meninggalkan pekerjaan atau pergi dari meja kerjanya.
Walaupun Romi meninggalkan tempat kerjanya dan segera pulang ke rumah, pasti Hesti tidak akan sempat tertolong menurut Romi. Jadi Romi segera menelpon temannya yang sudah pulang duluan, dan melintasi persimpangan 3 di dekat rumahnya itu.
"Hai farel, Apakah kau sudah melewati Simpang tiga rumahku?" tanya Romi dengan cepat.
"Sebentar lagi aku akan melewatinya, ada apa Romi dan kenapa kau seperti orang kepanikan?" tanya farel.
__ADS_1
"farel tolonglah kau ke rumahku, dari persimpangan itu kau belok kiri, lalu empat rumah dari depan itu adalah rumahku. Dengan halaman yang besar dan juga rumah yang besar, istriku dalam bahaya. Segeralah Kau tolong, sebentar lagi aku akan ke sana."
"Saat ini dia sedang dalam bahaya. Dia berkata ada yang ingin membunuhnya di rumah itu." farel kumbang hati dan segera pergi ke arah rumah Romi.