
Ana dan pengasuhnya...
Ana sekarang tidak mau tinggal di rumah Winda, ataupun mempermasalahkan rumah itu. Ana hanya ingin meneruskan usaha Winda bisnisnya dalam penjualan barang-barang.
Sekarang bisnis itu dikelola oleh Anna dan pengusungnya, yang semakin hari semakin besar dan semakin berkembang. Ana sekarang sudah kuliah di universitas terkenal, kalau pagi yang menjalankan bisnis itu adalah pengasuhnya, dan ketika Ana sudah pulang, Ana yang melanjutkannya hingga malam.
Herman pernah mencari tahu tentang bagaimana keadaan anak-anak kandung yang sebenarnya. Kali ini dia hanya memikirkan uang bisnis dan juga wanita. Sementara rumah warisan papa dari Winda itu, diserahkannya kepada salah satu pembantu pelayannya, yang dulu pernah bekerja di rumah Laras.
Pelayan itu hanya membersihkan rumah, dan menjaganya namun tidak tinggal di situ.
Ada yang menempati...
saat itu ada sepasang suami dan istri yang baru saja menikah, namun belum sempat untuk mereka menghabiskan waktu berdua. Karena suaminya harus pindah tugas ke daerah, yang memang mengharuskan istrinya pun juga ikut.
Sampai di Jakarta, mereka mencari tempat penginapan yang sedikit murah,namun belum dapat juga.
Jadi terpaksa mereka harus tinggal di apartemen dahulu, untuk sementara waktu. Di saat suaminya Romi pergi bekerja, istrinya yang bernama Hesti itu turun ke bawah untuk membeli sesuatu keperluan di apartemennya.
Lalu tanpa sengaja dia melihat papan yang ada kertas melekat, memberitahukan bahwasannya ada penginapan murah. saat itu Hesti melihat dan membaca tulisan yang ada di kertas itu. Dia terlihat sangat tertarik dengan penginapan murah tersebut.
Dilihatnya ada seorang wanita paruh baya di dekat dirinya, meskipun bertanya padanya tentang penginapan itu dan di mana lokasinya.
Wanita paruh baya itu pun menceritakan, bahwasanya lokasinya tidak jauh dari apartemen yang sekarang Hesti tinggal. Mereka hanya cukup membayar satu tahun 10 juta saja.
Hesti pun mulai tertarik dengan apa yang dikatakan wanita paruh baya itu, namun dia tetap harus bertanya dulu pada suaminya baru bisa mengambil keputusan. Setelah itu Hesti berjanji, besok akan bertemu lagi dengan wanita itu, tepat di tempat mereka sekarang berbicara.
Hesti pun melanjutkan perjalanannya, untuk menuju ke minimarket di dekat apartemennya. Dan wanita paruh baya itu pun sudah tidak nampak lagi, saat Hesti kembali dari minimarket tersebut menuju ke apartemennya.
Malam harinya...
__ADS_1
Suami Hesti telah pulang dari kerjanya, dia merasa kelelahan dan beristirahat sejenak, di sofa ruang tv mereka. Sementara Hesti masih menyiapkan makan malam untuk mereka makan berdua.
"Kamu apa tidak mandi dulu mas? Aku sudah menyiapkan makan malam kita." ujar Hesti pada suaminya Romi.
"Baiklah sayang, aku akan mandi dulu biar aku sedikit lebih segar."
"Hari ini aku sungguh kelelahan, dan begitu banyak pekerjaan yang sudah menumpuk di kantor itu." ucap Rumi yang berjalan menuju kamarnya untuk mandi.
"Kasihan mas Romi, katanya terlalu jauh pergi dari sini."
"Mana tahu rumah itu lebih dekat dengan kantornya, jadi tidak terlalu capek di perjalanan." dalam hati Hesty.
Beberapa menit kemudian Romi pun keluar dari kamarnya, dan menghampiri Hesty yang sudah menunggu di meja makan. Romi terlihat segar dan sedikit bersemangat, dia juga tersenyum melihat menu makan malamnya hari ini.
"Wah, menu makan malamnya kesukaan mas ya?"
Hesti tersenyum dan merasa senang, karena suaminya telah bersemangat kembali, tidak seperti baru pulang tadi. Hesti juga senang ternyata Romi menyukai menu makan malam hari ini.
"Emang banyak banget tadi yang mas pekerjaannya di kantor?" tanya Hesti dengan penuh perhatian.
"iya pekerja yang lama sudah tidak masuk-masuk jadi berkasnya menumpuk semua sedangkan berkas-berkas itu harus cepat diselesaikan mau diserahkan ke kantor pusat." ujar Romi dengan mulut penuhnya, berkata kepada Hesti istrinya.
Uhuk!"
Uhuk!"
Romi tersedak Dan Dia batuk, karena makannya terlalu cepat dan terlalu bersemangat. Hesty menuangkan air agar suaminya meminum air tersebut, untuk mengurangi rasa tersedaknya di tenggorokan.
"Makannya pelan-pelan dong mas, lihat tuh kan jadi batuk." ucap Hesti yang sedikit menekan di bagian punggung Romi.
__ADS_1
"Iya habis enak banget masakannya. Dan mas tuh, dari tadi sudah laper sekali." Romi tersenyum malu mengatakan hal itu di depan Hesti istrinya.
Hesti teringat akan brosur, yang tadi siang dia baca di bawah apartemen mereka. Lalu dia menceritakan ke Romi suaminya, bahwasanya penginapan yang lebih dekat dari kantornya. Hesti juga mengatakan bahwa harganya lebih murah, kalau dipikir-pikir di kota besar seperti Jakarta ini.
Romi pun tertarik, dan ingin melihat rumah itu. Namun Romi mengatakan ke Hesti bahwasanya, mereka bisa melihat rumah itu di saat Romi sedang libur. Jadi keesokan harinya Hesti bertemu dengan wanita paruh baya itu, dan berjanji akan melihat rumah itu di waktu weekend nanti.
Wanita paruh baya itu pun mengerti dan meminta nomor ponselnya Hesti untuk berjanji pukul berapa mereka akan bertemu. Saat itu Hesti pun memberikan nomor ponselnya, tanpa ragu dan tanpa memikirkan apapun.
Padahal mereka belum sampai sebulan tinggal di apartemen itu, tapi Romi sudah mengeluh terlalu banyak pengeluaran untuk apartemen itu.
Bayarannya terlalu tinggi dan pengeluaran untuk mengisi minyak mobilnya juga terlalu banyak, jadi mereka terlalu boros untuk tinggal di situ.
Sementara Romi hanya seorang pegawai di perusahaan yang tidak terlalu besar. Sedangkan dia juga berencana ingin menabung uangnya agar bisa membeli dan memiliki rumahnya sendiri.
Sementara Hesti tidak bekerja di luar rumah, dia hanya memiliki barang-barang untuk dijualnya ke online di saat dia belum menikah.
namun untuk saat ini dia belum aktif kembali untuk berjualan online dari ponselnya.
Weekend day...
Romi dan Hesti pun pergi, ke tempat alamat yang diberitahu oleh wanita paruh baya itu melalui ponselnya. Mereka pergi mengendarai mobil, dan menuju ke alamat yang dituju.
Sampai di sana wanita paruh baya itu ada di depan rumah tersebut.
Mereka pun tidak sulit untuk mencari lokasi rumah itu, Hesti juga suka dengan lokasi rumah itu yang sedikit teduh dan sejuk. Bahkan jauh dari keramaian kota, Romi dan Hesti tidak percaya melihat rumah itu yang begitu besar, namun harganya begitu murah bila di daerah kota besar seperti Jakarta.
Ternyata rumah itu cocok dengan Hesti, dan Romi pun suka melihatnya. akhirnya mereka berdua pun sepakat akan mengambil rumah itu untuk ditempati. Romi pun menjabat tangan wanita paruh baya itu, yang menandakan bahwasannya, dia setuju untuk mengambil rumah itu.
Romi pun berjanji akan mentransfer uangnya bulan depan, di saat dia sudah gajian. Hesti dan Romi akan menempatinya, saat uang itu sudah mereka transfer. Wanita paruh baya itu pun berkata, akan merapikan dan membersihkan rumah itu sebelum mereka tempati. Agar mereka lebih nyaman nanti untuk menempatinya.
__ADS_1