
keesokan harinya tepat di hari weekend Ana menghubungi Hesti dan Romi di rumah sewa yang Ana berikan. Ana mencoba untuk meminta alamat Farel kepada mereka berdua dan juga ingin berkunjung ke rumah Farel bersama mereka.
Ana merasa cembung bila menemui Farel sendirian apalagi dia seorang gadis yang harus datang ke rumah pria di saat pria itu masih belum ada ikatan dengannya. Ana mencoba menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Farel saat di rumahnya, dan memberitahu bahwa maksud kedatangannya untuk menjenguk dan memastikan kondisi luka Farel saat ini.
Hesti dan Romi pun setuju mereka juga sedikit terkejut mendengar tentang kabar keadaan Farel dari Ana. Akhirnya mereka bertiga pun pergi dengan mobil Romi saat itu, Ana sudah menyiapkan buah tangan sekeranjang buah-buahan roti plus susu yang ada di dalam kantung tasnya.
Serta tak lupa Ana membawa beberapa obat untuk diminum oleh Farel di rumahnya. di dalam perjalanan Anda memperhatikan di sekeliling luar mobil tersebut ia juga menghafal jalan menuju rumah Farel agar nanti angin dapat pergi sendiri untuk mengantarkan makanan ataupun obat-obatan ke rumah Farel sendiri.
Hesti selalu duduk di depan dan Ana duduk di belakang sederet dengan kursi Hesty, Ana dengan santai membawa tas kecil bersamanya dan menikmati perjalanan itu bersama mereka.
Sepanjang perjalanan Ana terus mengingat tentang perkataan Farel yang menyatakan perasaannya malam itu. Namun kali ini Ana belum begitu yakin akan rasa yang ada di dalam hatinya, serta perhatian yang sekarang diberikannya kepada Farel.
Ana masih membutuhkan beberapa waktu untuk meyakinkan dirinya saat ini, namun Ana ingin Farel menunggu akan kata-kata itu keluar dari bibirnya sendiri. Tadi malam Ana sempat mengirim sebuah pesan kepada Farel lewat ponselnya, Ana mengatakan kepada Farel untuk menunggu beberapa waktu dan masih memberikan hati dan perhatiannya kepada Ana.
Ana juga mengatakan bahwa dia ingin benar-benar merasakan perasaan itu bukan hanya sekedar, melainkan perasaan yang tulus benar-benar ingin bersama Farel selamanya. Farel pun mengerti dan dia sudah membaca pesan itu, akan tetapi Farel tidak membalasnya melainkan hanya membaca dan menutupnya kembali.
Itu yang membuat Ana menjadi bimbang dan ragu dengan rasa penasaran, hari ini Ana bersama Hesti dan Romi pergi ke rumahnya. Jantung Ana begitu kencang berdetak saat dalam perjalanan menuju rumah Farel. Bahkan dia hampir kehilangan nafas, karena jantungnya dan paru-parunya berpacu dengan sangat tidak normal.
__ADS_1
Baru kali ini Ana merasakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, dengan kecuekan Farel membuat Ana bingung dan merasa, apakah dirinya terlalu bersalah dan tidak memahami niat baik pernyataan rasa dari Farel.
****
Mobil Romi berhenti di depan rumah...
rumah minimalis bercat kan putih berpagar hitam dengan taman kecil yang begitu asri rumah itu begitu manis terlihat tidak banyak ornamen-ornamen namun terlihat sejuk dipandang dari luar.
Tin, tin...!
Romi menyembunyikan klakson mobilnya seorang wanita paruh baya keluar membuka pagar dengan cepat. wanita itu mempersilahkan mereka masuk dan bertanya keperluan mereka datang ke rumah.
Wanita paruh baya itu pun menanyakan minuman apa yang ingin kami minum dan menyuruh kami untuk menunggu sebentar, karena Farel ternyata masih tidur. Hesti Romi dan Ana pun tidak mempermasalahkannya bahkan mereka dengan asyik duduk menunggu di ruang tamu Farel yang begitu estetik.
Minuman sudah tersajikan, makanan ringan juga ada, Anna yang beberapa menit menunggu di dalam, kini keluar menuju taman depan yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah ayunan yang bermuatan 2 orang anak pun naik lalu bermain di sana. Tak beberapa lama Farel pun turun, setelah membersihkan dirinya mandi dan berganti pakaian.
Hati Ana dan juga jantungnya kini mulai tidak normal, dia merasa serba salah dan seperti ingin pulang secara diam-diam dari rumah itu. tapi dia sangat ingin mengetahui keadaan Farel yang sudah menolongnya malam itu. Farel yang datang menghampiri Hesti dan Romi di ruang tamu, dan menanyakan perihal mereka datang ke rumahnya.
__ADS_1
Hesti menjelaskan seperti apa yang dikatakan oleh Ana, tiba-tiba pandangan Farel terpaku pada gelas minuman yang berada di atas meja. Seharusnya gelas itu hanya ada tiga, tetapi di atas meja kelas itu ada 4 gelas di sana. Hesti mengatakan mereka datang bertiga bersama Ana, Farel langsung terkejut dan bertanya keberadaan Ana sekarang.
Romi pun menunjukkan Di mana keberadaan Ana saat ini, terlihat dari jendela di dalam ruang tamu ana sedang duduk di taman bermain ayunan di sana. Farel pun menjadi salah tingkah namun dia tetap menemui Ana di sana. Farel melihat gadis itu tengah asik bermain ayunan tanpa menyadari kedatangan Farel tepat berada di sampingnya.
Farel langsung duduk ikut bermain ayunan bersama Ana, Ana pun menjadi salah tingkah dan jantungnya bertambah cepat berdebar ketika menyadari Farel sudah berada di sampingnya.
Hesti dan Romi yang melihat mereka mulai mengerti dan menyadari bahwa mereka berdua mempunyai perasaan yang sama, mereka berdua pun tersenyum dan merasa bahagia bila teman mereka benar-benar mempunyai rasa yang sama yaitu saling mencintai.
Lalu Romi dan Hesti berbisik-bisik di dalam ruang tamu tersebut, Romi mempunyai rencana untuk ikut mendukung mereka berdua. Hesti dan Rumi pun akan ikut andil dalam misi pendekatan mereka berdua, mereka sangat antusias melihat kedua teman mereka akan bersama.
"Mas Farel bagaimana keadaannya apakah masih sakit?"
"Bagaimana kalau lebih baik kita masuk ke dalam saja di sini tidak baik mas Farel harus banyak beristirahat." ucap Ana pernah perhatian kepada Farel.
Walau dalam hatinya dia memendam rasa dan detak jantungnya begitu kencang, bibirnya tak dapat berbicara, namun yang memaksakan diri untuk dapat berbicara kepada Farel. Ana pun berdiri dan beranjak dari ayunan tersebut untuk masuk ke dalam rumah, langkahnya diiringi oleh Farel yang ikut juga masuk ke dalam rumah.
kini mereka berempat berbincang-bincang dan bertanya tentang keadaan Farel saat ini, Farel juga kembali membahas tentang kejadian di rumah Ana dan tentang lampu antik peninggalan keluarga Ana.
__ADS_1
Tak lupa Ana menyerahkan beberapa barang bawaan yang ia bawa khusus untuk Farel hari itu. Dalam hati Farel ia sangat senang bahkan ingin meledak rasanya, sangking bahagianya dan berbunga-bunganya hati Farel saat itu diperhatikan oleh Ana. Sampai malamnya Farel pun terus membayangkan wajah Ana, yang tersipu malu dan memerah saat tersadar Farel berada di sampingnya dan naik ayunan bersamanya tadi siang.