
Ana menangis di sana dan sambil memeluk sebuah bingkai foto mamanya, kamar itu sudah lama di kunci dan tidak ada yang menempati. Dan rumah itu membuat Ana merasa rindu kembali kepada mamanya, banyak kenangan yang masih tertinggal di kamar itu. Ana masih ingat akan kenangan masa kecilnya dengan Winda, Ana melihat sekeliling kamar mamanya yang tidak ada perubahan sedikitpun.
Bahkan dia membuka lemari dan masih tersusun rapi baju-baju mamanya, yang sudah tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun. Lalu tak beberapa lama kemudian, Ana keluar dari kamar itu dan dia membawa satu bingkai foto kecil, yang di dalamnya ada foto dirinya dan Winda di sana.
Farel yang mengetahui gerak-gerik Anna yang akan keluar dari kamar itu, dia segera pergi bersembunyi di balik lorong sebelah kamar entah milik siapa. Dalam hati Farel penuh dengan pertanyaan dan juga teka-teki tentang Ana, gadis yang dia sukai. Farel dengan perlahan tetap terus mencari tahu akan diri Ana agar dia tidak merasa penasaran.
***
Sementara para polisi itu masih terus mencari di dalam gudang, untuk membuktikan perkataan Hesti dan juga, membuat Herman mendapat ganjaran atas semua perbuatannya.
Guk!
Guk!
Guk!
Terdengar dari kejauhan suara anjing yang menggonggong, suara itu semakin dekat dan terlihatlah hewan itu, sedang dipegang oleh kedua polisi. Ternyata kedua polisi datang membawa dua ekor anjing pelacak milik mereka untuk melacak di mana adanya mayat Laras disembunyikan. Herman yang dari tadi diintrogasi oleh polisi-polisi itu, tidak mengakui dan bahkan tetap bersih kukuh bahwa dia tidak melakukan apapun kepada Laras.
__ADS_1
Kedua anjing itu menggonggong dan terus mengendus di sekitar gudang tersebut. Para polisi itu memegang tali dan mengikuti ke mana anjing itu pergi mencari mayat yang dituju. Setelah beberapa menit kemudian, anjing yang satu menggonggong begitu keras dan bahkan dia mencakar-cakar sebuah dinding, memberi tanda bahwa ada sesuatu di balik dinding itu.
Anjing yang satunya pun ikut menggonggong dan begitu agresif bergerak ke sana kemari, memberitahu kepada para polisi itu bahwa mereka harus menghancurkan tembok yang anjing itu curigai. Dengan cepat kedua polisi itu segera mengambil alat-alat untuk menghancurkan tembok tersebut.
Ana memajangkan matanya dan melihat dalam kegelapan, bahwa di dalam gudang tersebut bukan hanya ada satu mayat, melainkan ada dua mayat yang disembunyikan di dalamnya. Para polisi menelpon ambulans serta tim forensik untuk segera melihat keadaan mayat yang mereka temukan.
Sebuah sudut dinding di dalam gudang, ada sebuah ruang yang sengaja dibuat. Lalu ditutup kembali dengan semen yang tebal, agar tidak tercium aroma mayat itu dari luar. Mereka semua mencoba memecah dinding tersebut dan mengeluarkan mayat yang ada di sana. Setelah itu, anjing yang satunya lagi menggonggong di sebelah sudut lantai, di mana ada sebuah peti yang begitu besar menimpa lantai yang terdapat mayat di sana.
Terdengar suara sirine ambulans dari kejauhan, yang menandakan bahwa tim dokter dan tim forensik telah sampai di kediaman rumah itu. mereka dengan sigap mengeluarkan beberapa kantong mayat untuk segera memasukkan mayat tersebut ke dalam kantung yang mereka bawa.
Setelah itu mayat-mayat tersebut akan mereka bawa ke rumah sakit, untuk segera di otopsi dan dicari tahu penyebab kematian, serta mayat tersebut akan di identifikasi oleh mereka. Sehingga pembuktian tersebut dapat membantu pihak polisi untuk menjatuhkan hukuman kepada Herman.
"Mengapa semua ini harus terjadi pada keluarga ku, Mama sudah pergi hanya ada ayah di dunia ini, tetapi ayah tidak dapat aku raih, bahkan sekali pun hatinya untuk ku miliki." gumam Ana dalam hatinya.
Hesti sudah mengerti dan paham akan perasaan anak saat ini Karena dia sudah mengetahui cerita rumah tua yang pernah disewa oleh Hesti dan Romi. Ana mencoba untuk tegar dan tidak menangis, dia hanya menutup matanya dan memeluk tubuh Hesti lalu menata kembali perasaannya agar air matanya tidak jatuh ke pipi.
Hari ini benar-benar perasaan Ana sangat hancur, dia mengingat masa lalunya dan juga meningkat kembali perlakuan papanya, kepada mama dan juga dirinya. Akhirnya Herman pun di bawa dengan menggunakan mobil polisi, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini.
__ADS_1
Kantung-kantung jenazah itu pun dibawa dengan menggunakan ambulan s begitu juga dengan barang bukti barang bukti yang ditemukan di dalam gudang tersebut. Semuanya telah pergi, tinggallah Romi, Hesti, Ana dan Farel di rumah itu. Polisi juga menyuruh Ana dan Hesti untuk datang ke kantor polisi keesokan harinya, polisi ingin mereka berdua menjadi saksi dan sekaligus narasumber untuk wawancara di kantor mereka.
Setelah kejadian itu, arwah Laras dan ibunya menghilang tidak menampakkan diri lagi, terakhir kalinya Ana melihat arwah Laras tersenyum dan pergi dengan begitu saja. Setelah kejadian itu mereka semua pun pulang ke rumah, Romi dan Hesti masih tinggal di rumah Ana. Mereka belum menemukan rumah yang tepat untuk mereka tinggali.
Sedangkan Farel tidak ikut bersama mereka, dia lebih memilih untuk kembali ke rumahnya, karena dia tidak ingin mengganggu anak karena sudah sangat kelelahan. Farel berencana akan menemui Ana dan bertanya apa yang terjadi keesokan harinya.
***
Keesokan harinya saat di kantor polisi
Anna dan Hesti memenuhi panggilan polisi, mereka akan menjadi saksi dan juga narasumber untuk diwawancarai oleh polisi di sana. Sejak tadi malam Herman terus diinterogasi oleh kedua polisi, namun dia tetap bersih kukuh mengelak dan tidak mengatakan yang sebenarnya.
Namun setelah beberapa menit kemudian, Herman merasa ketakutan. Dan dia dengan spontan mengatakan seluruh perbuatan keji itu di depan polisi tersebut. Dengan secara tidak langsung dia sudah mengatakan, bahwa semua kejadian itu dia yang melakukannya sendiri dengan sadar.
Pembunuhan yang dilakukan terhadap istrinya tersebut, karena tidak terima akan perkataan dan perlakuan waras kepadanya. Akhirnya Herman pun menolak Laras dan menyeretnya ke dalam gudang tersebut. Polisi pun sudah selesai mengintrogasi Herman saat itu juga, berkas dan juga yang lainnya akan segera di siapkan.
Begitu juga dengan Anna dan Hesti, polisi sangat memerlukan bantuan mereka, karena hanya mereka yang menjadi saksi dan juga yang mengetahui tentang kejadian tersebut. Perkataan mereka berdua pun segera dicatat dan juga disatukan dengan berkas yang lainnya. Agar nanti mempermudah untuk mengurus hukuman yang dapat di jatuhkan kepada Herman.
__ADS_1
Sekarang semua sudah terbalaskan, apa yang di taman dan dilakukan Herman saat dulu sudah di tuai dan dirasakannya kini. Ana hanya bisa mengikuti seluruh prosedur dan mengikhlaskan apapun yang terjadi pada papanya.