Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 8.


__ADS_3

Setiap hari suasana di rumah Winda...


Hari-hari ana di rumah sangat tidak menyenangkan, ketika ada Herman maupun tidak ada papanya, Ana selalu dibully. Aldi anak Laras selalu jahat kepada Ana, terkadang Ana tidak mendapatkan makanan di saat malam hari. Dia harus tidur dalam keadaan perutnya yang kosong, Winda sangat kesal dengan kedua orang tersebut Laras dan Herman.


Di suatu malam Winda sengaja menampakan dirinya di depan Laras, dia menampakkan wajahnya dan tubuhnya dalam keadaan yang menyeramkan. Laras berteriak ketakutan, dia berlari ke sana dan kemari tanpa tahu mau ke mana.


"Mau apa kak Winda?!" pekik Laras.


"Kenapa anakku tidak kau beri makan, Laras?!" Winda bertanya dengan suaranya yang menyeramkan.


"Bukannya anakmu sudah makan! Mana aku tahu kalau anak kamu belum makan!" ucap Laras dengan penuh ketakutan.


"Jangan kau pikir kau tinggal di rumahku kau bisa sesuka hatimu."


"Suatu saat nanti aku akan balas dendam kepadamu, semua perbuatanmu akan sama kulakukan terhadap dirimu." Winda mengancam Laras karena tidak memberi makan Ana anaknya.


"Tolong mas.., tolong mas...!" Laras berteriak seperti orang gila.


Laras berlari naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya, Herman terkejut saat Laras masuk dengan cara tiba-tiba dan sangat berisik. suara lara sangat kencang sampai membangunkan Herman yang ada di dalam kamar tersebut, Herman sangat marah kepadanya dan menampar wajah Laras.


Plak !"


Herman menampar keras wajah, Laras menangis dan masih merasa ketakutan akan dihantui Winda saat itu. Herman merasa apa yang dikatakan laras itu mengada-ngada saja, dan tidak masuk akal.


"Mas Mbak Winda sebenarnya sudah meninggal mas, dia selalu menghantuiku setiap hari dengan wajahnya yang seram itu." ucap Laras dengan tubuhnya yang masih bergetar.


"kau sudah gila kurasa, Laras?!"


"dari mana kau tahu kalau Winda sudah mati?"


"Lagi pula mana mungkin orang yang sudah mati bisa bangkit kembali, atau menghantui dirimu aku tidak percaya akan hal itu."


"Kalau memang dia sudah mati baguslah aku bisa leluasa mengambil semua harta milik papanya."

__ADS_1


"Terutama rumah tua antik ini yang harganya sangat fantastis di kalangan orang kaya yang sangat tahu barang antik." Herman tersenyum dengan sadis.


Dalam hatinya sangat bersyukur bila memang Winda sudah mati, Herman tak perduli dari mana Laras mengetahui bahwasannya Winda sudah mati. Dia lebih peduli dengan apa yang dikatakan Laras, berita itu sungguh membuat hatinya senang.


"Baiklah hari ini kau dapat ku maafkan aku ingin tidur dan bermimpi indah."


"Pergilah kau tidur sana dan jangan kau ganggu tidurku aku tidak mau mendengar lagi suaramu." Herman langsung naik ke tempat tidurnya kembali dan mengambil selimutnya.


Dia tidur dalam keadaan hati yang senang, karena mendengar berita bahwa Winda sudah tiada. Padahal dia tidak tahu faktanya Winda itu sudah mati atau belum, dia hanya mendengarkan saja. Dan yang ada di dalam pikirannya harta warisan dari papanya Winda, akan menjadi miliknya.


****


Winda sangat kesal mendengar perkataan dari Herman suaminya, Laras yang masih ketakutan langsung masuk ke dalam selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya.


malam itu Laras walaupun tidak bisa tidur tetapi dia tetap memejamkan matanya, dan berusaha untuk tetap bisa tidur.


Udara malam sangat dingin dan mencekam, Ana tidur kedinginan dengan perut kosongnya dia menggigil. Winda mengambil selimut dan menutupi tubuh anaknya yang kedinginan itu. Herman sangat tidak adil kepada Ana, dia lebih sayang kepada Aldi anaknya yang laki-laki tersebut.


Di pagi hari di saat semua sudah bangun dan bersiap untuk sarapan pagi di meja makan. Ana masih belum turun dari kamarnya, bahkan Ana belum bangun dari tidurnya.


Lalu Herman naik ke atas dan masuk ke kamar Ana, Herman melihat anak yang masih berselimut di atas kasurnya dengan marah.


"Ana apakah begini cara mamamu mengajar dirimu? Dasar anak pemalas!" ucap Herman sambil menggoyang-goyangkan tubuh anak agar dia terbangun.


Tetapi Ana tidak merespon dengan yang dilakukan Herman kepadanya, ana masih tertidur dan menutup matanya. Lalu Herman mengecek nafasnya dan juga denyut nadi anak tersebut. Herman terkejut, ternyata Ana bukan tidur melainkan dia sudah pingsan entah dari kapan.


Lalu Herman buru-buru menggendong anak dan turun ke lantai bawah, Herman menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil segera. Herman berteriak ke supir pribadinya dan bergegas masuk ke dalam mobil, lalu pergi begitu saja tanpa memberitahu apapun pada Laras istrinya.


Laras buru-buru menelpon Herman, karena bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya kepada Ana.


namun Herman tidak menjawab ponselnya dan ternyata ponsel Herman tertinggal di dalam kamar mereka.


Sampai di rumah sakit

__ADS_1


Herman berlari dengan menggendong Ana langsung masuk ke ruang UGD, dia bertanya dan meminta segera menangani Ana anaknya.


"Suster tolong anak ini dia telah pingsan di rumah, saya tidak tahu kenapa dia bisa pingsan." ucap Herman yang tidak mau terjadi apa-apa pada Ana.


Herman sangat panik ketika suster dan dokter memeriksa Ana, dia terlihat lemah dan wajahnya pun sudah pucat. sopir pribadi Herman datang menghampiri Herman, lalu memberikan ponsel lah kepada Herman.


"Mas kamu bawa ke mana sih Ana? Apa yang terjadi padanya, kenapa kamu terburu-buru membawanya?" tanya Laras yang bingung dan sebenarnya tidak senang dengan akan hal itu.


"Sudahlah nanti akan aku ceritakan kepadamu, aku sekarang sedang di rumah sakit."


"Kau uruslah Aldi dan akan ku suruh supir ini mengantarkan kalian ke sekolahnya." Herman memberitahukan.


"baiklah mas kalau begitu aku tutup dulu teleponnya." ucap Laras dengan nada tidak senang.


Sopir itu pun pergi pulang menjemput Aldi dan Laras untuk mengantarkan ke sekolah. Lalu dia akan kembali lagi ke rumah sakit menjemput Herman dan Ana untuk pulang ke rumah.


Setelah sopir itu kembali lagi ke rumah sakit, ternyata di dalam mobil adalah ras yang belum kembali ke rumah. dia malah ikut ke rumah sakit untuk menjemput Herman dan Ana.


"Di mana Ana mas?" Laras bertanya dengan penuh kebingungan.


"Dia masih di rumah sakit dan dokter berkata dia harus dirawat inap."


"Anak itu menyusahkan saja, kenapa dibawa ke rumah sakit mas? Biarkan saja dia di rumah." ucap Laras yang tidak senang akan melihat perhatian dari Herman.


"Kau jangan sembarang bicara ya Laras!"


"Kenapa tak kau beri dia makan dokter mengatakan dia sudah dua hari tidak makan."


"Dia pingsan dan lemas karena tak ada sedikitpun makanan di dalam perutnya, bahkan dia menggigil karena kedinginan." Herman bingung dan tak tahu bahwasannya Laras tak pernah memberi Ana makan.


Herman marah dan kecewa kepada Laras, karena Laras tak menjaga anak dengan baik. Herman sebenarnya masih memerlukan Ana, karena semua surat-surat aset milik papanya Winda masih atas nama Ana.


Herman baru mengetahuinya dari pengacara Winda seminggu yang lalu.

__ADS_1


Ternyata Winda sudah membalikkan semua nama aset, atas nama Anastasia anaknya Winda.


__ADS_2