Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 30.


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu...


Ana masih mencari jalan dan memutar otaknya untuk segera mengetahui bagaimana cara membasmi kedua arwah itu. sementara anak ingin mencari papanya tidak tahu ada di mana. Sebenarnya Ana ingin bertemu dengan Herman papanya untuk menanyakan secara langsung apa sebenarnya yang terjadi.


Pengasuh Ana, meminta Ana untuk membawanya pulang dari rumah sakit, karena penyakitnya sudah lama tidak kunjung baik juga walaupun dirawat di rumah sakit. Jadi Ana mau tidak mau pulang ke rumah, dan menjalankan pengobatan dari rumah saja.


***


Sedangkan Herman harus kecewa balik dari Singapura, karena kliennya itu tidak memilih Herman, melainkan lebih memilih perusahaan Haris dan ingin bergabung serta join bersama Haris. Herman yang merasa kesal dengan kliennya itu, kembali ke Sulawesi di mana tempat kantornya. Namun dia juga berencana akan kembali ke Jakarta, untuk melihat rumah tua peninggalan milik Winda mantan istrinya.


5 hari sudah berlalu...


Keadaan pengasuh anak semakin memburuk, Ana sudah kehilangan akal dan tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyembuhkan pengasuhnya. Segala cara sudah dilakukannya dan beberapa rumah sakit sudah dimasukinya, untuk menyembuhkan pengasuhnya. Namun Tuhan berkata lain, di hari ini pengasuhnya menghembuskan nafas terakhir, di rumah sakit yang baru 3 hari mereka di sana.


Ana sangat sedih dan dia sangat terpukul, di dalam hidupnya saat ini hanya ada pengasuhnya saja. Ana tidak begitu banyak memiliki teman, dia juga tidak terlalu banyak bergaul di luaran, karena hidupnya sekarang terlalu mandiri mengurus bisnis peninggalan mamanya.


"Maaf Ana, pengasuhmu saat ini tidak dapat kami tolong. Karena keadaannya sudah sangat kritis, jadi saya meminta maaf kepadamu." dokter itu mengatakan langsung kepada anak.


"Agrh...!


"Ibu mengapa kau meninggalkan aku!"


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya kau yang kuanggap sebagai ibuku." Ana berteriak meluapkan rasa sedihnya di depan jenazah ibu pengasuhnya.


dokter dan perawat pun menenangkan diri Ana, suster segera menarik selimut menutupi wajah pengasuh ibu Ana. Mereka langsung menyiapkan jenazah itu, untuk segera dapat dimakamkan oleh Ana sendiri di rumah.


Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan bagi Ana, ini adalah pukulan yang kedua kali. Orang yang dia sayangi meninggalkan dirinya, Ana tak berhenti menangis di acara pemakaman pengasuh nya saat itu.

__ADS_1


Seluruh pelayan memberi dukungan dan juga doa untuk pengasuh anak di pemakaman. Bahkan Rudi juga ada di sana untuk memberi doa dan juga perhatiannya kepada Ana.


Rudi adalah seorang pria teman Ana saat di universitas, dia sudah lama menyukai Ana semenjak bertemu dan satu universitas. Namun Ana tidak menyadari perhatian dan juga rasa sayang Rudi kepadanya.


"Ana Aku turut berduka cita dan juga berbela sungkawa atas kepergian ibumu saat ini."


"Janganlah kau terlalu bersedih, bangkitlah kembali, karena jalan hidupmu masih harus dijalani untuk masa depan."


"Kau jangan merasa sendirian di dunia ini, aku akan selalu ada bersamamu. Kapanpun kau membutuhkan, atau memerlukanku, Aku siap ada selalu di sampingmu" Rudi mengatakan itu kepada Ana di depan tanah gundukan yang masih basah di hadapan mereka.


Ana sedikit memiliki semangat hidupnya, dia menyadari bahwa ada Rudi di sampingnya. Saat itu Rudi sudah beberapa kali menyatakan cintanya kepada Ana, namun Ana tidak memperdulikan, bahkan menganggapnya itu hanya permainannya saja.


Tapi kali ini Anna sangat membutuhkan seseorang berada di sampingnya, dirinya sangat terpukul dan tidak tahu bagaimana nanti akan menjalani hidupnya sendirian. Sementara Ana yang masih memiliki seorang ayah, tetapi dirinya tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayahnya, di dalam hidupnya semenjak dia lahir.


Begitu berat perjuangan hidup Ana mulai dari lahir, sampai sekarang saat ini. Di saat ibunya sudah meninggal, hanya pengasuhnya lah yang menjadi Ibu pengganti bagi dirinya. Dan Ana dapat merasakan kasih sayang seorang ibu sampai dia dewasa.


Sesampainya di rumah Ana pun turun dari dalam mobil Rudy. namun Ana melarang Rudi untuk masuk ke dalam rumahnya atau singgah ke rumahnya.


"Rudi Terima kasih sudah mengantarkanku sampai ke rumah lebih baik kau segeralah pulang."


"Karena saat ini, aku sangat ingin sendirian saja. Aku mohon padamu dan mengertilah atas pintaku ini. sekali lagi aku ucapkan terima kasih kepadamu." Ana pun pergi masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Rudi sendirian di dalam mobilnya.


Pintu rumah Ana pun dikunci dari dalam, agar Rudi tidak dapat mengejar dan masuk ke dalam rumahnya. Ana sangat mengerti dengan niat baik Rudi dan juga sikapnya yang menyayangi Ana. Tetapi Ana belum bisa menerima Rudi dengan begitu saja, ibunya Rudi pernah menemuinya untuk tidak berhubungan lagi dengan anaknya.


Kali ini Ana benar-benar harus berjuang untuk hidupnya sendiri, berusaha lebih keras lagi untuk mencapai kebahagiaan yang dia impikan. Di dalam rumah, dia melihat sekeliling rumahnya dan masih terbayang dengan kehidupannya sehari-hari, bersama ibu pengasuhnya yang begitu bahagia.


Air mata pun jatuh ke pipinya, tanpa sadar Ana sudah terlalu banyak menangis sehingga matanya pun membengkak dan memerah. Saat ini dia merasa kehidupan tidak adil baginya, perasaan yang merasa hancur dan dia merasa frustasi dengan keadaan yang terus menimpa dirinya.

__ADS_1


Argh...!


"Semua ini salahku!"


"Aku yang bersalah!"


"Mungkin dulu aku harus tiada dan tidak harus dilahirkan, seorang anak yang sangat diinginkan suatu keluarga mendapat kebahagiaan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya."


"Sedangkan aku harus mengalami derita dan kepahitan hidup dari sejak aku lahir. Mama... aku sangat merindukanmu, aku sangat ingin malam ini kau hadir dan dapat memelukku di saat aku sedang tertidur." ucap Ana Di saat dia merasa letih dan tertidur secara tiba-tiba.


Di dalam tidurnya dia pun bermimpi, Winda dan pengasuhnya ada di hadapannya. kedua ibunya itu mengulurkan tangannya ke arah Anna saat itu juga. Mereka mengajak Ana untuk bermain dan berlari bersama, dengan penuh rasa bahagia menghabiskan masa kecil bersama kedua ibunya.


Bahkan malam itu, Ana merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Seperti rasa nyaman dan hangatnya pelukan Winda yang pernah dia rasakan ketika dia masih kecil. Tidurnya pun semakin terlelap dan kesedihannya berangsur-angsur sirna seketika.


Keesokan paginya, di saat matahari bersinar dan menembus jendela rumah Ana. Dia terbangun karena silaunya cahaya mentari itu menyapa wajahnya. Rumahnya dalam keadaan sepi, hanya ada dia sendiri. Namun tanpa sadar, dia memanggil ibu pengasuhnya seakan-akan masih bersamanya.


"Bu hari ini kamu mau makan apa akan aku masakan atau aku beli?" Ana bertanya kepada Ibu pengasuhnya, seperti biasa yang dia lakukan setiap pagi.


Lalu tiba-tiba Ana tersadar bahwa hari ini dia tidak bersamanya lagi, Ana pun terdiam dan membisu sembari menatap sekeliling rumahnya. Masih jelas dan tercium bau harum bunga yang belum menghilang dari kemarin.


Ana hanya terduduk dan terdiam tanpa berkata atau bertanya lagi, kali ini dia tidak akan bertanya kepada siapapun hanya dirinya yang bisa menentukan dan memilih jalan hidup.


Sekarang sudah saatnya dia harus hidup, tanpa ada seorang ibu bersamanya untuk yang kedua kalinya.


Ana pun mulai mengerjakan aktivitas seperti biasa di rumahnya, dia harus mengerjakannya sendirian dan tanpa bertanya kepada siapapun lagi. di dalam hatinya pun bertekad dan juga menyemangati dirinya sendiri.


"Semua akan baik-baik saja dan aku harus tetap hidup, seperti apa yang dikatakan Ibu pengasuh kepadaku." gumam Ana dalam hati untuk menyemangati dirinya, agar kembali menjadi seperti Ana yang dulu.

__ADS_1


__ADS_2