
Malam itu Hesti pun berteriak, sampai Romi terkejut lalu membuka pintu kamar mereka. Dan memastikan keadaan Hesti di dalam sana, Romi pun mencoba untuk membangunkan Hesti dari tidurnya.
"Hesti sayang, kamu kenapa? Hesti bangun sayang!" Romi mencoba mengguncang dan menggoyangkan tubuh Hesti agar ia segera terbangun.
Namun Hesti sangat sulit untuk dibangunkan, ia masih terus berteriak, bahkan air matanya sudah jatuh membasahi bantal yang sedang dia pakai untuk tidur. Hesti merasa seakan-akan tenaganya telah habis, untuk berteriak dan menangis di dalam mimpinya itu.
Hesti rasanya tidak tega melihat Laras ketika dibantai, dan dia juga sempat untuk mengambil sebuah benda, ingin melemparkan benda itu ke arah pria yang sedang menghajar Laras. Namun lagi-lagi tangan Hesti tidak dapat memegang benda apapun yang ada di sana, tangannya selalu menembus dan tidak dapat meraih benda-benda tersebut.
Akhirnya Hesti pun tersadar dari tidurnya, dia bangun dengan posisi duduk dan membelalakkan matanya dan nafasnya yang terengah.
Romi pun juga terkejut dengan tersadarnya Hesti, Romi memeluk dan membelai rambut istrinya itu.
"Hesty! Kau kenapa sayang? Kenapa dari tadi kamu selalu ber teriak-teriak dalam tidur?!" Ucok Romi sembari masih memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Hesti.
"Aku mimpi buruk mas, tetapi mimpi itu seperti nyata bagiku. Kejadiannya di rumah ini, aku tak tahu pertanda apakah itu." Hesti sekarang tengah merasa memang benar ada sesuatu di antara kejadian-kejadian yang dia rasakan.
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanmu saja sayang."
"Kau pergilah cuci muka dan kembalilah tidur lagi."
"Aku akan menemanimu di sini." Ucap Romi menenangkan perasaan istrinya, yang mungkin sekarang ini sangat kacau karena mimpi yang dialami.
***
Malam itu tiba-tiba Ana sangat gelisah, bahkan dia tidak bisa meminjamkan matanya. Lalu Ana mendengar suara batuk dari pengasuhnya, yang dari tadi ternyata belum tidur juga.
Uhuk, uhuk!
"Sepertinya ibu kambuh lagi penyakitnya, lebih baik besok akan kubawa dia ke rumah sakit saja." ujar Ana dalam hatinya.
Ana pun bangkit dari tempat tidurnya dan keluar untuk melihat keadaan pengasuhnya. Dia membuka pintu kamarnya, lalu berjalan menuju kamar pengasuhnya yang tepat berada di sebelah kamarnya.
Tok, tok, tok..."
__ADS_1
"Bu apakah kamu belum tidur? Bolehkah aku masuk ke kamarmu?" Ana mengetuk pintu kamar ibu pengasuh dan meminta izin untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Masuk saja Ana, uhuk, uhuk!" Ibu penghasilnya masih juga terbatuk-batuk.
"Bu apa kau baik-baik saja, atau besok kita akan pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaanmu kembali."
"Aku akan tutup toko sementara, atau menyuruh karyawan untuk menunggu toko kita." Ana memberi saran kepada ibu pengasuhnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Ibu tidak apa-apa kok."
"Fokus saja lah dengan mengembangkan tokoh ibumu, Ibu bisa jaga diri sendiri. Lagian obat yang kita beli kemarin pun masih ada." ucap pengasuhnya yang tidak ingin merepotkan.
Ana pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, memang ibu pengasuhnya ini tidak mau merepotkan anak lebih banyak. Namun di saat Ana akan beranjak pergi dari kamar ibu pengasuhnya, dia terbatuk lagi lebih hebat dan lebih kencang. Kali ini batuknya sudah semakin parah, dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
"Ibu apa kau tidak apa-apa?"
"Aku akan membawamu besok pagi ke rumah sakit. Minumlah dulu obat batukmu lagi, agar kau dapat bisa tidur." anak kembali menghampiri ibunya dan tidak jadi pergi dari kamar itu.
Dia mencoba menenangkan ibunya, mengambil obat batuk yang berada di dalam laci kecil meja di sebelah ranjang tempat tidur ibunya. Tiba-tiba ibunya pun batuk dan menyemburkan darah ke arah baju Anna, yang berada tepat di depan pengasuh itu.
"Ibu kau batuk darah?!" Ana sangat terkejut dan dia semakin ketakutan.
Ana tak ingin terjadi sesuatu apapun kepada ibu pengasuhnya, dan pikirannya semakin takut akan kehilangan Ibu pengasuhnya, seperti kehilangan ibu kandungnya.
Ana langsung bersikap sigap mengambil kain untuk mengelap mulut ibu pengasuhnya, memberinya minum agar keadaannya sedikit enakan.
__ADS_1
"Bu duduklah sebentar, aku akan memberimu obat agar kau dapat istirahat dengan nyaman." Ana pun pergi mengambil sendok, untuk menyuapi ibunya obat batuk, yang sudah diberikan oleh dokter beberapa hari yang lalu.
Pengasuhnya pun mendengarkan apa kata anak dari Winda majikannya dahulu, Ana sudah seperti anaknya sendiri. Lagian pengasuh ini juga tidak memiliki keluarga lain, ataupun anak dari manapun karena dia sendiri juga belum menikah sampai saat ini.
"Lebih baik aku tidur di sebelah Ibu saja, bila terjadi sesuatu aku dapat mengetahuinya langsung." ujar anak dalam hatinya.
"Bu kau tidur saja, aku akan menemani dan malam ini di sini. Bila Kau perlu sesuatu kau bangunkan lah aku." ucap anak mengambil selimut untuk menutupi tubuh ibu pengasuhnya.
Anna dan pengusungnya pun tidur dalam satu ranjang, mereka saling berpelukan dan menghangatkan tubuh satu sama lain. Malam itu memang terasa dingin, karena sudah beberapa hari ini hujan turun tanpa hentinya. Keadaan itu membuat penyakit batuk Ibu pengasuhnya kambuh.
Sekarang sudah pukul 02.00 pagi, ana masih terjaga sembari memeluk tubuh ibu pengasuhnya. Dia merasa beberapa hari ini, selalu ada kejadian yang sangat janggal dirasakannya.
Seperti ketika di toko, pegawainya tiba-tiba kerasukan sesuatu dan mengamuk di tokonya. Lampu toko pun tidak mau menyala secara tiba-tiba, bahkan sudah beberapa hari karyawannya mengeluh mencium bau yang tidak enak.
Keadaan ibu pengasuhnya pun semakin memburuk, toko yang dia buka samping rumah mereka saat ini sangat sepi sekali. Bahkan seseorang pernah berkata, toko mereka ketika sudah malam sangat ramai orang yang menunggu di depannya.
Semua kejadian itu tidak diketahui oleh ibu pengasuhnya. Hanya ana saja yang mengetahui dan bahkan dia tidak mau bercerita dengan ibunya. Ana merasa bahwa semua itu harus dia yang melakukannya sendiri, dan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
📅 Flash back
Sore itu ketika toko baru di sebelah rumah dibuka, seorang wanita paruh baya tengah datang ke toko itu menemui ibu pengasuhnya Ana. Ibu pengasuhnya tidak mengenali wanita paruh baya itu, ternyata wanita paruh baya itu mengetahui ketika pengasuhnya Anna datang ke rumah untuk menemui Hesti di rumah tua itu.
Dia sangat tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh ibu pengasuh itu kepada Hesti, karena ketika kejadian itu Hesti berbicara kepada Laras dan mungkin dari situ wanita paruh baya itu pun mengetahui apa yang dikatakan mereka kepada Hesti.
Namun Ibu pengasuhnya tidak mencurigai apapun dengan wanita paruh baya itu, dia datang ke toko butik mereka hanya untuk membeli kain panjang yang dia sukai. Tetapi di saat ibu pengasuhnya lengah, dia ternyata telah menaburkan sesuatu di toko baru yang mereka buka di sebelah rumah.
Mulai dari situ, satu persatu pegawai Anna yang ada di toko baru itu kerasukan, dan juga mencium bau busuk dari sekitar toko mereka. Tapi bubuk itu yang tercium oleh ibu pengasuh malah menjadi penyakit batuk darah yang sekarang dia alami.
Semakin lama kondisi Ibu pengasuh anak semakin memburuk, dia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah, sehingga tidak bisa mendeteksi atau melihat apa yang sedang terjadi. Sehingga Ana berinisiatif untuk mencari tahu dan menyelidiki apa yang terjadi selama ini pada tokoh baru yang dia buka.
"Aku harus mencari tahu sendiri, tidak bisa hanya tinggal diam."
"Aku yakin semua ini ada hubungannya dengan rumah tua itu."
__ADS_1
"Bahkan aku merasakan aura negatif sudah merasuki wanita yang tinggal di rumah tua milik mama Winda." Ana berkata dalam hatinya dan juga dapat merasakannya.