Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 11.


__ADS_3

Dua hari lagi Herman akan pulang ke rumah, Laras sudah bersiap-siap menyambutnya dengan hangat. Laras sedang mempersiapkan dirinya untuk menyebut suami, anak-anak hari itu sudah pulang sekolah namun Ana tidak diperdulikan oleh Laras.


Setiap hari Ana hanya diberi makan oleh art mereka, Mbak pelayan sangat kasihan melihat Ana. Dia terabaikan walau ada Herman ataupun tidak, setiap hari pergi sekolah hanya boleh naik ojek. Bila cuaca panas Ana sangat kepanasan, bila hari hujan Ana pasti terkena hujan di luar. Sedangkan Aldi selalu naik mobil pribadi mereka setiap pergi ke sekolah maupun pulang sekolah.


Ana sekarang sudah beranjak remaja, dia bersekolah di SMP yang dikhususkan untuknya oleh pengacara Winda. Tak banyak yang bisa dilakukan Anna di rumah Laras, karena dia selalu diancam apabila dia berbuat tidak sesuai keinginan Laras.


Semakin dia bertambah usia Ana semakin dapat melihat hal-hal di masa depan namun dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada Laras, seperti mimpinya yang pernah anda ketahui bahwa Laras akan mati di tangan seorang pria.


****


Malam itu Winda masuk ke kamar Laras, terlihat Laras sedang pulas tidur dengan nyamannya di atas ranjang. Lalu Winda berulang kali ingin menyeret Laras jatuh dari tempat tidur. Namun gagal karena tiba-tiba Aldi datang mengetuk kamar pintu Laras Laras terbangun namun tidak melihat adanya Winda di sana.


Keesokan harinya Winda berencana ingin merubah dirinya menjadi Harris, dan menemui Laras di rumah itu secara terang-terangan ketika Herman sudah pulang ke rumah.


Herman akan pulang keesokan sorenya, sebelum Herman pulang Laras sempat menelpon Haris agar tidak mengganggunya hari itu. Haris mengikuti apa perkataan Laras, walaupun Dengan hati yang kesal. Karena dia merasa dirinya dinomor duakan dan tidak menjadi bagian yang terpenting dalam hidup Laras.


"Mengapa Laras begitu ya kepada ku? Aku selalu menuruti apa yang dia mau, memang rasa cinta ini telah membodohi dan membutakan hatiku." berkata dalam hatinya.


Sore harinya hari pulang


"Laras..., aku pulang! Ambilkan minum untukku aku sangat kehausan."teriak Herman yang meminta minum kepada Laras.


"Kamu sudah pulang mas...? Capek ya pulang dari Sulawesi, tapi kamu baik-baik saja kan?"


"Kamu tidak pernah menelponku, atau bertanya kabarku dan Aldi. Bahkan aku telepon kamu tidak pernah menjawabnya." Laras langsung mengoceh di depan Herman.


"Sudahlah Laras! Aku baru pulang capek, kau jangan pulang mencari ribut denganku!" Herman sedikit emosi mendengar ocehan dan ucapan Laras.


Laras pun diam dan tidak berani untuk berkata-kata lagi, dia hanya duduk dan memandangi Herman.


Laras membuka sepatu serta kaos kakinya, dan memijat kaki suaminya. Dia mencoba untuk mencari perhatian dari suaminya


Herman pun merasa nyaman dengan pijatan itu, lalu dia tertidur di sofa tersebut. Laras mengambil tas Herman dan membawanya ke ruang kerja Herman tak lupa dengan sepatunya Laras menyusul semua barang-barang memiliki Herman.


Di malam hari saat Herman masih tidur pulas di sofa ruang tamu itu, Haris datang mengetuk pintu rumah mereka. Laras terkejut dan bertanya dalam hatinya, sambil berjalan mendekati pintu rumah depannya.


"Siapa ya malam-malam begini ketuk-ketuk pintu? Kayaknya aku nggak ada tamu deh atau janji dengan siapapun."berkata Laras dalam hatinya.


Clek...


Pintu pun dibuka oleh Laras, tiba-tiba Laras terkejut melihat Haris sudah di depan rumahnya. dia membesarkan matanya seakan tak percaya Haris sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


Lalu Laras melirik ke arah dalam, melihat Herman yang masih tidur pulas di atas sofa itu.


Haris pun ingin masuk setelah dia melihat ada Herman di dalam, dia tak perduli rasanya ingin sekali menghajar Herman.


"Mas Haris apa kau sudah gila?!"


"Mengapa kau ke sini? Kan aku sudah bilang jangan menghubungi aku, ataupun menemuiku di rumah!"ucap lara sambil mendorong tubuh Haris keluar.


"Mas tolonglah beri aku satu tahun lagi, setelah itu kita akan hidup bersama aku janji padamu."ucap Laras kepada Haris menyuruhnya pulang kembali.


"Tapi Laras aku diteror, aku diteror dengan hantu seorang wanita yang mengaku kalau dia itu adalah istri dari suamimu."ucap Haris kepada Laras.


Laras pun terkejut ternyata bukan cuman dirinya saja yang diteror hari kekasihnya pun juga itu teror oleh Winda bekas istri dari Herman. Lalu Laras menyuruh Haris untuk pulang dulu ke rumahnya, dia berjanji akan menemui Harris besok ketika suaminya pergi ke kantor siang harinya.


Laras menjadi bingung dan tak tahu mau bagaimana karena Winda selalu menghantui Laras dan sekarang Haris yang menjadi korban oleh Winda.


****


Malam sudah berlalu, dan pagi ini Herman ingin pergi ke kantor seperti hari biasanya. Pagi itu Herman pergi dengan mengemudikan mobilnya sendiri, tanpa memakai sopir pribadi.


Ketika Laras melihat Herman pergi, dia lalu berganti pakaian dan mengambil tasnya untuk segera pergi, setelah mengantar anaknya Aldi ke sekolah dengan taksinya.


Sopir pribadi itu melihat Laras pergi dengan taksi penuh curiga, Laras terlalu terburu-buru seperti ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


"Sebentar lagi kau akan menjadi janda, dan aku bisa mendapatkanmu saat itu." ucap sopir pribadi itu perlahan.


Ternyata supir pribadi itu mengincar Laras, dan dia sangat menyukai majikannya itu. Herman tak pernah tahu, selama ini bahwa sopir pribadinya itu sedang sangat menyukai istrinya sekarang. Dan tanpa diketahui oleh Herman super pribadi itu telah merusak rem mobil yang dia kendarai saat ini.


Herman melajukan mobilnya dengan sangat kencang, dia ingin cepat sampai ke kantor karena pagi ini dia akan meeting membahas tentang proyek tanah yang dia pantau saat ke Sulawesi.


Namun ketika akan berhenti, mobil itu tidak bisa berhenti. Herman sudah coba menginjak pedal remnya, tetapi mungkin itu tetap melaju dengan kencang. Herman menjadi panik dan tak tahu harus bagaimana, lalu mobil itu menabrak ke pembatas jalan trotoar di tengah-tengah jalan raya tersebut.


Bug...!


Terdengar suara mobil Herman yang menabrak trotoar jalan, seketika di tempat kejadian itu ramai sekali orang berkerumun di luar mobil Herman.


Herman pun bersimbah darah dan terkapar di dalam mobilnya.


Lalu polisi dan ambulan pun datang ke tempat kejadian di mana mobil Herman yang ringsek di jalan raya itu.


Herman dievakuasi lalu dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulans tersebut. Herman tak dapat masuk ke kantor hari itu juga, ia harus dirawat di rumah sakit karena lehernya yang patah dan kepalanya yang pecah.

__ADS_1


Laras tidak mengetahuinya saat kejadian tersebut dia malah menemui Haris di apartemennya. Laras dan Haris sibuk membahas tentang Winda yang selalu meneror mereka berdua.


Lalu tak berapa lama kemudian ponsel Laras berbunyi, dan dia melirik ke arah ponselnya itu.


"Ini siapa sih yang menelpon, dari tadi nelpon nih terus."gumam Laras yang tak senang karena mengganggu pembicaraannya bersama Harris.


Laras pun menerima telepon itu...


"Halo ibu selamat pagi apa benar ini istrinya dari pak Herman?"terdengar suara wanita dari seberang sana.


"Iya benar saya Laras, istri dari pak Herman. Ada apa dengan suami saya Mbak...?"tanya Laras penasaran.


Lalu suster itu menjelaskan kepada Laras, bagaimana kejadian dan berada di rumah sakit mana. Laras terkejut Dan panik seketika dia pergi meninggalkan Harris begitu saja.


Tanpa memikirkan perasaan Haris, yang ditinggal begitu saja tanpa penjelasan apapun.


"Apa yang sudah terjadi padamu mas? Kenapa kamu bisa sampai kecelakaan..?!"Laras bertanya dalam hati kecilnya dia terlihat panik dan takut terjadi apa-apa pada suaminya.


Laras segera menyetop taksi setelah sampai ke lantai bawah, ia masuk ke dalam taksi dengan cepat, lalu pergi menuju rumah sakit yang diberitahu oleh suster itu.


"Pak, bisa cepetan sedikit ya pak! Saya lagi buru-buru, tolong pak di rumah sakit itu ada suami saya."ucap Laras sambil mengomel kepada sopir taksi itu.


Taksi pun melaju dengan kencangnya, tapi supir itu tetap berhati-hati dan waspada di jalan raya. Sopir taksi itu melihat dari kaca depan ke wajah Laras yang penuh dengan kecemasan. Sopir taksi itu pun mengerti bagaimana keadaan dan perasaan Laras saat ini.


Saat melintas ke arah rumah sakit, terlihat ada mobil Herman yang belum dievakuasi oleh mobil derek. Mobil itu masih berada di situ dan polisi masih menunggu mobil derek di pinggir jalan.


"Ya ampun itu kan mobil mas Herman mengapa bisa sampai seperti itu?" Laras semakin panik, dan dia sedikit menangis mengeluarkan air matanya.


"Mas Herman apa sebenarnya yang terjadi padamu mas.., aku sangat takut." Laras kembali bergumam dalam hatinya.


Sampailah di rumah sakit...


"Suster, suster, pasien yang kecelakaan mobil bernama pak Herman, berada di ruang mana ya suster?"


"Saya istrinya." ucap Laras memberitahu suster.


"oh ibu Laras, pak Herman sekarang masih di ruang UGD, dan harus segera dioperasi."


"Mohon ibu mengisi formulirnya dan mengurus administrasinya." ucap seorang suster yang tadi Laras bertanya kepadanya.


"Baiklah suster saya akan mengisi formulirnya dan mengurus administrasinya." Laras langsung mengisi formulir dan mengurus semua administrasinya.

__ADS_1


Suster pun langsung menelpon, agar Herman langsung dibawa ke ruang operasi. Semua sudah disiapkan dan kantung darah juga sudah disiapkan, Herman segera diinfus dan ditangani oleh dokter di ruang operasi.


Laras menunggu di luar ruang operasi, sembari menggenggam kedua tangannya, wajahnya terlihat sedikit pucat karena khawatir dengan suaminya. Laras menelpon art nya di rumah untuk menjemput Aldi dari sekolah dan juga mengurus Aldi di rumah. Karena hari itu Laras tidak akan pulang ke rumah, dia ingin menunggu Herman sampai keluar dari ruang operasi tersebut.


__ADS_2