Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 19.


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu


Romi sudah mulai masuk kerja, dan tinggallah Hesti sendirian di rumah. Di pagi hari Hesti sibuk menyiapkan sarapan, dan juga bekal Romi untuk ke kantor. Tak banyak pekerjaan Hesti di rumah itu karena rumah itu setiap sore sudah dibersihkan oleh cucu dari wanita paruh baya itu.


Namun Hesti sangat jarang bisa bertemu dengannya, cucu wanita paruh baya itu selalu datang tanpa diketahui oleh Hesti, dan baru akan pulang ketika Hesti baru menyadari bahwasannya dia berada di rumah itu.


Di saat sore sehabis magrib, Hesti melihat cucunya itu berada di dapur, sedang memberes-bereskan ruangan.


Hesti lalu menghampirinya dan bertanya kepada cucu nenek itu.


"Mbak namamu siapa ya?" tanya Hesti ingin tahu.


"Oh ibu, nama saya Laras, saya memang biasa berada di sini, dulu saya juga tinggal di sini." ucapnya dengan nada perlahan dan sedikit berat suaranya.


"Oh berarti kamu tahu dong seluruh rumah ini?" ucap Hesty.


"Saya tahu Bu, rumah ini saya yang tempati dulu, namun bukan saya pemiliknya." ucap Laras yang melirik tajam ke arah Hesty.


Bulu kuduk Hesti sedikit merinding Dan Dia merasa kedinginan seperti ada sesuatu. Namun Hesti tidak menghiraukan dan seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengganggu dirinya.


"Rumah ini sebenarnya rumah milik Winda, dia mati dengan sangat mengenaskan." tetapi sekarang suaminya yang mengelola rumah ini namun dia tidak berada di sini sekarang.


Hesti yang mendengar perkataan itu langsung bergidik, dan merasakan sesuatu hal aneh dari Laras. Dia terlihat sangat pucat, bahkan tangannya ketika tersentuh oleh Laras, terasa sangat dingin bagaikan es.


Hesti pun pergi dari hadapan Laras, dan dia masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan sesuatu melalui laptopnya. Sekarang Hesti mencari kesibukan dengan menulis atau bercerita, di salah satu podcast yang dia buat sendiri.


Karena sering sendiri di rumah, Hesti membuat kesibukan dengan seringnya live di podcastnya, walaupun hanya sendirian.

__ADS_1


Terkadang dia suka bercerita hal-hal aneh dan hal-hal unik, untuk dibahas atau di ceritakannya sebagai wawasan teman-temannya yang ada di sosial media tersebut.


Tak lupa juga kejadian malam itu, ketika dia di toilet Hesti juga menceritakannya melalui live media sosialnya. Banyak juga yang berpendapat bahwa itu halusinasi, dan ada juga yang memberi pendapat, bahwasanya itu jangan dianggap hal yang biasa.


***


Ana dan pengasuhnya, yang masih mengembangkan tokoh dari Winda mamanya. Ana sering menggunakan sosial media sebagai tempat dia berjualan barang-barang di butik itu.


Tanpa sengaja Ana melintas di depan rumah Winda saat ingin pulang ke rumah. Ana berfikir mengapa rumah itu masih ada namun tidak pernah ditempati. Dia tahu bahwasannya papanya masih hidup, dan sudah mengambil rumah miliknya tersebut.


Ana tak tahu bahwa rumah itu sudah ada yang menempati, namun ketika Ana lewat lampu depan rumah itu sedang rusak. Jadi rumah itu tampak seperti gelap gulita tak berpenghuni.


"Rumah peninggalan mama, lain kali akan aku rebut dan aku ambil. Akan ku buka usaha Mama yang baru dan lebih besar di sana." ucapkan dalam hatinya.


Ana yang mengendarai motornya terus melaju ke depan, tujuannya ingin pulang ke rumah pengasuhnya. Bagi anak sekarang pengasuhnya itu adalah ibunya pengganti orang tuanya yang sudah tiada.


"Ana kamu pasti belum makan kan ibu sudah memaksakan makanan kesukaanmu bahkan ada susu hangat juga kesukaanmu." ucap ibu pengasuhnya.


"Wah ibu memang sungguh luar biasa, tahu saja yang aku mau, tapi kalau setiap hari seperti ini... aku bisa membesar nanti." ujar Ana.


Tiba-tiba anak memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, dia melihat dalam kegelapan rumah Winda tersebut. Seorang wanita yang telah diincar oleh arwah penasaran, dia seperti tak rela dan tak suka melihat sepasang kekasih yang begitu harmonis.


Lalu pengasihnya menyadari akan keadaan Ana saat ini, dia mencoba mendekatkan dirinya ke Anna dan menyentuh bahu Ana dengan perlahan.


"Apa yang kau lihat Ana?" pengasuhnya bertanya dan mengerti bahwasanya anak mendapatkan penglihatan sesuatu.


"Aku melihat rumah mama Winda, di sana ada yang menempati, namun ada arwah penasaran yang sedang mengincar dirinya."

__ADS_1


"Anak juga tidak mengerti mengapa pendapat pandangan seperti itu." ucapkanlah kepada pengasuhnya.


"Apa kau tadi melintas di depannya dan melihat rumah itu?" tanya pengasuhnya ke Ana.


"Iya ibu aku tidak sengaja lewat dari sana dan melihat rumah itu."


"Tapi kulihat rumah itu tidak ada yang menempati bahkan sangat gelap dari luar."


"Akan tetapi auranya sangat berbeda sepertinya ada arwah di sana." ucap anak menjelaskan kepada pengasuhnya.


"Sudah makanlah kau dulu, nanti akan kita bahas lagi, atau kita lihat ke depannya nanti." ajak pengasuhnya untuk makan malam.


"baiklah Bu aku juga sudah laper banget, dan sudah tidak sabar untuk mencicipi menu makan malam kesukaanku." ucap ana segera menggantungkan handuknya dan berjalan menghampiri meja makannya.


Ana menikmati makan malam yang begitu enak, pengasuh anak sangat baik hati bahkan Winda sudah menitipkan anak kepada pengasuh yaitu dari mulai dia masih kecil.


kini Winda sudah tidak ada, bahkan dia sudah tidak penasaran lagi, giliran pengasuhnya yang menjaga anak dengan baik. Pengasuhnya sangat menyayangi Ana dari semenjak dia masih kecil, karena Ana mengingatkan pada anaknya yang dulu telah meninggal dunia. Kini pengasuhnya menganggap anak seperti anaknya sendiri yang sudah tiada itu.


Pengasuhnya itu duduk di hadapan Ana, dia menunggu dan memperhatikan Ana yang sedang menikmati makan malamnya. Namun dia sambil berpikir akan arti dari penglihatan Ana tadi, dia berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi di rumah itu.


Pengasuhnya tidak ingin mengatakan apapun kepada Ana, dia berencana besok setelah pulang dari toko, akan menghampiri rumah Winda tersebut. Dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia tetap akan merahasiakannya dari Ana untuk saat ini.


Sesungguhnya Ana sudah mempunyai rencana dan tahu maksud dari penglihatannya tadi. Iya juga memiliki rencana yang sama dengan pengasuhnya, akan menyelidikinya sendiri dan juga melihat ke rumah Winda saat sore harinya.


Setelah selesai makan malam, pengasuhnya pun membersihkan rumah dan Ana mencuci piringnya. Setelah semua selesai mereka berdua pun tidur di kamar masing-masing, tapi malam itu Ana tidak bisa tidur dan masih terus teringat akan rumah mamanya.


Saat ingin memejamkan mata, Ana melihat mamanya yang ada di depan rumahnya tua itu. Mamanya tersenyum dan membuka kedua tangannya, seakan ingin memeluk Ana dan mengajaknya untuk tinggal di rumah itu. malam itu Ana semakin gelisah dan semakin penasaran dengan apa maksud dari penglihatannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2