
Anna dan beberapa orang menjalankan misinya untuk membawa Herman saat itu, Ana mencoba berjalan masuk ke dalam rumah tua itu dan beberapa polisi yang menyamar juga ikut masuk ke dalamnya. Herman dengan rasa emosi dan sudah tidak terkontrol lagi, juga ikut masuk ke dalam rumah tua itu. Dan ingin mencegah Ana untuk melakukan sesuatu apapun terhadap rumah tersebut.
Namun segala cara dan perkataan yang dikatakan oleh Herman kepada Ana, tidaklah membuat Ana gentar ataupun mengurungkan niatnya.
Ana masih mencoba untuk berpura-pura ingin menghancurkan rumah tersebut di depan Herman, bahkan dengan sangat lancar dan juga lincah bibirnya mengatakan kepada beberapa polisi yang menyamar tersebut, untuk menunjukkan lokasi-lokasi mana saja yang ingin duluan dihancurkan dan ingin dibangun kembali.
Saat itu juga Herman telah tertipu dengan permainan Anna, dia masih terus percaya bahwa Ana akan menghancurkan rumah tersebut. Sesungguhnya Ana hanya ingin Herman mengakui kesalahannya di depan polisi dan segera ditindaklanjuti melalui ranah hukum.
Setelah mereka masuk ke dalam rumah, arwah Laras muncul di hadapan Herman, tatapan Laras begitu menakutkan dan menyeramkan. Matanya memerah dan kukunya pun keluar tajam, Herman terkejut melihat ada arwah Laras di belakang Ana, dia berteriak dan mundur beberapa langkah ke belakang. Dia seperti orang ketakutan bahkan ingin keluar lari dari rumah tua itu.
Namun langkahnya dicegat oleh Romi, Hesti dan juga Farel yang sudah menunggu dan menghadang di depan pintu rumah tua itu. Kali ini Herman benar-benar tidak bisa berkutik, mereka sudah mengetahui bagaimana tingkah dan pola, serta rencana Herman yang akan lari dari rumah itu, ketika melihat arwah Laras di depan matanya.
"Mau apa kalian?!"
"Siapa kalian, berani-beraninya menghadangku untuk pergi dari sini?!"
"Minggir kalian, jangan menghadang jalanku atau Aku tidak akan segan-segan untuk memukul wajah kalian dan juga tubuh kalian."
"kali ini aku tidak main-main." ucap Herman yang mencoba merogoh dari balik jaket yang dikenakannya, ternyata dia membawa sebuah pistol di dalam sana.
Door!
Door!
__ADS_1
Terdengar suara tembakan yang dilakukan Herman ke arah atas langit-langit rumah tersebut, Herman mencoba menggertak mereka dengan pistolnya agar mereka menyingkir dari hadapan Herman dan memberinya jalan untuk pergi dari rumah tersebut.
Namun Romi dan Farel tidak pergi dari hadapan Herman, sedangkan Hesti yang takut akan mendengar suara tembakan itu, dia berlindung di balik tubuh suaminya. Hesty menutupi wajahnya dengan kedua tangannya Dan dia sangat tidak suka mendengar suara tembakan itu. Dia begitu ketakutan dan tak beberapa lama polisi itu pun menghadang Herman dan menangkap tangannya untuk menjatuhkan pistol tersebut.
Tiba-tiba Laras menghilang dari belakang tubuh Ana dan segera masuk ke tubuh Hesti dengan cepat. Seketika Hesty berteriak sangat kuat sekali lalu dia tertawa seperti orang gila. Suaminya Romi sangat terkejut dengan suara Hesti yang tiba-tiba tertawa dan dia terlihat marah. Hesti menatap Herman dengan tatapannya yang tajam dan bahkan matanya memerah seperti bukan Hesti biasanya yang tadi ketakutan.
"Kali ini kau tidak bisa lari kemana-mana, malam ini juga semua kelakuanmu akan terbongkar." ucap Hesti dengan suara Laras.
"Tidak aku tidak melakukan apapun kepadamu."
"Semua itu bohong dan semua itu adalah ulahmu sendiri itu karena perbuatanmu sendiri." Herman mulai ini mengoceh sedikit demi sedikit Laras mencoba memancingnya.
"Tolong kau jangan menipu mereka, mana kunci gudang di belakang. Kau telah menyimpan mayatku di sana." Laras pembentukan mulutnya dan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kau jangan berusaha untuk menipu mereka semua, aku tidak pernah membunuhmu. Itu adalah kesalahanmu sendiri, kau telah menolak diriku, tapi malah kau yang jatuh dari tangga itu."
Sementara saat Hesti tidur di kamar rumah besar itu. Dia sudah pernah bermimpi, namun seperti kenyataan yang terjadi kepada Laras. Hesti melihat bahwa suaminya Herman, telah berbuat kesalahan dan melakukan kejahatan pada istrinya sendiri. Di lantai 2 Herman mendorong Hesti sampai dia terguling ke bawah tangga dan kepalanya mengeluarkan darah.
Lalu Herman menyeretnya dari bawah tangga menuju ke gudang belakang, setelah itu Hesti tidak mengetahui apa-apa lagi karena dirinya sudah tersadar dari tidurnya. Ternyata apa yang dilihat Hesti dari mimpinya itu, adalah kisah kebenaran atas kematian Laras di tangan Herman suaminya.
Herman masih dipegang oleh keempat polisi yang menyamar tersebut dia mencoba melarikan diri dan membebaskan dirinya dari cengkraman mereka, namun tetap tidak berhasil lalu dari salah satu mereka mengeluarkan boruto untuk mengeluarkan tangan Herman dengan cepat.
seketika Herman menyadari bahwa keempat pria yang ada di sampingnya bukanlah orang biasa mereka melainkan seorang polisi. Lalu dengan secara tiba-tiba Hesti menguasai kembali dan menjadi dirinya sendiri. Hesti juga mengatakan bahwa memang Herman yang melakukan kecelakaan itu dan kejahatan untuk membunuh istrinya.
__ADS_1
Hesti juga mengatakan bahwa Herman menyembunyikan mayatnya Laras di dalam gudang tersebut. Herman pun tidak dapat mengelak lagi, dari apa yang dikatakan oleh Hesti.
Segera dua polisi tersebut menghampiri bidang yang berada di belakang mereka pun mendobrak pintunya dan menggosok pintu tersebut.
Bugh!
Bugh!
Boom!
Terdengar suara pintu yang didobrak kedua polisi tersebut dan dibantu oleh Romi dan Farel. Tak beberapa lama kemudian, pintu itu pun dapat dibuka oleh mereka. Di sana begitu gelap dan lembab bahkan auranya pun sangat menyeramkan. Romi Farel dan kedua polisi itu masuk ke dalam untuk mengecek keadaan di dalam gudang tersebut dan mencari di mana mayat Laras tersimpan di sana.
Mereka masih terus mencari di dalam gudang tersebut, namun tidak ada mayat atau aroma bau busuk di sana.
lalu salah satu dari polisi tersebut mengeluarkan ponselnya untuk menelpon temannya yang berada di kantor agar membawakan dua anjing pelacak untuk melacak mayat Laras.
Herman mulai ketakutan dan dia berkeringat dingin serta jantungnya berdetak begitu cepat. Ana yang pada saat itu melihat Herman sedikit ada merasakan rasa iba, namun semua itu memang harus Herman terima. Karena ulahnya sendiri yang membuat dirinya menjadi terhina, ana masih dapat melihat arwah Laras dan juga ibunya yang masih berkeliaran di dalam rumah itu.
Lalu diam-diam anak pergi ke atas dan berjalan menuju ke kamar ibunya yang sudah tiada. Farel pun memperhatikan tingkah anak yang sedikit curiga gerak-gerik Ana saat itu.
Farel pun diam-diam mengikuti Ana dari belakang tanpa diketahui olehnya.
Ceklek...
__ADS_1
Ana membuka satu pintu kamar yang berada di lantai 2, Farel melihat anak masuk ke dalam kamar itu namun tidak menutup pintunya kembali. Farel diam-diam mengintip dan memperhatikan anak dari balik pintu dan berdiri di luar saja.
Ana sempat menitipkan air mata dan dia duduk di ranjang besar di dalam kamar itu, Farel melihat wajahnya dan juga keadaan Ana yang begitu sangat menyedihkan. Farel tidak tahu apa yang sekarang sedang terjadi dan dirasakan oleh anak saat itu. Ingin sekali Farel menghampiri dan memahami diri Ana, lalu menanyakan apa yang sedang dia rasakan hingga dia harus menitipkan air matanya.