Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 53.


__ADS_3

Lalu keesokan harinya denyut jantung Ana kembali berdetak, Ana pun kembali normal seperti manusia biasanya. Farel pun merasa senang ketika melihat Ana sudah sedikit membaik, Farel pun sangat memperhatikan Ana yang sedang terbaring di kasur.


Ana disuapi oleh Farel, lalu menyediakan obat dan juga air minumnya untuk diminum oleh Ana. Walau kesehatan sedikit membaik, tetapi penyakit jerawat yang ada di wajah belum membaik. Akan tetapi Ana sudah dapat menggerakkan tubuhnya dan tidak merasa kepanasan lagi. tubuhnya yang merasa sakit kini berangsur-angsur sudah membaik.


Farel terus menatap Ana, namun Ana merasa malu karena kondisi wajahnya yang membengkak dan meradang akibat jerawat tersebut. Farel mengerti akan hal itu, ia pun segera mengatakan sesuatu kepada Ana saat itu juga.


"Ana Kau tidak perlu khawatir ataupun malu kepadaku, penyakitmu ini ada hubungannya dengan Monica yang selalu tidak suka kepadamu."


"Sehingga dia mengirimkan sesuatu untuk membuatmu celaka."


"Aku akan membuatkan ramuan untukmu namun tidak bisa selesai dengan begitu saja, Aku akan kembali setelah kau keluar dari rumah sakit ini."


"Setelah itu aku mau kau menjadi istriku, dan jangan pernah menghindar ataupun menolak diriku lagi." ucap Farel yang sekali lagi menyatakan perasaan dan juga cintanya kepada Ana.


Ana merasa terkejut karena Farel menyatakan perasaannya sekali lagi kepada dirinya, padahal Ana sudah pernah menolak dirinya dan memutuskan sebelah pihak untuk tidak melanjutkan hubungan mereka lagi.


Rudi yang mendengar perkataan tersebut dari balik pintu kamar rawat inap Anna merasa kesal, karena Farel sudah lebih dulu menyatakan perasaannya ke Ana. Malam itu Rudi datang untuk melihat keadaan Ana yang sudah sadar dari komanya. Namun Rudi merasa kesal setelah mendengar perkataan dari Farel tersebut, Rudi segera memikirkan rencana jahatnya untuk dapat bisa merebut Ana dari Farel dengan cara apapun.


****


Ana kembali ke rumahnya...

__ADS_1


Pagi itu Hesti dan Romi bergegas ke rumah sakit, begitu juga dengan Farel yang jauh-jauh datang ke rumah sakit di Jakarta untuk menjemput Ana pulang kembali ke rumahnya. Saat itu Ana sangat senang sekali dirinya sudah bisa pulang dan beraktivitas kembali. Namun ketika Ana akan berberes dan keluar dari kamar rawat inapnya, Farel melihat seorang wanita masih tertinggal di ranjang tersebut.


Wanita itu masih terbaring, namun Farel merasa heran wajahnya mirip seperti Ana, tapi faktor usia mereka jauh berbeda. Wanita itu melihat ke arah Farel dan tersenyum dengan manisnya, setelah itu wanita itu menghilang entah ke mana.


Farel tersentak dan merasa kaget, dirinya melihat wanita itu bukan seperti arwah, tetapi ia menghilang seperti arwah. Tiba-tiba Farel mendapat suatu penglihatan, di mana ia bertemu dengan wanita itu dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu pun memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah Winda mamanya Anna.


Selama ini Winda ternyata berada di sisi Ana, dan ia semua yang menyerap penyakit serta apapun yang ada di tubuh Ana. Kini Ana telah pulih dan wanita itu meminta Farel untuk melindungi anaknya tersebut. Farel pun berjanji akan menjaga Ana dan meminta restu untuk segera menikahi Ana.


Winda sudah merasa senang dan juga tenang, karena anaknya sudah ada menjaga dan tidak sendirian lagi di dunia. Winda pun memberi restu kepada Farel dan juga Anna, yang dalam waktu dekat akan menjalankan pernikahan dan mereka pun akan sah sebagai suami istri.


Farel tersadar dan ia segera pergi berjalan karena sudah tertinggal jauh oleh Ana Romi dan Hesti. Sekarang Farel sudah yakin bahwa jodohnya memang bersama Ana dan segera mungkin Farel akan menikahi Ana.


"Farel, aku sekarang sudah merasa yakin dan akan menerima diri mu untuk menjadi pendamping hidupku saat ini." Ana menatap dan wajahnya pun mengarah ke arah Farel yang sedang menyetir.


"Benarkah itu?!"


Ciiitt....


Romi menepikan mobilnya dan berhenti secara tiba-tiba di sana, ucapan Ana benar-benar membuat Farel terkejut sekali. Dengan secara tak terduga Ana mengatakan dan menyetujui Farel menjadi pendampingnya. Setelah beberapa lama berhenti dan berbicara, Farel menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kembali mobil itu ke jalan raya menuju rumah Ana.


Farel mulai menyusun rencana dan berjanji dalam waktu dekat mereka akan menikah. Sementara Rudi yang tidak mengetahui kepulangan Ana, ia datang ke rumah sakit dengan membawa berbagai macam buah-buahan dan juga seikat bunga buket di tangannya.

__ADS_1


Rudi tidak putus asa untuk bisa mendapatkan perhatian dari Ana. Setelah Rudi tiba di rumah sakit, ia langsung berjalan menuju ke merawat Ana. Setelah melihat dan membuka pintu kamar itu, Rudi terkejut ternyata kamar rawat inap tersebut sudah kosong, dan tidak ada yang menempati saat ini.


Rudi pun mencegah perawat yang sedang berjalan melewati dirinya, dia bertanya keberadaan Ana kepada perawat tersebut. Pasien yang berada di kamar rawat inap di depannya ternyata sudah pulang kemarin. Dan Rudi kali ini sudah terlambat untuk menemui Ana di rumah sakit.


Farel lebih cepat maju selangkah dari Rudi yang sekarang sedang mendekati Ana kembali. Rudi tidak tinggal diam begitu saja, dengan cepat ia pergi dari rumah sakit itu. Lalu menyalakan mesin mobilnya untuk melaju ke rumah Ana, dia berharap Ana dapat menerimanya kali ini.


Brem...


Rudi mengemudikan mobilnya dengan cepat, sehingga tidak perlu lama di perjalanan, ia sudah sampai di depan gerbang rumah Ana. Rudi menekan klakson mobilnya dengan lembut, ia datang ke rumah Ana untuk dapat kesempatan dan memberi perhatian ke Ana.


Namun Hesti yang sedang ada di toko galeri Ana memperhatikan Rudi dan merasa heran. Karyawan yang lain bertanya kepada Hesti karena merasa penasaran. Hesti pun menyuruh karyawan itu untuk memberi tahukan kepada Ana bahwa ada Rudi yang ingin bertemu dan berada di luar.


Hesti pun keluar dan menghadang kedatangan Rudi, lalu bertanya keperluan pria itu di depan gerbang galeri tersebut. Pria itu dengan tidak sopan perlakuannya dengan Hesti saat itu.


"Seharusnya kau tidak perlu tahu apa keperluan ku."


"Hanya karyawan saja tapi banyak sekali pertanyaan mu!" ucap Rudi yang begitu kasar terhadap Hesti.


Hesti hanya diam dan masih terus menghadang gerak Rudi sampai Ana datang keluar dari kamarnya. Karyawan mereka yang tadi pun datang kembali, dan menjelaskan Ana akan keluar dari kamar dan menemuinya di luar.


Hesti pun mengerti dan masih menghadang sampai Ana berada di sampingnya. Rudi masih terus memarahi Hesti dan berkata kasar serta tidak sopan. Ana yang datang dan menyaksikan merasa kesal dengan Rudi, lalu Ana memberi tahu kepada Rudi bahwa wanita yang dia caci itu adalah kakaknya Ana dan sekarang menjadi wali dirinya. Rudi terkejut dan meminta maaf kepada Hesti saat itu juga, tapi Hesti malah pergi dan tidak menghiraukan Rudi yang terus berbicara untuk meminta maaf kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2