
Malam itu Ana pun masih di rumah tua milik Winda mamanya, dia masih ingin melayani kedua Allah yang berada di rumah itu. Ana tidak tahu mengapa kedua arwah itu berada di rumah tua milik mamanya. Dia pun bertanya kepada kedua arwah itu dan mencari tahu apa hubungannya rumah itu dan mereka berdua.
Laras pun menampakkan dirinya tanpa bantuan dengan tubuh Hesti lagi. Hesti jatuh pingsan di atas lantai rumah itu, Ana pun membantunya Dan meletakkan tubuh Hesti ke atas sofa di ruang tamu. Lalu Laras melihat ketua arwah itu melayang dan ingin berbuat sesuatu kepada dirinya.
Ana pun sempat menghindar dan menyingkir dari kedua arwah itu, dia sedikit marah dan juga ketakutan. Ana mencoba berlari kesana kemari dari sudut rumah ke sudut yang lainnya. Yang membuat dia heran, mengapa Laras sekarang menjadi arwah penasaran, dan juga ibunya Laras tersebut.
"Apa sebenarnya mau kalian? Mengapa kalian mau menyakiti wanita itu dan juga diriku?!" tanyalah harus kepada kedua orang tua yang selalu daripada mengejarnya.
"Aku sangat ingin menghabisi wanita itu karena aku tidak suka dengan hubungan harmonis mereka berdua."
"Dan aku akan menghabisimu karena kau telah mengganggu rencanaku saat ini!" Laras pun semakin marah matanya semakin membirah menatap Ana di hadapannya.
"Tetapi kenapa?!"
"Kenapa kau, Laras bisa menjadi seperti ini? Bukan kah kamu tengah berbahagia dengan ayahku, yang telah mengambil nya dari mamaku?!" ujar anak penasaran.
"Aku sudah mati, aku telah dibunuh oleh papamu!"
"Dan sekarang, kau ada di sini!"
Akan kubunuh untuk membalaskan dendamku terhadap mas Herman papamu.!" ucap Laras.
Seketika Ana berlari pergi dari rumah itu, dia tidak mau berurusan dengan Laras dan ibunya saat ini. Karena dia belum mampu untuk melawan mereka berdua. Ana berjanji akan kembali lagi dan mencari akal untuk mengusir mereka dari rumah itu.
Ana pun meninggalkan Hesti begitu saja di dalam rumah tersebut, Ana tidak bisa membawanya keluar karena Laras sudah masuk lagi ke dalam raga tubuhnya Hesti. Ana berlari dan menyalakan sepeda motornya, dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui pengasuhnya di sana.
__ADS_1
****
Sedangkan Romi pada saat itu dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Ana yang terlalu lembut hampir saja menabrak mobil Romi yang berada di persimpangan jalan saat akan masuk ke dalam gang rumah itu.
Citt...!"
Suara rem ban mobil Romy pun terdengar sangat keras, dia menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan secara tiba-tiba. Ana pun juga menekan rem motornya agar tidak terjadi kecelakaan, namun anak dan Romi hanya menatap dengan mata mereka tanpa saling berbicara atau berkata apapun saat itu.
Ana kembali menyalakan mesin motornya dan berbelok lalu meninggalkan ngobromi begitu saja, dengan sangat tergesa-gesa dia kembali mengajukan motornya ke arah rumah sakit untuk melihat pengasuhnya.
Sedangkan Romi hanya menatap Ana yang pergi begitu saja, dengan menggelengkan kepalanya, dia melihat Ana yang berwajah pucat dan seperti sedang ketakutan.
"Ada apa dengan wanita itu? Dia seperti baru saja melihat hantu. Tapi wajahnya seperti tidak asing bagiku?!" ujar Romi dalam hatinya.
Romi pun kembali melajukan mobilnya dan segera pulang ke rumah untuk menemui istrinya. mobil itu sudah di depan gerbang rumah besar itu, turun dari mobil membuka gerbang dan menyalakan kembali mesin mobil untuk segera masuk ke halaman.
Tin, tin, tin...!
Romi sangat senang membunyikan klakson, ketika dia sudah berada di depan rumah. Dari dalam mobil, Romi mematikan mesin dan membawa barang-barang serta bungkus untuk diberikannya kepada Hesti. dengan rasa gembira Romi menekan bel rumah dan menunggu kedatangan Hesti untuk menyambutnya di depan pintu.
Ceklek...
Pintu pun terbuka dan Romi masuk ke dalam rumah itu, namun dibalik pintu atau di depan pintu Romi tidak melihat ada Hesti yang menunggunya. Romi merasa heran mengapa pintu itu dapat terbuka sendiri, sedangkan Hesti hanya duduk diam di kursi goyang yang sedang Roni amati.
"Sayang kau sedang apa di sini, mengapa kau duduk lagi di kursi goyang ini?"
__ADS_1
"Apakah kau masih sakit?" Romi bertanya kepada Hesti.
Hesti hanya diam saja saat Romi bertanya padanya, lalu terdengar suara wanita paruh baya yang promil ketahui bahwa itu adalah nenek dari Laras.
"Bu Hesti katanya tidak enak badan tuan... dan tadi baru saya sediakan teh hangat untuk diminum." ucap wanita paruh baya itu dengan suaranya yang sedikit besar.
"Oh ternyata ada ibu di sini, kenapa ibu yang membereskan rumah malam ini. Laras ke mana Bu?" Romi merasa heran, karena biasanya Laras yang membereskan, dan tidak pernah lagi Ibu wanita baru pria itu datang ke rumah.
"Maaf ya Tuan, Laras cucu saya sedang tidak enak badan, dia sekarang sedang beristirahat di rumah."
"Kalau pak Romi ada keperluan atau membutuhkan sesuatu, bilang saja sama saya. Malam ini saya akan menginap di sini bila diperlukan." Ucok wanita paruh baya itu dengan tatapannya yang sangat mengerikan menurut Romi.
"Oh tidak perlu kok Bu, kasihan juga Laras yang sedang sakit berada sendirian di rumah. Malam ini Ibu bisa pulang dan tidak perlu untuk menginap di sini." ujar umi kepada wanita paruh baya itu.
"Ayo sayang, kalau kamu memang sedikit tidak enak badan, berbaring dan istirahat lagi dalam kamar." kamu yang mengajak istrinya ke dalam kamar.
Romi pun memapah istrinya sembari untuk membaringkannya ke atas tempat tidur. Dia juga memberikan teh yang sudah dibuatkan oleh wanita paruh baya itu kepada istrinya.
"Tuan Romi, kalau sudah tidak ada keperluan lagi saya pulang dulu dan ingin mengurus Laras di rumah." ujar wanita itu.
"baiklah Bu, nanti Hesti akan saya yang urus sendiri. Ibu tidak perlu khawatir, pulanglah dan istirahat." Romi pun tidak ada menurut curiga pada wanita paruh baya itu.
Bahkan pada istrinya yang selalu bersikap diam dengan wajah pucat dan tatakan kosong. Romi sekarang sudah terbiasa dengan keadaan Hesti yang seperti saat ini. Menurutnya Hesti hanya tertekan karena harus sendirian di rumah dan tidak dapat bekerja seperti saat dulu dia belum menikah.
Romi sengaja melarang Hesti untuk bekerja di luar, karena Romi ingin mereka cepat memiliki momongan dan segera menjadi kedua orang tua. Romi tak ingin Hesti terlalu kelelahan bekerja di luar yang nantinya akan menghambat dirinya untuk mengandung anak mereka.
__ADS_1
Lalu Romi mencari ide dan juga rencana, agar Hesti tidak bosan di rumah sendirian, dia berpikir mungkin akan mengajak salah satu keluarga, atau temannya yang sudah menikah untuk tinggal bersamanya.