
Laras dan Haris pun sampai di rumah sakit, dengan cepat suster dan dokter menangani Laras seketika saat itu juga. Laras banyak kehabisan darah, dia sangat membutuhkan transfusi darah saat itu juga. Laras segera dibawa masuk ke ruang operasi dan harus ditangani dengan cepat, karena bila tidak langsung ditangani Laras akan meninggal kehabisan darah.
Haris sangat panik dan dia juga begitu takut dengan apa yang terjadi, karena dia tidak tahu kenapa Laras bisa seperti itu saat dia tersadar.
Akhirnya Laras pun keluar dari ruang operasi, dengan para dokter dan suster yang mendorong tempat tidurnya.
Laras dipindahkan ke ruang rawat inap, untuk bisa dicek kondisinya setiap saat oleh suster dan dokter.
Ternyata Laras satu rumah sakit dengan Herman, yang masih kondisinya belum pulih total walaupun sudah sadar.
Sepanjang malam sampai pagi, Haris menunggu Laras di dalam kamar rawat inap itu. Saat malam Anna dan pembantunya datang ke rumah Winda ternyata sudah tidak ada orang.
Mereka melihat begitu banyak darah di tangga tersebut, saat art Laras ingin pergi dari rumah Winda ana masih berada di dalam.
Mbok art Laras memanggil Ana, agar segera keluar dan pergi dari rumah itu. Sebelum ada polisi yang datang dan mengira merekalah pelakunya, dan bertanya kepada mereka.
Ana masih memperhatikan darah-darah itu yang berada di anak-anak tangga. Namun secara tiba-tiba darah-darah itu menghilang tanpa jejak, dan tangga-tangga itu kembali bersih seperti semula.
Seketika anak berlari dan pergi dari rumah itu, selalu pergi bersama art pulang ke rumah Laras. Malamnya art itu kembali lagi ke rumah itu sendirian, dia bermaksud ingin menghapus semua jejak darah-darah itu.
Semua itu adalah suruhan oleh Haris, Haris ingin menghapus jejak darah-darah itu di rumah Winda, agar tidak ada yang tahu dan mencari tahu apa yang terjadi.
Namun ketika saat art itu ingin menghapus dan mengepel darah ditangga-tangga itu, Winda datang dengan wujudnya yang menyeramkan dan menakuti art tersebut.
"kau! Ternyata kau, masih saja mengikuti apa kata-kata mereka..!"
"Dan kau juga yang menolong Laras, ketika dia membunuhku bukan...?!"
__ADS_1
"Untuk mencampakkan aku di mobilnya dan membakarnya." Ucok Winda yang mengingatkan kembali art itu.
"Ternyata kau, yang menyebabkan semua ini?!"
"Maafkan aku, aku hanya ikut perintahnya saja jangan kau bunuh aku!" ucap art itu terbata-bata, karena ketakutan melihat Winda berada di depannya, dengan wajah yang begitu seram dan marah kepadanya.
Akhirnya pada saat itu, Winda melampiaskan juga amarahnya kepada art Laras. Mbok art itu pun lari pergi keluar dari rumah itu, namun Winda tetap mengejarnya. Hanya art itu saja yang dapat melihat Winda yang terus mengajar dirinya.
Laras sadar dari biusnya sehabis operasi, lalu dia melihat harus di sampingnya. harus pun tersenyum kepadanya dan merasa senang karena Laras sudah senyuman dari pingsannya saat di bius.
"Kau sudah sadar sayang bagaimana ini bisa terjadi mengapa kau terluka parah?" tanya Haris yang tak mengerti kejadian sebenarnya.
"kau bertanya padaku mas Haris? Bukannya semua ini salahmu kau! Marah kepadaku, lalu kau melampiaskan semuanya kepadaku?!" ucap Laras dengan ketusnya.
"Pergilah kau dari sini!"
"Aku hanya ingin dengan mas Herman saja, dan tak mau dengan kamu lagi." ucap Laras yang menepiskan wajahnya, dan belakangi Haris karena dia sangat marah kepada Haris.
Haris pun pergi dari rumah sakit itu, meninggalkan Laras dengan perasaan kecewa dan juga marah. Saat hari itu ingin pergi pulang ke rumah Laras, dan ingin mengambil Aldi dari rumahnya, Haris melihat begitu banyak orang berkumpul di depan kompleks perumahan Laras.
Haris pun menghentikan mobilnya, dan turun karena ingin bertanya kepada mereka semua. Haris berjalan mendekati mereka semua dan ingin bertanya ada apa sebenarnya, lalu harus terkejut melihat bahwa pembantunya Laras telah bersimbah darah di depan komplek perumahan Laras.
Namun seketika Haris tak ingin ikut campur, dia berlari masuk lagi ke dalam mobilnya dan meneruskan perjalanan yang menuju rumah Laras.
Sesampainya di rumah Laras, Haris pembawa Aldi dan meninggalkan Ana sendirian di rumah Laras.
Haris dan Aldi pun pergi, mereka pulang ke apartemennya. Winda lalu datang menemui Ana dan menyuruh Ana untuk datang ke jalan anggrek merak nomor 5 untuk menemui pengasuh lamanya.
__ADS_1
Di sana pengasuh lamanya sudah tahu bahwa Ana malam itu akan datang, karena sebelumnya Winda sudah memberitahu kepada pengasuh tersebut. Pengasuh tersebut sudah bebas dari penjara, dan Winda juga ingin menuntut balas, karena pengasuhnya yang dituduh telah membunuh dirinya.
"Mbok ini Ana, Mama menyuruhku untuk pergi ke rumah ini, mbok apakah ini rumahmu?"tanya Ana yang setelah dipersilahkan masuk oleh mbok bibi pengasuhnya.
Dan sekarang Ana, diasuh orang pengasuhnya itu lagi. Aldi sekarang bersama Haris papa kandungnya, dan Herman belum menyadari saat ini juga. namun Herman tetap diam saja ketika surat-surat aset miliknya sudah ditandatanganinya untuk Aldi karena dia masih berpikir Ali itu adalah anak kandungnya.
Suster mengatakan kepada Aldi bahwa istrinya ketika dia sedang sakit menunggunya di rumah sakit, kini sedang berada di rumah sakit juga karena mengalami sebuah kecelakaan.
Herman pun meminta suster itu mengantarkan dirinya, ke kamar di mana Laras dirawat. Herman ingin melihat keadaan Laras saat itu, dan sangat khawatir mendengar berita dari suster.
Suster itu pun mendorong kursi roda Herman, dan melihat ke kamar Laras. Laras melihat Herman lalu terkejut, ternyata dia baru tahu bahwasannya Laras dan Herman satu rumah sakit sekarang ini. Akhirnya Herman menyuruh suster, untuk menyatukan mereka saja dalam satu ruangan.
Saat ini Herman sangat mencintai Laras, karena hanya Laras yang dia miliki istri satu-satunya. Herman tak ingin Laras tiada seperti Winda, dan dia merasa akan kesepian bila ditinggal kembali. Namun dia tidak tahu bahwa Laras terlalu licik, dan tidak sebaik Winda istrinya yang pertama.
Namun saat ini Laras masih menjalankan kebohongannya, untuk mendapat rumah Winda peninggalan papa dari Winda. Herman masih memberi perhatian penuh kepada Laras bahkan Laras dimanja dan disayang oleh Herman.
Dokter sudah memberi kabar bahwasanya, mereka dapat pulang setelah 4 hari kedepannya. Herman pun merasa senang, karena untuk sudah dapat pulang bersama Laras nantinya. Namun ada satu hal yang dipertanyakan oleh Herman, yaitu Aldi anaknya di rumah, yang selalu tidak pernah datang ke rumah sakit untuk menjenguk mereka.
Namun Laras sangat lihai untuk menenangkan Herman, bahwasanya Aldi saat ini sedang berada di rumah bersama art mereka. Laras tidak mengetahui bahwa art itu sudah mati, terbunuh arwah Winda telah membalas dendam kepada art mereka juga.
Herman terlebih lagi tidak tahu, apa saja yang sudah terjadi selama dia berada di rumah sakit. Laras pun tidak ada menceritakan atau memberitahu kepada Herman, mengenai kecelakaannya. Dia berbohong agar Herman tidak mengetahuinya juga, bahwasanya Haris adalah ayah kandung dari Aldi.
Semua itu ditutup rapat oleh, nomor Laras tak tahu bahwa hari sudah membawa Aldi ke apartemennya. Semua sangat sempurna dibuat Laras, akting Laras sungguh luar biasa. Namun Aldi berencana untuk membuat semua rencana Laras menjadi berantakan.
Haris berencana akan buka suara di depan Herman, dan memberitahu bahwa Aldi adalah anak kandungnya, dan bukan anak kandung dari dirinya.
Semua dilakukan oleh Haris, karena rasa kecewa dan rasa marahnya kepada Laras.
__ADS_1