
Romi pun menyiapkan sarapannya hanya dengan roti oles saja, dia bermaksud untuk membawa Hesti lebih cepat ke rumah sakit, lalu mereka akan makan siang di luar.
Hesty pun sudah siap dengan semuanya, dan dia tidak tahu bahwa Romi akan membahagiakan rumah sakit. Mereka duduk di meja makan lalu makan bersama dengan roti olesnya. Setelah itu Romi pun menarik tangan Hesti untuk masuk ke dalam mobil mereka, Romi mengunci pintu rumah mereka lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera Tanjung gas pergi ke rumah sakit.
Di dalam mobil Hesti tidak ada perlawanan ataupun pergerakan, yang menunjukkan bahwa dia menolak atau bertanya sedikitpun mau ke mana. Namun setelah mobil itu keluar dari pagar rumah itu, Hesty tiba-tiba tertidur di dalam mobil itu tanpa Romi sadari.
Sesampainya di rumah sakit, Romi pun membangunkan Hesty, dan dia juga baru menyadari bahwa Hesti selama di perjalanan sudah tertidur.
Hesty terbangun saat Romi membangunkannya, dia merasa kepalanya sangat pusing, tubuhnya juga sangat lemah, bahkan dia berjalan harus dituntun oleh Romi. Romi begitu heran melihat kelakuan Hesti dan sikap Hesti selama ini, terkadang dia hanya bengong, wajahnya pucat, namun pandangannya kosong. Tetapi sekarang badannya terlalu lemah untuk berjalan, kepalanya pusing, wajahnya terlihat segar, entah apa yang terjadi pada Hesti.
Sampai di dalam rumah sakit, Romi menemui suster yang ada di bagian resepsionis, sedangkan Hesti, Romi dudukan di kursi pengunjung yang sedang menunggu. Hesti sedikit heran melihat di sekelilingnya, dia heran mengapa tiba-tiba sudah ada di rumah sakit.
Romi masih terus berbicara dengan suster di balik meja resepsionis itu, dia menanyakan keluhan tentang istrinya dan ingin tahu harus menemui dokter yang mana. Lalu suster itu memberi saran untuk menemui seorang dokter psikiater, yang dapat membantu Romi dan Hesti untuk konsultasi sementara.
Suster itu pun mengajak Romi dan juga Hesti untuk menemui dokter itu, kebetulan dokter psikiater itu bernama Ibu Clara, dan sedang ada di dalam ruangannya saat ini.
Tok, tok, tok..!"
"Permisi dokter Clara.. ini ada pasien yang mau konsultasi kepada dokter." ustaz suster itu sembari membuka pintu dan mempersilahkan Romi dan Hesti masuk ke dalam ruangan dokter Clara.
"Oh iya silakan masuk bapak Ibu, silakan duduk dulu sebentar, saya masih ada yang mau dicatat.
"Terima kasih suster Rani sudah mengantar mereka berdua ke ruangan saya." ucap dokter lara tersenyum kepada suster Rani.
__ADS_1
"Baik Dok, kalau begitu saya permisi bapak dan Ibu silakan konsultasi kepada dokter Clara."ucap suster Rani itu dengan lembut dan perlahan.
"Oh iya suster, Terima kasih sudah mengantarkan kami ke dokter Clara." Ucok Romi membalas perkataan suster Rani.
Saat Clara sedang menulis dan berjalan mengambil sesuatu di dekat lemari, Hesty sedikit berbisik kepada Romi dan dia juga bertanya kepada Romi dengan nada heran dan bingung.
"Mas kok kita ke rumah sakit?"
"Memang siapa yang sakit?" tanya Hesti dengan nada bingung dan juga mimik muka yang sedikit bingung.
"Sudah kamu tenang saja dan diam di sini, kan kamu yang sakit..."
"Yadi bilang kepalanya pusing, badannya lemah, ya mas anter kamu ke rumah sakit."
"Takut kenapa-kenapa sama kamu." ujar Romi menjelaskan kepada Hesti.
Romi semakin bingung dengan pertanyaan Hesti, dari rumah tadi Romi juga sudah mengajaknya, bahkan menariknya ke dalam mobil. Tapi dari pertanyaan itu, Romi menyimpulkan bahwa sudah dari tadi Hesti tidak menyadari sedang berada di dalam mobil. Dan kemungkinan Hesti saat itu sedang melamun, atau itu bukanlah Hesti istrinya seperti kejadian yang dialami Romi tadi malam.
****
Clara pun sudah menyelesaikan tugasnya beberapa menit saja, lalu dia menghampiri kursinya dan duduk di depan kedua suami istri itu. Clara menanyakan perihal dan soal apa yang ingin dikonsultasi atau ditanyakan kepada dirinya.
"Maaf ya bapak Ibu, tadi saya ada sedikit pekerjaan. Terima kasih sudah mau menunggu saya dengan sabar."
__ADS_1
"Nah sekarang sudah bisa kita mulai konsultasi atau bertanya tentang keluhan bapak dan ibu saat ini." ucap Clara kepada Romi dan Hesti yang ada di hadapannya.
"Begini dokter Clara.. belakangan ini sikap istri saya itu sangat aneh, dia sering melamun, pandangannya kosong. Dan juga wajahnya terlihat sedikit pucat, nah kali ini dia berkata kepalanya sedikit pusing, badannya juga lemah. Kira-kira mengapa ya istri saya seperti itu?" tanya Romi kepada dokter Clara.
"Oh begitu, terus bagaimana dengan ibu Hesti apa yang sekarang Anda rasakan. Apakah yang dibilang suami anda itu benar?" tanya dokter Clara kepada Hesti untuk mencari tahu dan melihat bagaimana sikap Hesti saat berbicara kepada dokter Clara.
"Kalau yang dibilang suami saya, saya tidak tahu Dok."
"Seperti wajah saya pucat, saya suka melamun, dan pandangan saya itu kosong. Namun kalau pusing dan juga tubuh saya sangat lemah yang saya rasakan saat ini memang benar." Hesti berkata kepada dokter Clara.
Dokter Clara menganggukkan kepalanya, dan sedikit mengerti dengan keadaan yang dialami oleh Hesti dan juga suaminya. Dokter Clara lalu bertanya beberapa pertanyaan, dan juga ingin mengetahui sejak kapan Hesti bersikap seperti itu kepada Romi.
Akhirnya Romi dan Clara pun saling bercerita, serta bertanya jawab. Sedangkan Hesti hanya mendengarkan dan memperhatikan mereka saja. Romi juga menceritakan tentang kejadian tadi malam yang dialami bersama istrinya, dia menceritakan semuanya secara detail dan juga memberitahu perubahan sikap istrinya itu sangat tiba-tiba.
Setelah berapa lama, Clara pun memberi sebuah nasehat dan bahkan sebuah solusi untuk mereka berdua. Clara menyarankan untuk segera pindah dari rumah itu, dan juga segera meninggalkan rumah itu sebelum ada kejadian yang tidak dapat dicegah.
Dulu juga Clara pernah mendapat pasien, yang seperti mereka berdua alami. Namun saat itu Clara tidak mengetahui apa sebab dan akibatnya, dia hanya berpikir bahwa istrinya itu sedang banyak pikiran atau kurangnya perhatian dari suaminya. Lama kelamaan Clara pun mengerti dengan apa yang terjadi kepada sepasang suami istri itu pasiennya yang dulu.
Lalu Clara memandang mata Hesti dengan penuh perhatian, dan jauh masuk ke dalam pikiran Hesti. Clara bukan hanya seorang dokter pskiater dia juga dapat mensugesti seseorang atau melihat pandangan mata orang dan masuk ke dalam pikirannya.
Di rumah sakit itu Clara adalah dokter yang sangat hebat dan ahli, dalam urusan konsultasi ataupun urusan masalah kejiwaan. banyak pasien yang datang untuk mencarinya dan juga banyak suster serta dokter yang lain sangat mengaguminya.
Tetapi tidak dengan Romi dan Hesti, Romi malah tidak mempercayai, bahwa perilaku Hesti itu ada kaitannya dengan rumah yang mereka tempati sekarang ini. apalagi Hesti dia begitu mendengar pernyataan dari Clara sikapnya langsung berubah menjadi emosi dan juga sedikit berkata kasar kepada dokter Clara.
__ADS_1
Dari situ Clara sudah yakin bahwa rumah itu pasti ada sesuatu yang membahayakan diri mereka berdua. Namun Hesti dan Romi tetap bersikukuh tidak mau keluar dari rumah itu, bahkan mereka keluar dari ruangan dokter Clara dengan rasa marah, emosi serta kecewa, dengan apa yang mereka terima dan mereka dengar dari mulut dokter tersebut.
Akhirnya Romi dan Hesti pun pergi dari ruangan dokter Clara Dan juga pergi dari rumah sakit itu dengan rasa kesal dan emosi. Sedangkan dokter Clara hanya diam dan menggelengkan kepalanya, dia tak bisa berkata apa pun dan juga memaksakan keinginan kepada pasiennya.