
Aldi telah sampai di depan rumah Ana yang sekarang, Dia turun dari taksi lalu membayar ongkos ke sopir tersebut. ia merasa bingung tujuannya ingin ke rumah Ana namun supir taksi itu menurunkannya di sebuah butik dan galeri besar. Namun di depan galeri dan butik besar itu tertulis nama Ana kakak tirinya.
Dengan rasa percaya diri namun sedikit ragu, Aldi melangkah maju masuk ke dalam galeri tersebut. Datang seorang wanita bertanya kepadanya dan mempersilakannya untuk masuk ke dalam. Wanita itu begitu ramah menyapa Aldi dan bahkan dia menanyakan beberapa pertanyaan layaknya seperti seorang penjaga toko atau galeri.
Namun Aldi bukan malah bertanya atau menjawab apa yang dikatakan oleh wanita itu, Aldi malah menanyakan anak kakak tirinya pembeli pemilik galeri tersebut. Sontak wanita pelayan toko itu terkejut dan dengan spontan mengajak Aldi untuk dan menunggu kabar darinya.
"Kalau begitu bapak silakan duduk dulu sebentar, saya akan menelpon Apakah Ibu Ana ada di tempat atau sedang keluar." wanita itu pun segera meninggalkan Aldi dan pergi ke ruang kasir untuk menelpon anak dari meja tersebut.
Wanita itu pun berbicara lewat teleponnya dan tak beberapa lama kemudian dia menutup telepon itu, dengan meletakkan telepon tersebut ke posisi awal sebelumnya. Aldi yang memperhatikan dari jauh wanita itu segera berdiri setelah wanita itu berjalan ingin menghampiri dirinya.
Wanita itu pun mengajak Aldi untuk mengikuti dirinya berjumpa dengan Ana yang berada di ruangannya saat ini. Tak beberapa jauh melangkah dari tempat galeri tersebut, ada lorong kecil yang harus mereka lewati, begitu penuh dengan bunga-bunga. Ana sekarang berada di taman belakang gazebo, tempat biasa dia melakukan kegiatan-kegiatan seperti mengecek beberapa barang dan juga berkas-berkas, yang harus dia tanda tangannya untuk pengiriman ke luar negeri.
Setelah sampai di taman belakang wanita itu mempersilahkan Aldi untuk bertemu langsung dengan Anna, yang sedang sibuk dengan pena dan kertasnya. Wanita itu pun menyapa Ana dan mempersembahkan Aldi untuk duduk di depan anak saat ini, Ana tidak melihat atau memandang ke arah mereka karena dia sedang sibuk dengan pena dan kertasnya. Namun Ana berkata kepada wanita itu dan juga Aldi dengan sopan mempersilahkan mereka.
__ADS_1
Tak lupa juga Ana mengucapkan terima kasih kepada pelayan tokonya, karena sudah mengantar Aldi kepadanya. Aldi saat itu tidak langsung duduk, melainkan dia memperhatikan Ana yang sibuk dengan tugas-tugasnya, lalu dengan ragu membuka pembicaraan karena sudah lama tidak berjumpa dengan kakak tirinya itu.
Ana menatap ke arah Aldi ketika mendengar suara pria itu, Laras tidak begitu mengenali parasnya. Bahkan harus bertanya kepada Aldi perihal tentang keinginan Aldi bertemu dengan dirinya.
Dengan perlahan bergerak untuk duduk, Aldi menceritakan keinginannya untuk bertemu dengan Ana kakak tirinya tersebut. Dia menceritakan dari awal mimpinya, yang pernah ia alami dan bahkan dia juga menceritakan bahwa dirinya itu siapa kepada Ana.
Betapa terkejutnya Anna saat tahu bahwa pria yang ada di hadapannya adalah Aldi adik tirinya dari Herman dan Laras. Kini Ana tahu bahwa Aldi sangat ingin mengetahui keadaan ibunya dan juga keadaan ayahnya.
Tetapi Ana sedikit ragu untuk menceritakannya kepada Aldi dan meminta pria itu untuk menunggunya sebentar agar pekerjaannya selesai dengan baik.
Ana sangat bingung harus menjelaskan awal mulanya dari mana, namun mau tidak mau Ana harus tetap melakukannya karena Aldi berhak untuk mengetahui orang tuanya. Pekerjaan Ana pun sudah selesai, dan kebetulan jam sudah menunjukkan pukul makan siang. Ana pun segera mengajak Aldi untuk keluar dari rumahnya itu, untuk berbicara sambil menikmati makan siang mereka.
Dengan sepeda motornya, Ana mengajak Aldi keluar ke tempat cafe yang biasa dia makan siang. Semua pegawai di sana sudah mengenali Ana, karena seringnya dia makan siang bahkan makan malam di cafe tersebut. Begitu juga dengan Farel yang selalu tahu kebiasaan Ana yang selalu makan siang di sana.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan Ana pun memulai cerita tentang Laras dan juga Herman, akan tetapi Ana hanya bercerita tentang kebaikannya saja, tidak membuka aib keburukan Laras dan Herman. Ana takut Aldi akan berpikiran sama dan membenci Herman sebagai ayah tirinya.
Tidak berapa lama pesanan makan siang mereka pun datang, Ana tetap melanjutkan bercerita sambil menikmati makan siangnya bersama Aldi. Dari jauh Farel memperhatikan Anna dan Aldi Dia sedikit cemburu dan juga penuh tanda tanya. Tentang pria yang sekarang bersama Ana di cafe yang sama dengannya.
Namun Farel tidak menghampiri mereka berdua, ia hanya memperhatikan dan tidak mau salah mengambil langkah, terburu-buru menghampiri untuk mencari tahu. Farel memperhatikan mereka tidak penuh dengan curiga, karena sikap mereka berdua tidak menunjukkan seperti sepasang kekasih.
Sehingga Farel hanya memperhatikan dari jauh sambil menikmati makan siangnya menatap Ana di sana. Aldi yang mengetahui cerita dari mulut Ana, dia merasa sangat sedih, selama ini dia tidak tahu bahwa Laras sudah tiada. Dan Aldi ingin sekali melihat makam mamanya selagi dia masih berada di Jakarta. Ia juga ingin mengunjungi Herman Papa tirinya yang sekarang sedang berada di penjara.
Ana pun tidak bisa menolak dan berjanji akan membawa Aldi ke makam Laras serta melihat keadaan Herman Papa mereka. Selepas dari makan siang Ana berencana membawa Aldi ke pemakaman Laras, setelah itu ana juga akan membawa Aldi ke penjara di mana tempatnya Herman berada.
Ana langsung membawa hari itu juga karena Aldi memintanya, Aldi mengatakan bahwa dia tidak berlama-lama di Jakarta dan harus kembali bersama papanya. Dia juga mengatakan bahwa saat ini Papa kandungnya tidak mengetahui akan kepergiannya menemui Ana kakak tirinya.
Sehingga membuat Ana sedikit takut akan sepengetahuan Papa kandungnya tersebut dan menyalahkan dirinya. Karena sudah kembali mengingat memori yang telah lalu. Setahu Ana, papa kandung Aldi meninggalkan Laras sebab Harris tidak menyukai kelakuan Laras pada saat itu.
__ADS_1
Haris pergi dengan membawa Aldi tanpa kembali atau memberi tahu keadaan Aldi kepada Laras, sehingga saat itu membuat Laras menjadi frustasi dan juga bertingkah aneh. Semua itu membuat Herman menjadi kesal dan juga emosi setiap harinya, karena hilangnya kendali dan kontrol diri, Herman pun memukul dan juga membunuh Laras pada saat itu. Maka terjadilah pembunuhan tersebut tanpa sengaja, karena telah tersulut api amarah dalam diri Herman.