
Kebahagiaan yang baru dirasakan ketika setelah menikah, harus hancur perlahan. Belum sempat Ana dan Farel menikmati menjadi suami istri, sudah harus mengalami kejadian seperti itu. Dan kini mereka masuk rumah sakit, nyawa Farel terancam karena kondisinya sangat kritis saat ini. Sedangkan keadaan Ana yang terluka, masih dapat di obati dan sekarang dia sudah mulai sadar. Tetapi masih harus di periksa lebih lanjut, karena Ana mengalami luka dalam.
Hesti dan Romi tidak berani untuk masuk ke rumah Ana saat ini. Galerinya saat ini untuk sementara di tutup sampai selesai urusan Ana dan Farel. Ana meminta pada dokter untuk menyatukan ruangannya bersama ruangan Farel suaminya. Ana selalu ingin bersama suaminya dan sekalian memantau Farel dari dekat. Rumah itu benar-benar ditinggalkan oleh mereka, dan tidak ada yang berani untuk mendekati dan masuk kedalamnya.
Sudah 2 bulan berlalu, dan kondisi Farel masih belum ada kemajuan sampai saat ini. Ana masih terus berusaha menunggu Farel sampai sadar, dan dirinya yang akan menangani rumah milik keluarganya.
...****************...
Hari itu, Ana sudah dapat pulang ke rumah. Dan lukanya sedikit membaik, tetapi masih tetap harus kontrol dan meminum obat resep dari dokter tersebut. Ana tetap menjalankan kontrol berobatnya, dan tidak lupa untuk selalu menjaga Farel suaminya yang belum sadar dari komanya.
Siang itu Ana datang ke galerinya, dirinya ingin membereskan semua barang miliknya di sana. Jam masih menunjukkan pukul 13:00 siang, cuaca sangat mengherankan. Hujan turun dengan deras, dan petir menyambar kemana-mana. Suasana sangat mencekam, karena bukan hanya hujan biasa, melainkan badai angin dan guntur juga ikut menggema.
Ana sempat terkejut dan memberanikan dirinya untuk berada di sana terus, karena tak mungkin harus pergi dalam keadaan cuaca seperti itu. Tiba-tiba sebuah etalase terjatuh menimpa dirinya, kaca etalase itu pecah di seluruh tubuhnya. Banyak kaca yang tertancap di tubuh Ana saat itu, sehingga membuatnya menahan sakit dan tidak dapat bergerak kemana pun saat itu.
Sementara Hesti dan Romi sangat khawatir dengan Ana yang pergi entah kemana. Ana tidak ada bilang sesuatu apa pun kepada mereka, karena keadaan cuaca yang buruk. Romi dan Hesti sangat cemas menunggu kabar dari Ana.
Disaat itu Ana yang sedang sendirian menahan sakit di sekujur tubuhnya, karena semua kaca-kaca itu sedang berada di seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. Di dalam galeri itu, lantai sudah berwarna merah karena berlumuran darah Ana yang keluar sangat banyak dari tubuhnya.
Dirinya ingin berbicara namun tidak bisa berkata-kata saat itu, Ana menarik nafasnya sambil berkata dalam hatinya.
"Aku sangat bahagia dapat menikah dengan kamu mas Farel, jangan menyerah tetap berjuang untuk hidup mu."
__ADS_1
"Aku akan pergi dan menunggu mu di sana, jangan khawatirkan aku lagi."
"Cukup kau cintai aku saja sudah sangat cukup bagi ku." Ana bergumam dalam hatinya.
Ana pun menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya di galerinya. Dengan spontan Farel sadar dari komanya dan dia tersadar sambil berteriak memanggil nama Ana saat itu. Hesti dan Romi terkejut dengan segera memanggil dokter dan suster untuk memeriksa keadaan Farel saat itu juga.
Disaat semua sudah di periksa, Farel bertanya keberadaan Ana pada Hesti saat itu. Hesti tidak menjawabnya malah menyuruh Farel, jangan terlalu mencemaskan Ana dan beristirahat menurut Hesti akan lebih baik.
Farel pun segera menuruti perkataan Hesti, ia berbaring dan beristirahat di atas kasurnya. Sementara di luar cuaca sudah membaik, Romi dan Hesti mencari keberadaan Ana. Mereka merasa curiga kalau Ana pergi ke rumahnya, mereka pun pergi mengendarai mobilnya menuju ke arah rumah Ana yang lama.
Dalam perjalanan Hesti sangat cemas kalau Ana ke rumahnya, lagi pula rumah itu masih begitu ganas dengan penghuninya. Sehingga membuat Hesti dan Romi berhati-hati untuk masuk kesana.
Mobil Romi berhenti tepat di depan rumah Ana, mereka pun turun dari mobilnya. Memberanikan diri untuk masuk ke dalam area rumah Ana tersebut. Berjalan menyusuri taman dan masuk ke dalam kamar Ana, tapi tidak menemukan Ana dimana-mana.
Sampai saat itu Hesti melintas masuk ke area galeri Ana untuk mengecek keadaan di dalam sana. Banyak kaca etalase yang perpecahan dan barang-barang jatuh berserakan. Hesti tiba-tiba melihat aliran darah yang sudah mengering, Hesti terkejut dan terduduk sambil berteriak.
Argh...!
"Mas Romi...!"
Hesti berteriak sambil memanggil nama Romi suaminya, Romi pun segera berlari saat mendengar Hesti berteriak dengan sangat keras. Suaminya takut akan terjadi sesuatu pada Hesti istrinya, segera pergi dan berlari untuk cepat sampai ke tempat Hesti berteriak.
__ADS_1
"kamu kenapa Hesti? Kenapa kau berteriak?!" Romi bertanya kepada istrinya.
"Mas lihat daerah itu aku sangat takut mas!" Hesti memeluk suaminya.
Hesti sangat terlihat ketakutan bahkan ia tidak berani untuk mendekati darah tersebut, Romi yang penasaran menghampiri darah kering yang berserat di lantai. Saat mengangkat beberapa barang-barang yang menutupi darah itu, Romi terkejut melihat tubuh Ana yang sudah banyak tertancap kaca.
Dengan rasa tak percaya Romi menyentuh Anna saat itu, Dia memanggil Ana mencoba untuk menyadarkannya. Hesty yang mendengar Romi menyebut nama Ana, dengan cepat menghampiri dan melihat secara langsung, tubuh Ana yang sudah tak bernyawa.
Hesti menangis namun tidak dapat membuat tubuh Ana saat itu, mereka sangat terkejut melihat kondisi anak yang sangat tragis saat kehilangan nyawanya. Kini Ana sudah tiada, sedangkan Farel menunggu kabar dari Romi dan Hesti yang mencari keberadaan Ana saat ini.
Hesti dan Romi bingung untuk mengatakan kepada Farel bahwa Ana istrinya sudah meninggal dunia. Rumah itu benar-benar mengambil tumbal untuk persembahan, kali ini tumbalnya adalah anak sendiri. Sudah habis lah keturunan dari keluarga Ana yang tinggal di rumah tersebut.
Hesty dan Romi pun segera membawa Ana ke dalam mobil, mereka ingin membawa Ana ke rumah sakit, untuk dibersihkan seluruh tubuh wanita itu dari pecahan kaca, agar bisa segera dikebumikan dengan layak. Hari itu juga Hesti dan Romi mengadakan pemakaman untuk anak yang terakhir kalinya.
Namun Farel tidak mengetahui bahwa Ana sudah mereka makamkan sebagaimana mestinya. Hesty dan Romi berencana untuk memberitahu Farel setelah ia sembuh dari penyakitnya, dan dapat pulang ke rumah bersama mereka berdua.
Sulit untuk dijelaskan namun inilah kenyataannya, bahwa Ana sudah tiada di dunia ini. Ana telah pergi menemui ibunya dan juga Ibu pengasuhnya di sana, mereka bertiga berkumpul dan dia sangat senang dapat bersama lagi bersama ibunya.
Sedangkan Herman masih terus berada di penjara sampai seumur hidupnya, dia harus menahan dan merasakan apa yang telah diperbuatnya selama ini. Sampai suatu hari penyakitnya benar-benar bertambah parah, dan ia pun meregang nyawa di dalam selnya tanpa ada yang mengetahui.
Tamat...
__ADS_1