
Ana kembali ke rumahnya dan hari sudah malam, hari ini Ana tidak nafsu untuk makan malam. Ketika Anna kembali ke rumahnya dan memarkirkan sepeda motornya di depan halaman rumah itu, Farel datang menghampiri dirinya. Farel mengapa anak dan mengucapkan selamat malam.
Farel tahu bahwa Ana malam ini belum makan malam, Farel menggenggam tangan Ana lalu mengajaknya ke taman belakang rumah tersebut. Farel mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang dia bawa, membukanya dan menyuguhkannya ke hadapan Ana yang tengah duduk di depan Farel.
"Aku tahu kamu belum makan, Aku sengaja membawakan makanan kesukaan mu saat ini. Aku tidak mau tahu kau harus memakannya, karena aku sudah membawakannya untukmu." ucap Farel sembari mengelus pipi anak dan menyematkan rambutnya yang berantakan ke belakang telinganya.
"Aku tahu hidupmu sangat sulit untuk aku mengerti. Sudah beberapa hari ini aku selalu mengikuti kegiatanmu di luar rumah, ketika aku ada waktu untuk melihat semua kegiatan."
"Namun bukan bermaksud hatiku untuk memata-matamu."
"Aku hanya ingin lebih mengenal dirimu ketika aku mendekatimu kau selalu saja menghindar dariku."
"Dan aku tidak tahu cara lain untuk bisa mengenalmu dan juga mengetahui kehidupanmu."
"Hanya dengan cara itulah, aku bisa mengetahui sedikit kegiatan dan juga kehidupan mu." ucap Farel sambil menatap mata anak yang juga menatap mata dirinya.
Ana menatap Farel sambil memakan makanan yang dibawakan oleh Farel. Farel hanya membawa satu bungkusan makan malam saja dan dengan satu botol air mineral, serta satu kotak susu untuk diminum oleh Ana. Sudah ada satu jam Farel menunggu Anna di depan galerinya, bahkan dia belum makan malam Saat itu juga. Dia hanya memakan sepotong roti di saat menunggu Anna sedari tadi di dalam mobilnya depan pintu gerbang.
Ana tidak mengatakan satu kata pun kepada Farel, dia hanya terdiam dan menanti kata-kata apalagi yang diucapkan oleh Farel kepadanya. bahkan rasa nikmat dari makanan kesukaannya itu pun tak berasa baginya yang paling dia tunggu dan nantikan serta nikmati saat ini kata-kata Farel begitu lembut dan sangat menyentuh hatinya.
__ADS_1
"Ana, aku tahu mungkin aku bukan pria yang baik. Tetapi dengan cara kau menerima pernyataan perasaanku, aku akan belajar menjadi seorang pria yang baik untukmu."
"Jadi aku katakan padamu bahwa aku sangat menyayangimu dan mencintaimu maukah kau menerimaku menjadi pendamping hidupmu?" tiba-tiba Farel menyatakan perasaan yang secara langsung, ketika anak sedang menyuap makanannya ke dalam.
Uhuk...
Uhuk...
Anna terbatuk karena dia tersedak mendengar perkataan Farel yang begitu secara tiba-tiba membuatnya sangat terkejut. Farel pun ikutan panik langsung membuka tutup botol air mineral tersebut, untuk diminumkan kepada anak yang sedang tersedak.
"Apa kau tidak apa-apa Ana?"
"Maafkan aku karena sudah mengejutkanmu, bukan maksud aku..." ucapan Farel terhenti karena jari telunjuk Ana menutup bibirnya.
Farel tersenyum kecil melihat wajah Ana yang memerah dan tersipu malu. akhirnya anak menjadi salah tingkah dan dia melanjutkan kembali makannya serta minumnya sampai habis. setelah itu Farel dan Anna pun berbincang-bincang namun ada sedikit keraguan di dalam diri Ana.
Ana sedikit takut untuk menerima atau membuka hati kepada pria, karena mengingat kembali perilaku papanya yang selalu menyakiti mamanya ketika mamanya masih hidup. Trauma itulah yang membuat Ana tidak ingin untuk pacaran atau menerima pernyataan perasaan dari Rudi ketika itu.
****
__ADS_1
Sementara di dalam kamar Ana, lampu tua itu yang sudah dibersihkan dan diletakkan di atas dinding sebagai hiasan, bergoyang-goyang dan jatuh ke lantai. Tutup lampu itu terbuka, debu yang ada di dalam lampu itu tumpah berserakan di lantai kamar Ana.
Lalu tiba-tiba sebuah asap putih mengepul dan menghilang begitu saja, asap itu pergi entah kemana. lalu tiba-tiba karyawan anak yang bekerja di galeri tersebut pada kerasukan dan berteriak-teriak. Kebetulan galeri butik belum tutup dan mereka baru berbenah membersihkan dan mengatur kembali barang-barang untuk segera menutup galeri pukul 22.00 malam.
Keadaan semakin kacau, karyawan berlarian keluar dari galeri dan salah satu seorang dari mereka menelpon ponsel Ana dengan ponsel miliknya. Karyawan tersebut mengatakan kepada Ana, setelah Ana mengangkat teleponnya. Dia juga panik dan sedikit ketakutan, Ana dengan cepat berlari ke depan rumah, melihat keadaan galerinya tersebut.
Tiba-tiba bangunan itu bergetar seakan ada gempa di sana, namun hanya di galeri dan rumah Ana saja yang bergoyang, tetangga dan pemilik rumah lainnya tidak ada yang bergoyang sedikitpun. Semua karyawan histeris berteriak, ada yang kerasukan dan juga ada yang pingsan di dalam galeri itu.
Lalu tiba-tiba Farel mencoba untuk melihat keadaan apa yang sebenarnya terjadi. Farel pun memejamkan matanya dan melihat kondisi di sekitar dalam galeri tersebut. Ternyata ada sebuah arwah jahat yang lepas dari perangkapnya, dan itu merupakan sebuah arwah turun temurun dari leluhur yang menempati rumah Ana tersebut.
Dengan sangat cepat Farel mengetahui bahwa sebuah lampu berada di kamar Anna, telah jatuh dan terbuka tutupnya. Lalu Farel memberitahu kepada anak untuk mengecek lampu tersebut benar atau tidak adanya. Ana pun segera berlari pergi ke dalam kamarnya, untuk melihat lampu antik yang beberapa bulan lalu, ia terima dari para pekerja bangunan.
Dan ternyata memang benar lampu itu sudah jatuh ke lantai dan berserak lah debu yang keluar dari lampu antik itu. Ana segera membawa lampu tersebut dan ingin memberikannya kepada Farel. Setelah Ana sampai Farel pun melihat lampu itu dan mengambilnya dari tangan.
Tak berapa lama kemudian gempa di sekitar rumah Ana pun reda dan situasi kembali normal, namun arwah itu belum dapat ditangani oleh Farel. Dia sudah pergi menghilang entah ke mana, Farel mengingatkan serta khawatir dengan keadaan Ana yang saat malam hari harus sendirian di rumah.
Farel menyuruh anak untuk tidak menutup lampu antik itu dulu, karena suatu saat pemilik lampu antik arwah itu akan kembali ke dalam lampu antik tersebut. apabila lampu itu tertutup sendiri berarti arwah pemilik lampu antik itu kembali ke dalam lampu tersebut.
Farel memberitahu Ana agar lampu itu segera diikat dengan kuat agar tutupnya menyatu dengan badannya, lalu tanam kembali di tempat asal dia berada saat ditemukan. Debu yang keluar dari badan lampu antik itu, merupakan debu orang yang sudah mati, dan abunya disimpan ke dalam lampu antik itu.
__ADS_1
Farel juga tidak tahu mengapa debu itu disimpan di dalam lampu antik tersebut dan dikuburkan di sekitar rumah Ana. Farel hanya tahu arwah itu selalu membawa aura negatif dan selalu membuat masalah, sehingga arwah itu dihukum tidak dapat keluar dari lampu antik setelah disatukan dengan bumi.
Bersambung ya besti...