
Dengan resah Zahira tak bisa memalingkan pandangannya dari cermin, berkali-kali ia mengetatkan pakaian untuk melihat seberapa besar perutnya membuncit.
"Kenapa dek? ko kamu keliatan cemas?" tanya Pras menghampiri.
"Ini sudah empat bulan mas, perutku sudah keliatan membesar."
Pras tersenyum, memeluk istrinya itu dari belakang untuk memberikan kenyamanan yang hangat.
"Itu normal kan?" tanyanya.
"Ya, hanya saja.... aku udah gak bisa kerja lagi, bos tidak mengijinkan wanita hamil kerja padanya"
"Terus kenapa kamu cemas? kan masih ada aku, gaji aku pasti cukup ko buat hidup kita" sahut Pras.
Setidaknya untuk saat ini Zahira bisa bernafas lega, Pras benar-benar tanggungjawab pada ucapannya. Setelah Zahira berhenti kerja ia memberikan semua uangnya untuk di urus Zahira, tapi hanya dalam waktu satu bulan satu percikan kecil menyulut kebakaran.
Zahira baru membenahi pakaian bayi yang baru saja ia beli, beserta perlengkapan lainnya yang kemudian ia simpan pada lemari khusus.
"Dek mana uang yang mas kasih kemarin?" tanya Pras.
"Ada, buat apa mas?"
"Mamah minta uang, katanya dia harus bayar arisan"
"Oh... sebentar" sahutnya sambil bangkit untuk mengambil dompet.
"Mas juga minta buat service motor ya dek, udah waktunya ganti oli jadi mau sekalian aja"
"Tapi mas uangnya gak ada.. "
"Lho ko gak ada? kan semua uang gaji mas kasih ke kamu!" tanya Pras heran.
"Mas... uang gajih udah habis untuk keperluan sehari-hari, aku cuma nyisahin tinggal buat makan sampai akhir bulan aja"
"Ko bisa habis sih dek? kita cuma berdua lho? kamu jangan terlalu boros makanya"
"Maksudnya?" tanya Zahira merasa tersinggung.
"Mas... gaji kamu tuh cuma empat juta sebulan, pake bayar sewa rumah, listrik dan air aja udah ngabisin dua juta lho! belum kebutuhan sehari-hari kita kayak beras dan lain-lain" lanjut Zahira menegaskan.
"Ya makanya kamu harus hemat, jangan belanja mulu.."
"Aku beli keperluan kita mas!" teriak Zahira hampir habis kesabaran.
__ADS_1
"Terus ini apa? makeup kamu tuh udah banyak tapi masih beli lipstick baru, baju kamu juga numpuk tuh di lemari masih beli juga yang baru" sahut Pras sambil menunjuk.
"Itu liptint mas beda sama lipstik, baju yang di lemari juga udah gak muat karena perut aku semakin besar makanya aku beli baru"
"Udahlah gak usah pake banyak alasan! cape tau gak!" hardik Pras yang segera pergi.
Zahira merebahkan diri diatas ranjang, mencoba menenangkan hati yang telah panas. Tapi sayangnya percikan itu kembali lagi, membuat Zahira menyesal telah melepaskan pekerjaannya.
Semakin lama Pras semakin mengeluh saat tahu uangnya habis, meski Zahira memberikan bukti bahwa apa pun yang ia beli adalah sesuatu yang penting.
Tak mau terus di salahkan atas perkara itu akhirnya Zahira mengambil keputusan, secara terbuka ia mengatakan niatnya.
"Mulai saat ini uang kamu yang pegang lagi mas, aku cuma minta buat biaya dapur"
"Terserah kamu, kalau begitu nanti mas kasih perbulan satu juta buat kamu" sahut Pras.
Sebenarnya Zahira cukup keberatan, dengan harga bumbu yang terus meroket tentu saja uang satu juta tidaklah berarti banyak. Tapi itu lebih baik daripada ia harus terus beradu argumen dengan Pras, Zahira mengangguk setuju.
* * *
Waktu berlalu tanpa ia sadari, rupanya matahari sudah meninggi sejak tadi. Kiki me-lap keringat di keningnya, menjatuhkan tubuh di atas kursi untuk mengambil istirahat sejenak.
"Udah selesai Ki?" tanya ibunya sambil membawa segelas es teh manis.
"Sedikit lagi bu" jawabnya.
"Makasih bu.. " sahutnya.
Mereka menatap tumpukan kardus tepat di depan mata, cukup banyak dan masih berantakan di sana sini.
Beberapa minggu yang lalu ia mengadakan acara amal di kampus, tak di sangka ternyata banyak berminat sehingga ia bisa mengumpulkan banyak donasi.
Ada yang menyumbang berupa pakaian, alat tulis, buku-buku hingga uang. Karena ia seorang panitia mata semua barang hasil penyumbang di tampung dalam rumahnya untuk di bereskan terlebih dahulu sebelum di berikan kepada anak-anak.
Maka di sanalah ia, setiap minggu akan sibuk dengan membereskan kardus berisi barang-barang untuk anak.
"Ibu ada sedikit rezeki, ibu titip ya buat anak-anak di panti"
"Oh iya, makasih bu" sahutnya menerima uang itu.
"Assalamu'alaikum... " ucap seseorang di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam... eh.. nak Dimas, masuk nak" jawab ibu ramah.
__ADS_1
Dimas tersenyum, terlebih saat Kiki ikut menghampiri.
"Cepet amat kamu sampai, barangnya masih aku beresin belum kelar semua" ujar Kiki.
"Gak apa-apa Ki, aku bantuin beresinnya"
"Ayo masuk nak, ibu bikinin minuman dulu" ajak ibu.
"Iya bu, maaf ngerepotin.. " sahut Dimas.
Ibu hanya tersenyum, kembali ke dapur untuk membiarkan mereka pada pekerjaan itu. Dengan bantuan Dimas hanya butuh waktu lima belas menit saja dan pekerjaan pun selesai, mereka bisa bersantai sejenak sebelum pergi ke panti.
"Hari ini ada anak baru di panti, namanya Michelle. Orangtuanya cerai dan awalnya dia ikut sang ibu, sayangnya ibunya meninggal belum lama ini dan ayahnya tidak tahu dimana. Nenek kakeknya terlalu tua untuk mengurus sehingga mereka sepakat untuk menitipkannya di panti, dia punya sedikit trauma sehingga susah bergaul dengan anak-anak yang lain" ujar Dimas bercerita.
"Innalillahi wa'innailahiroojiun... pasti berat buatnya di tinggal sang ibu"
"Karena itu aku mau minta bantuan kamu, aku harap kamu mau nyoba deketin dia. Mudah-mudahan kalau kamu yang ajak ngomong dia mau terbuka, soalnya ibu pengurus udah nyoba dan gak berhasil"
"Ya, aku pasti akan coba. Mudah-mudahan dia mau terbuka sama aku" jawab Kiki setuju.
Obrolan itu segera berakhir, Kiki dan Dimas dengan cepat membawa semua barang ke dalam mobil untuk di bawa ke panti.
Tiba di sana semua anak begitu senang melihat berbagai macam barang yang ada, apalagi saat mereka di ijinkan untuk memainkan beberapa permainan yang ada.
Sementara Kiki bergegas menghampiri anak kecil bernama Michelle, dari sorot matanya saja Kiki sudah bisa melihat penderitaannya.
Bibir kering, wajah pucat dan sorot mata yang kosong. Betapa hatinya teriris melihat malaikat kecil itu di selimuti kegelapan, mencoba peruntungannya ia duduk tepat di samping anak itu.
Rupanya Michelle memiliki dunianya sendiri, itu jelas terbukti dari sikap acuhnya pada lingkungan sekitar. Kiki mencoba melihat apa yang di lihat mata anak itu tanpa kata, butuh beberapa menit sampai akhirnya ia menemukan pintu untuk di ketuk.
"Kapal... " ujarnya yang ternyata membuat Michelle melirik padanya.
Kiki membalas tatapan itu dengan senyuman, lalu perlahan ia mengangkat tangan untuk menunjuk langit.
"Yang itu kapal... dan yang di sana bunga.. " ujarnya.
Mata Michelle mengikuti arah telunjuk Kiki, sejenak ia terdiam tapi kemudian ia ikut menunjuk dan berkata.
"Kelinci."
Mereka berdua saling menatap, secara perlahan satu garis senyuman muncul di bibir Michelle. Itu adalah pertanda baik, dengan semangat Kiki kembali menatap langit dan menemukan awan lain yang berbentuk hewan.
"Kalau berani samperin orangnya, jangan diem-diem kayak maling!" tegus Fariz yang membuat Dimas tersentak kaget.
__ADS_1
"Apaan sih?" tukasnya mencoba terlihat normal.
Tapi mata itu tak bisa berbohong, Fariz bisa melihat dengan jelas ada satu percikan di hati Dimas. Itu adalah sesuatu yang pernah ia alami juga sehingga mudah untuk mengenalinya.