Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 52 Cangkang Kosong


__ADS_3

Harusnya ia pulang pagi sekali, tapi karena Ayu masih betah akhirnya mereka kembali saat sudah sore. Setelah mengantar Ayu pulang tak lupa ia menghilangkan jejak dengan menghapus semua pesan dan membuang semua tanda bukti pembayaran.


Baru saja ia juga mengaktifkan kembali ponselnya sebuah telpon masuk, itu adalah dari Nisa.


"Halo kak, ada apa?" tanyanya.


Dari sebrang Nisa langsung marah seketika, karena perintah Dian sejak kemarin ia terus mencoba menghubungi Pras tapi tak pernah berhasil.


Dalam amarahnya itu Nisa mengungkapkan apa yang telah terjadi, tak percaya tanpa mematikan ponselnya Pras segera tancap gas untuk pulang.


Tiba di rumah ia di sambut oleh pengajian yang baru selesai, syok bukan main Pras berjalan terhuyung masuk.


"Zahira.... " panggilnya pelan menatap sembab mata istrinya.


Zahira tak menjawab, setelah rumah itu sepi barulah ia melepaskan kerudung hitam yang sejak tadi dikenakannya.


"Kamu mau kopi mas? kamu pasti lelah habis dari luar kota," sahut Zahira tanpa ekspresi.


"Kenapa kamu gak bilang sama aku?" tanya Pras membuat langkah Zahira terhenti.


"Ada berapa pesan yang belum kamu buka mas? ada berapa panggilan yang belum kamu lihat?" balas Zahira.


Pras tertegun, menyadari kesalahan fatal yang telah ia lakukan. Sementara Zahira tak peduli, ia terus masuk ke kamar Anisa untuk tidur disana.


Sebuah kata maaf yang percuma tetap Pras lontarkan kepada Anisa, hanya saja putri kecilnya itu tak dapat menjawab. Bahkan bulir tanah makam itu tak memberi tanda sebagai balasan maafnya, penyesalan pun tak ada gunanya.


Hari-hari tanpa tawa si kecil membuat rumah itu begitu sepi, lebih hening dari hutan terdalam. Duka begitu menyelimuti Pras hingga tak bekerja selama beberapa hari, sedang Zahira masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya seperti biasa.


Ia tetap masak meski tak ada yang makan di rumah itu, tetap membereskan rumah meski tak ada yang membuatnya berantakan. Jika di lihat sekilas ia tetap menjadi istri yang baik, tapi jika diperhatikan ia bukan lagi seorang ibu yang bahagia.


Tawanya telah hilang, senyumnya sudah lenyap, api kehidupannya mati, ia tak lain hanya sebuah cangkang kosong dan Pras sadar akan itu.


Dalam bibirnya memang Zahira telah memafkan tapi itu tidak mengembalikan Zahira yang baru, Pras mencoba berbagai cara agar setidaknya Zahira mau tersenyum tapi semua usahanya gagal total.


Bahkan setelah satu minggu berlalu semenjak kepergian Anisa, Pras mulai kembali bekerja untuk melanjutkan hidupnya.


"Um, masakan mu keasinan dek," celetuk Pras pagi itu saat mereka sedang sarapan.


Biasanya mereka akan menertawakan hal itu, tapi kali ini bahkan Zahira seakan tak mendengar apa yang ia katakan.


"Aku berangkat sekarang," ujar Pra memutuskan untuk pergi sambil membawa tasnya.

__ADS_1


Zahira hanya mengangguk dan mengantarkan sampai depan pintu.


...----------------...


Kali ini entah apa lagi yang terjadi, Pras menghilang tanpa kabar dan itu membuat Ayu benar-benar kesal bahkan amarahnya telah di ambang batas.


Ceklek


"Akhirnya," gumamnya mendengar suara pintu yang terbuka.


Ia sudah siap melontarkan semua kekesalannya, tapi melihat wajah Pras yang lusuh dengan bekas air mata di pipinya tentu semua amarah itu tertelan kembali.


"Ada apa mas?" tanya Ayu pelan.


Pras menatap lesu, kemudian air matanya kembali tumpah dalam pelukan Ayu.


"Anisa... telah pergi... selamanya," bisiknya dengan suara bergetar.


Kabar ini tentu sangat mengejutkannya, pantas saja selama ini Pras tak dapat dihubungi. Sebagai calon ibu ia mengerti bagaimana perasaan Pras saat ini, terlebih ia tahu kedekatan antara mereka.


"Sabar mas, doakan yang terbaik untuknya," sahut Ayu menenangkan.


...----------------...


Hampir satu jam Zahira memegang ponselnya, bulak balik hanya untuk melihat nomor Fariz. Hatinya menginginkan bicara dengan Fariz, tapi setelah apa yang ia rasakan waktu itu membuatnya ragu.


Drrrtttt


Tanpa disangka Fariz menelponnya duluan, gugup serta bingung Zahira memegang ponselnya kuat-kuat. Setelah banyak berfikir akhirnya ia memutuskan untuk menjawab.


"Halo," ujarnya.


"Assalamu'alaikum Za."


"Wa'alaikumsalam, ada apa?" sahutnya.


"Enggak, aku cuma mau tanya keadaan kamu."


"Oh, aku baik ko. Terimakasih," sahutnya merasa senang akan perhatian itu.


"Alhamdulillah, Kiki ngajak makan malam bareng. Kamu mau kan datang ke sini?" tanyanya.

__ADS_1


Andai itu undangan langsung dari Fariz mungkin ia akan langsung setuju, tapi mengetahui itu dari Kiki seketika ia merasa bersalah mengapa mengharapkan Fariz sementara statusnya adalah suami orang.


"Entahlah," jawabnya.


"Ayolah Za! ada sesuatu yang ingin ku bicarakan, lagi pula kau harus pergi keluar untuk menghirup udara segar," ujar Kiki yang segera merebut ponsel itu.


"Kau memang suka memaksa," keluh Zahira dengan sedikit senyum di ujung bibirnya.


"Memangnya kenapa? pokoknya kau harus datang!" ujarnya bersikeras.


"Hahahaha, turuti saja Za. Kamu tahu gimana Kiki kan, ya udah kami tunggu nanti sore. Assalamu'alaikum," ucap Fariz menyelesaikan teleponnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zahira pelan.


Jika di pikir lagi saat ini ia memang sedang membutuhkan teman, tidak ada salahnya untuk pergi maka Zahira pun memenuhi undangan itu.


Kiki dan Fariz benar-benar senang akan kedatangan Zahira, ia segera di bawa masuk untuk sekaligus menyiapkan meja makan.


"Za kenalin ini Dimas," ujar Kiki mengenalkan.


Zahira tersenyum dan sedikit menundukkan kepala begitu juga dengan Dimas, sebab semuanya telah siap maka mereka pun segera memulai acara makan malamnya.


Hanya di tengah orang-orang itu Zahira bisa tersenyum dan tertawa meski belum lepas seperti biasanya, selesai makan mareka mengenang masa sekolah dulu dan mesantren dimana banyak hal lucu yang mereka tertawakan.


Di tengah keramaian itu tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis yang membuat mereka hening seketika.


"Itu pasti Atha! biar aku lihat dulu," ujar Kiki.


"Aku ikut!" seru Dimas sambil bangkit.


Tinggallah kini hanya Fariz dan Zahira berdua, saling menatap dan melempar senyum suasana mendadak hening yang membuat Zahira merasa canggung.


"Sebenarnya ada alasan khusus kami memanggilmu kemari," ujar Fariz.


"Apa itu?" tanya Zahira.


"Aku... dan Kiki sudah membahas hal ini berulang kali, menimbangnya tanpa melupakan semua orang yang terlibat. Akhirnya setelah banyak pertimbangan itu kami pun sepakat untuk berpisah."


"Apa? apa maksud mu?" tanya Zahira kaget.


"Aku dan Kiki, kami akan bercerai."

__ADS_1


__ADS_2