Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 55 Berakhir


__ADS_3

Pekerjaannya tak banyak seperti biasa, hanya memantau jalannya restoran dan memeriksa beberapa dokumen. Banyak waktu senggang yang ia miliki sampai akhirnya benaknya melayang begitu saja, pergi menemui Atu yang tak bisa menghentikan tangisnya.


Ada perasaan bersalah yang cukup dalam pada gadis itu, sesungguhnya ia tak pernah bisa bersikap sekejam itu kepada Ayu setelah mengetahui latar belakangnya.


Tapi kembali semua demi keutuhan rumah tangganya yang sedang bina kembali, mengetahui sifat Zahira ia merasa beruntung tak ada keributan besar yang terjadi.


Kini hatinya benar-benar bimbang, dihantui rasa bersalah yang menenggelamkannya pada penderitaan.


Tok Tok Tok


Ketukan di pintu itu menyadarkannya, memperbaiki cara duduk di persilahkannya sang pengetuk pintu untuk masuk.


"Permisi pak, ini ada paket untuk bapa," ujar pegawainya.


Pras menerima sebuah amplop besar berwarna coklat itu, penasaran ia segera membukanya setelah menyuruh pegawainya pergi.


Amplop besar itu rupanya berisi sebuah kertas, saat dibaca Pras seketika mengerutkan kening dengan keras. Tanpa kata ia membawa kertas itu pergi bersamanya, menemui orang yang sudah mengirimkannya.


"Zahira!" teriaknya begitu sampai di rumah.


Zahira tahu ini pasti akan terjadi, dengan santai ia menghampiri sambil membawa secangkir teh yang ditaruhnya di atas meja.


"Apa ini?" tanya Pras sambil menunjukkan kertas itu.


"Kamu bisa baca kan?" balas Zahira.


"Kenapa kamu lakukan ini? bukankah kita baik-baik aja?" tanya Pras.


Zahira segera memberikan tatapan tajam, sarat akan tuduhan atas semua kesalahan yang telah Pras lakukan.


"Jika aku berselingkuh dan tidur dengan seorang pria apa kau bisa memaafkan ku?" tanya Zahira dingin.


"Jadi ini masalah Ayu, bukankah kamu sendiri yang bilang kita mulai lagi semua dari awal? aku sudah ninggalin dia seperti yang kamu mau!" ujar Pras.


"Aku memang mengatakan semua itu, tapi bukan berarti aku bisa memaafkan mu."


"Jadi ini yang kamu inginkan? kamu ingin kita bercerai?" tanya Pras penuh emosi.


"Ya!" sahut Zahira tegas.


"Oke, mulai saat ini aku talak kamu!."


Degh


Entah mengapa Zahira merasa jantungnya bermasalah, seketika ia teringat sosok Pras yang membuatnya jatuh hati. Seorang Pria yang memberinya kekuatan untuk terus menghadapi dunia, yang memberinya kesempurnaan menjadi seorang wanita.

__ADS_1


Ada satu tetesan air mata penyesalan darinya, bukan atas keputusan yang telah ia ambil melainkan pada takdir yang mengharuskannya melalui semua cobaan ini.


Segera setelah Pras menandatangani surat perceraian itu Zahira memilih pulang ke rumah bunda Fatimah, ia menceritakan apa yang telah di lalui.


Ayahnya marah besar, tentu kepada Prasa yang telah menyia-nyiakan putrinya. Sementara bunda dengan penuh kasih sayang memeluk dan memberinya dukungan penuh.


"Bunda benar," ujar Zahira dalam pelukan bundanya.


"Ternyata hidup berumah tangga tidaklah mudah, aku sadar aku terlalu muda untuk menganggung cobaan ini."


"Tidak seperti itu sayang," sahut bunda.


"Meski kalian masih muda saat memutuskan untuk menikah tapi jika kalian mau saling menguatkan maka pernikahan itu akan langgeng, bunda tidak menyalahkan mu karena sebagai wanita bunda pun sangat sakit hati atas pengkhianatan Pras, tapi begitulah hidup. Sebab rumah tangga adalah ibadah yang paling panjang maka setan pun akan berusaha keras untuk memutuskan ikatan halal itu, sekarang semuanya sudah terjadi. Sebaiknya kamu lebih mendekatkan diri kepada Allah, akui semua kesalahan mu dan minta pengampunan pada Sang Pencipta."


Lama Zahira merenung, hari-hari setelah ia menyandang status janda ternyata tidak mudah juga. Banyak gunjingan dari tetangga hanya karena ia ketahuan pulang malam, padahal ia baru selesai mengurus restoran yang kini menjadi miliknya.


Meski cukup mengganggu tapi kali ini ia tak mau mengikuti kata orang, terakhir kali ia terpengaruh akan gosipan itu semuanya menjadi berantakan.


Beberapa bulan kemudian sebuah surat undangan datang, itu dari Kiki dan Dimas yang menyelenggarakan pesta pernikahan mereka.


Sebagai sahabat Zahira tentu datang, memberikan ucapan selamat serta doa agar mereka selalu diberi kebahagiaan.


"Aku dengar kamu yang jadi wali nikah untuk Kiki," ujar Zahira kepada Fariz yang duduk tepat di sampingnya.


"Mm, om yang minta jadi aku gak bisa nolak."


"Um... Za, aku baru dengar dari Kiki tentang perceraian kalian. Aku harap kedepannya apa pun masalah yang kamu hadapi kamu mau bicara sama aku," pinta Fariz.


"Enggak Riz, mulai saat ini semua masalah hanya akan aku ceritakan pada suamiku."


"Kalau begitu jadikan aku yang halal untuk mu," ujar Fariz yang membuat Zahira menoleh padanya.


Zahira menangkap ketulusan di mata itu juga sebuah perasaan yang telah lama terpendam, sayangnya ia belum siap untuk kehidupan yang baru.


"Maaf Riz, aku ingin memperbaiki dulu hubungan ku dengan Allah. Selama ini ada banyak sekali dosa yang ku perbuat, aku butuh waktu."


"Tidak apa-apa, bertahun-tahun aku menunggu kamu jadi tidak masalah jika harus menunggu beberapa tahun lagi," sahut Fariz ikhlas.


"Kenapa kamu begitu setia? aku yakin bukan hanya aku wanita yang ada dalam hidup kamu," tanya Zahira tak mengerti.


"Ada banyak, beberapa kali aku pernah memiliki hubungan tapi semua berakhir begitu saja. Mungkin jodoh ku memang kamu dan sudah menjadi ceritaku harus menunggu," sahutnya dengan santai.


Zahira hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, sungguh mungkin pada akhirnya ia akan luluh dan menerima pinangan Fariz tapi bukan dalam waktu dekat.


...----------------...

__ADS_1


Beberapa bulan sebelumnya.


Perasaan marah, kecewa, sedih dan tercampakkan membuat Pras mengambil keputusan tegas. Ia benar-benar menyetujui perceraian itu hingga akhirnya benci menjadi satu-satunya perasaan yang tertinggal, apalagi mendapati bahwa semua aset menjadi milik Zahira.


Tak terima sebab ia merasa ia pun berhak segera ia pun mengajukan gugatan, perebutan aset itu tak terelakkan hingga harus ke ruang sidang.


Butuh setidaknya dua kali pertemuan sampai akhirnya hakim memutuskan untuk membagi rata aset itu, mau bagaimana pun meski yang di pakai adalah uang hasil kerja Zahira tapi Pras ikut andil dalam pengelolaannya.


Setelah kedua belah pihak setuju akan keputusan hakim Pras resmi menyandang status duda yang mapan, tapi tak di duga ternyata Zahira lebih pandai dari yang ia duga.


Beberapa minggu kemudian restoran yang ia kelola mengalami penurunan hingga hampir bangkrut, tak ada pilihan Pras harus menjual restorannya demi menutupi hutang.


Tak disangka orang yang membeli restorannya adalah Zahira, setelah mengganti nama restoran itu entah mengapa tiba-tiba tempat itu menjadi ramai.


Kini satu-satunya yang Pras miliki hanya sebuah mobil yang ia gunakan untuk mencari pekerjaan lain, takdirnya kemudian membawa pada Ayu.


Menyimpan rasa malunya dalam kantong Pras mengetuk pintu rumah itu, butuh beberapa detik sampai akhirnya Ayu membukanya.


Melihat Pras berdiri tepat di balik pintunya tentu Ayu cukup kaget, tapi kemudian ia bisa mengerti apa yang terjadi.


"Biar ku tebak, mantan istri mu pasti berhasil mendapatkan semua harta gono gini," ujarnya.


"Kau... tahu dari mana?" tanya Pras heran.


"Beberapa minggu yang lalu ada petugas yang menyita mobil dan beberapa barang pemberian mu sebagai barang bukti perselingkuhan, aku segera mencaritahu apa yang terjadi dan akhirnya mengetahui kalian telah berpisah."


Mendengar hal itu air mata Pras tiba-tiba menetes, ia menangis sejadi-jadinya di hadapan Ayu.


"Aku tidak tahu kalau Zahira sekejam itu, padahal dia yang bersalah. Dia meninggalkan ku keluar negri padahal sudah ku larang, tetap saja dia pergi dan menuduhku bukan suami yang baik. Dengan tega dia meninggalkan Anisa yang masih kecil, padahal aku sudah berusaha keras. Setiap uang yang ia kirimkan aku gunakan hanya untuk Anisa dan membangun restoran seperti yang dia pinta, tapi pada akhirnya dia tetap ingin bercerai setelah menyuruhku untuk meninggalkan mu. Andai aku tahu akan begini akhirnya aku tidak akan berbuat kejam padamu," jelas Pras dalam isak tangisnya.


Atu yang telah bersama menemani Pras dan tahu bagaimana perjuangan dia dalam mengembangkan bisnis itu tentu ikut merasa jengkel, ia tak paham bagaimana Zahira bisa menjadi wanita yang tidak berperasaan.


"Kedatangan ku hanya untuk meminta maaf, itupun sekiranya kau sudi memaafkan."


Ayu tertegun, sejenak ia menatap pria idamannya sampai berakhir dalam pelukannya.


"Mas, mulai saat ini tidak akan ada lagi yang menghalangi kita. Mulai detik ini aku akan menjadi istri sah mu, kita akan terus bersama bukan?" tanyanya.


"Ayu... kamu... masih mau menerima ku?" tanya Pras kaget.


"Bahkan meski kamu suami orang dan aku harus menanggung cacian karena status pelakor aku tidak peduli, lalu sekarang saat sudah tak ada lagi penghalang diantara kita kenapa aku harus menjauhimu?" balas Ayu.


"Ayu... aku mencintaimu," bisik Pras seraya membalas pelukan erat itu.


Ironis bukan? tapi itulah yang selalu terjadi, saat satu hubungan berpisah maka masing-masing akan menceritakan keburukannya bukan kebaikannya.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2