Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 38 Pengkhianatan Seorang Sahabat


__ADS_3

Mereka berada dalam satu tempat yang sama, Dimas tahu ini adalah kesempatan bagus untuk bertanya. Setidaknya mungkin pada akhirnya ia dapat mengerti dan menjalin pertemanan baik dengan Kiki, tapi rasanya tidak mudah meski sekedar menatap matanya.


Pada akhirnya ia hanya duduk termenung, kembali meratapi nasibnya yang sebegitu buruk. Sementara dari jauh Kiki menatap lirih tanpa ada keberanian untuk mendekat meski sekedar untuk menyapa, Fariz yang tak tahan melihat penderitaan mereka berkata, "Kenapa tidak kau jelaskan padanya? aku yakin dia pasti mengerti."


"Tidak semudah itu, bagaimana bisa hati yang terluka akan percaya begitu saja. Lagi pula ibu pergi belum lama ini, hatinya pastilah masih sakit akan kehilangan itu."


"Tapi Ki mau sampai kapan kamu merahasiakan hal ini?" tanya Fariz mulai tak sabar.


"Entahlah, aku juga tak tahu."


"Biar aku yang bicara padanya!" ujar Fariz yang tak tahan.


"Tidak!" sergah Kiki sambil menggenggam tangan Fariz.


Matanya sarat akan permohonan yang begitu dalam, dipenuhi akan ketidakberdayaan yang begitu menyakitkan.


"Kau sudah berjanji padaku, ingat kau tidak akan ikut campur dalam masalah ini!" kata Kiki mengingatkan.


Itu memang benar, empat tahun yang lalu Kiki datang kepadanya dengan satu permintaan besar. Itu adalah saat dimana Zahira telah pergi dari Tanah Air dan dari hidupnya, sebagai teman ia mendukung dan mengambil resiko besar demi sahabat yang paling setia padanya.


"Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya, jika sampai dia tahu dari orang lain tentang kita pasti akan terjadi kesalahpahaman besar," ujar Fariz mencoba upaya terakhir.


"Aku akan bicara padanya, tapi bukan saat ini!" sahut Kiki.


"Baiklah, semua terserah padamu," balas Fariz menyerah.

__ADS_1


* * *


Ada yang aneh, sudah tiga pekan Pras tidak menghubunginya. Bahkan pesan dan telpon darinya tak diangkat, saat ia bertanya pada bundanya tak ada jawaban pasti sebab bunda hanya tahu Pras bekerja tapi tak tahu mulai dari jam berapa atau sibuknya seperti apa.


Sementara saat ia bertanya pada Dian yang ka dapatkan hanya omelan agar jangan terlalu ganggu Pras sebab kini Pras sangat sibuk, selain mengurus Anisa ia juga mengurus dua restoran secara sekaligus.


Entah mengapa dengan lamanya tak ada kabar dari Pras membuat Zahira tak nyaman, ia mulai merasa Pras sudah tak perhatian seperti dulu padahal biasanya ia akan memberi kabar walau sebentar dalam keadaan apa pun.


Lamunannya yang kian liar tiba-tiba buyar saat cici majikannya mengajak bicara, rupanya ada satu hal yang perlu ia bicarakan dengan Zahira perihal pekerjaannya.


Entah apa alasannya Cici meminta Zahira untuk berhenti bekerja, ia akan membayar gaji full walaupun belum genap satu bulan. Awalnya tentu Zahira kaget menerima keputusan Cici sebab ia dikontrak selama lima tahun, tapi setelah bicara dengan pihak agensi itu tidaklah masalah sebab yang memutus kontrak adalah majikannya.


Zahira sebagai karyawan justru mendapatkan bonus dari hal ini, dengan begini ia bisa pulang lebih cepat dari rencana.


Sujud syukur ia panjatkan pada sang Pencipta, ini adalah rezeki tak terduga yang pasti akan membuat semua orang bahagia. Dengan tak sabar ia mulai mengurus semua keperluan termasuk paspor yang paling penting, ia berencana akan pulang tanpa memberi siapa pun untuk mengejutkan semua orang.


Senja kini akan berganti malam, sudah puas ia bermain dengan anak-anak panti hingga lelah ia rasakan. Karena sudah waktunya untuk pulang Dimas pun berpamitan dengan ibu pengurus panti dan juga Fariz, namun langkahnya terhenti di luar saat tak sengaja bertemu Kiki yang sedang menenangkan anaknya.


Di tengah tangisan si kecil mata mereka sempat beradu pandang dengan tatapan sedih, tapi kemudian Dimas menundukkan kepala seolah tak melihat apa-apa.


Ia terus berjalan ke mobilnya dan pergi meninggalkan panti, tapi hati tak bisa bohong. Lewat kaca spion ia masih menatap Kiki yang masih berdiri di sana sambil mencoba menenangkan anaknya, tiba-tiba ia melihat Fariz datang menghampirinya.


Menggendong anak Kiki dan segera tangis sikecil pun berhenti, itu membuat Dimas merasa heran. Hingga sampai dirumah ia merasa ada yang janggal dengan hal itu, esoknya saat ia kembali datang ke panti barulah ia sadar ada sebuah cincin pernikahan tersemat di jari Fariz.


Diam-diam Dimas bertanya kepada ibu pengurus panti dan jawaban yang ia dapat adalah, "Lho? Dimas tidak tahu? Kiki dan Fariz kan menikah empat tahun yang lalu, memang sih mereka menikah secara sederhana jadi tidak banyak orang yang tahu."

__ADS_1


Bagai disambar petir itu adalah kabar buruk lainnya dalam takdir hidupnya, betapa ia tak menyangka sahabat yang selama ini ia percaya dapat berkhianat dengan mudah.


Tak bisa terima hatinya dipenuhi oleh bara yang begitu panas, langkah tegasnya kian mendekati Fariz dan memberikan satu pukulan kekecewaan.


Kaget Fariz hanya bisa menatap Dimas tanpa berkata, tapi setelah melihat matanya yang berair mengertilah ia alasan dibalik pemukulan itu.


"Gue gak nyangka ternyata lu musuh dalam selimut, setega itu lu sama gue!" teriak Dimas meluapkan emosinya.


Fariz hanya terdiam, entah apa yang bisa ia katakan untuk membuat Dimas mengerti bahwa pernikahan antara dirinya dan Kiki tak lebih dari kompromi.


"Jawab Riz! kenapa lu lakuin ini sama gue!" teriak Dimas kembali sambil menarik kerah baju Fariz.


"Kalau gue jelasin apa lu bisa ngerti? apa lu bisa maafin kita berdua?" tanya Fariz tenang.


"Apa ada alasan masuk akal buat pengkhianatan kalian hah? Ternyata selama ini gue salah nilai lu, ya... gue yang salah," ujar Dimas dengan uraian air mata yang deras.


Perlahan tangannya melepaskan kerah baju Fariz, dengan tertatih kesadarannya akan siapa dia sebenarnya muncul sebagai tameng agar sakit dihatinya tidak terlalu menyiksa.


"Dimas," panggil Fariz pelan.


"Sorry Riz, ternyata gue yang salah. Kalian adalah teman masa kecil dan wajar kalau pada akhirnya kalian saling suka, sementara gue cuma orang baru yang berharap lebih."


"Lu salah! gue gak pernah nganggap Kiki lebih dari sekedar sahabat dan dihati Kiki cuma ada lu walaupun status dia istri gue!" bantah Fariz.


"Enggak Riz, tolong jangan hibur gue. Jangan buat harapan palsu lagi, gue udah terlalu muak dengan semua harapan yang pada akhirnya gak ada satu pun dari harapan itu yang berhasil terwujud," pinta Dimas dengan lirih.

__ADS_1


Fariz hendak menjelaskan kembali namun Dimas mengangkat tangan, hanya dengan satu gelengan kepala ia membungkam Fariz. Lalu dengan senyum pahit ia berpamitan pergi, membawa serta robekan hatinya yang kian membesar.


__ADS_2