Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 48 Keadilan


__ADS_3

Kali ini ia bisa memaafkan tapi bukan berarti akan melupakannya begitu saja, meski Pras berhasil menenangkan hatinya dan memberi pengertian bahwa semua itu perlu sebagai sandiwara.


"Ayu!" panggil Pras sambil masuk ke dalam.


"Kenapa lama mas? jalanan gak macet kan?" tanya Ayu ketus.


"Kamu tahu sendiri aku agak kesulitan nanganin Zahira," jawabnya meminta pengertian.


Dua hari telah berlalu sejak pesta ulang tahun itu dan Ayu masih kesal kepada Zahira yang berhasil menarik perhatian semua orang, begitu juga kepada Pras yang dengan mesranya merangkul Zahira.


"Maafin mas ya... " ucap Pras pelan sambil merangkul pinggangnya.


"Tapi kamu udah janji bakal ada buat aku, kamu janji bakal bersikap adil mas!" seru Ayu hampir muak.


"Aku udah bersikap adil sebisaku, tapi kamu tau Zahira adalah istri sah ku."


"Jadi itu alasan kamu lebih berat sama dia? tatap mata aku! sebenarnya siapa yang kamu cintai? aku atau dia?" tanya Ayu tegas.


"Kamu tahu aku kan? apa artinya hubungan kita selama dua tahun kalau aku gak ada perasaan sama kamu! bahkan aku masih pertahanin hubungan kita meski Zahira udah kembali."


"Aku cuma tanya kamu cinta aku atau dia?" ujar Ayu kembali bertanya.


"Tentu aja kamu, kamu yang aku cinta."


Cukup satu jawaban itu yang sejak tadi Ayu nantikan, ia tak butuh yang lain lagi sekarang. Merangkul Pras dengan penuh kasih sayang akhirnya hatinya bisa lega tanpa ada beban lagi, malam itu Pras adalah miliknya hingga pagi datang untuk memisahkan mereka kembali.


Kini dengan sedikit rayuan Ayu mau melepas Pras untuk pulang kerumahnya, kembali seorang diri Ayu tiba-tiba merasa kesepian. Ditatapnya tempat tidur dimana ia banyak menghabiskan waktu dengan Pras, tapi tiba-tiba.


Hueeekkk


Entah apa yang menyerangnya pagi itu, ia tak bisa menahan mual hingga muntah beberapa kali. Menjelang siang perutnya sedikit membaik tapi saat malam mual itu kembali menyerang beserta demam, ia mencoba menghubungi Pras untuk minta diantar berobat tapi Pras tak bisa dihubungi.


Tak ada pilihan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri.


"Silahkan ambil urine dulu ya mbak," ujar dokter kepadanya sambil menyerahkan botol kecil.


Ia pun menurut, semua perintah dokter ia kerjakan sampai semuanya selesai.


"Selamat ya mbak, mbak positif hamil," ujar dokter itu sambil menunjukkan alat tes kehamilan.

__ADS_1


"Apa dok? saya hamil?" tanya Ayu kaget bukan kepalang.


Ingin memastikannya lagi Ayu segera menemui dokter kandungan dan ia mendapati bahwa usia kehamilannya sudah masuk lima minggu, bahkan saat di USG dia bisa melihat bakal janin yang baru terlihat satu titik di dalam kantung rahim.


Pulang dengan membawa buku KIA hatinya bercampur aduk antara senang dan takut, ia merasa masih belum siap menjadi ibu sebab statusnya sebagai simpanan.


"Tidak, aku bisa meminta mas Pras untuk menikahiku. Dia adalah ayah dari bayi ini dan dia harus bertanggungjawab," gumamnya pada diri sendiri.


...----------------...


Setumpuk buku tentang bisnis itu berserakan di meja rias Zahira, membuat Pras heran mengapa tiba-tiba Zahira begitu tertarik akan hal semacam itu.


"Kamu lagi apa dek?" tanyanya.


"Eh mas, ini lagi baca buku."


"Sejak kapan kamu suka baca buku ginian?" tanya Pras lagi sambil mengambil satu buku.


"Aku udah terbiasa kerja mas, walaupun sebenarnya basik kerjaanku gak berubah tapi tetap aja aku ngerasa bosen di rumah terus. Jadi aku berniat mau belajar tentang bisnis biar bisa bantuin kerjaan kamu," sahutnya.


"Ya ampun dek, kalau kamu bosan kan tinggal jalan-jalan."


"Tapi kan kamu selalu sibuk mas, jangankan buat nganter aku jalan-jalan pulang aja kamu selalu larut."


"Bener mas?" tanya Zahira sumringah.


Pras mengangguk dan segera membawa Zahira ke autlet terdekat, karena itu adalah mobil untuk Zahira maka dia yang memutuskan akan membeli mobil yang seperti apa.


Setelah mendapat yang cocok segera mereka pun membelinya, sepanjang jalan hingga sampai di rumah Zahira tak berhenti tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Tapi keesokan harinya senyum itu lenyap begitu saja saat dia pergi ke autlet seorang diri, kepada pelayan bertanya "Apa kau ingat aku? kemarin aku datang bersama suamiku untuk membeli mobil disini."


"Iya mbak, ada yang perlu saya bantu?" tanya karyawan itu.


"Apakah suami ku datang lagi ke sini untuk membeli mobil yang sama?" tanya Zahira langsung pada intinya.


"Benar, kemarin malam saat kami hendak tutup dia datang lagi dan mengatakan ingin membeli mobil yang sama."


Dugaan Zahira benar, Pras akan bersikap adil kepada mereka seperti perhiasan yang ia terima saat itu.

__ADS_1


Dan sikap adil itu justru semakin membuat Zahira merasa terhina, sebab itu sama saja dengan menyamakan kedudukan halalnya dengan pelacur.


Mencoba untuk meluapkan emosinya ia memilih pergi ke rumah panti, setidaknya disana ada banyak malaikat kecil yang membuatnya tertawa juga menemani Anisa bermain.


"Zahira!" seru Fariz senang melihat kedatangannya.


"Hai," sapanya.


"Tumben sekali kamu datang, ada yang perlu ku bantu?" tanyanya.


"Sebenarnya aku punya buku-buku yang gak kepake, aku gak tahu itu bakal berguna atau enggak di sini."


"Oh, biar aku lihat dulu," sahut Fariz.


Segera ia pun membantu Zahira mengeluarkan buku-buku itu dari mobil dan membawanya masuk ke dalam, sementara Anisa ia biarkan bermain dengan anak-anak yang lain.


"Bukunya ke pake kok, di sini juga kan ada anak-anak yang udah sekolah jadi bisa mereka baca," ujar Fariz setelah memeriksa buku-buku itu.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Zahira sembari tersenyum.


Kreeeeeeoookkk


Tiba-tiba terdengar suara perut yang membuat mereka termangu, Fariz yang sadar itu adalah suara perutnya hanya bisa tersenyum malu.


"Kamu belum makan Riz?" tanya Zahira.


"Tadi gak sempat," sahut Fariz sambil menggeleng.


"Aish, gak baik lho ngediemin perut kayak gitu. Ya udah biar aku masakin sesuatu ya?" tawar Zahira.


"Gak usah repot-repot Za! biar nanti beli aja."


"Makanan dapat beli tuh belum tentu higienis, bisa-bisa kamu malah jadi sakit perut."


Tak dapat membantah Zahira akhirnya Fariz pun membiarkannya meminjam dapur panti, dengan cekatan Zahira begitu lihai menggunakan pisau untuk mengiris sayuran.


Untuk pertama kalinya Fariz memakan masakan Zahira dan itu sudah membuatnya senang, terlebih lagi masakan itu enak yang membuat Fariz memujinya.


"Gak usah berlebihan, gak seenak masakan restoran kan?" seru Zahira.

__ADS_1


"Hehehe, sebenarnya emang sedikit keasinan sih," akui Fariz sambil nyengir.


Entah mengapa ekspresi Fariz itu mirip dengan Pras saat mencoba masakannya, alhasil terbesit lah sebuah pemikiran tentang keadilan yang ia dapatkan.


__ADS_2