Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 6 Lidah Yang Tajam


__ADS_3

Kriiingg Kriiingg Kriiingg


Mmmm


Zahira menggeliat di tempat tidurnya, memanjangkan tangannya lebih dari biasanya. Dengan setengah mata terbuka ia melirik jam weker, melihat alarm yang terpasang tepat pukul lima pagi.


Dengan satu tangan ia menekan tombol untuk menghentikan bunyi yang mengganggu itu, melirik pada Pras yang masih pulas rasa kantuknya makin menjadi.


"Lima menit saja" gumamnya lemah untuk kembali menutup mata.


Tapi lima menit itu hanyalah keinginannya bukan tubuhnya, saat terbangun matahari sudah terik di langit.


Dengan kaget Zahira segera bangkit dan pergi untuk mencuci muka, saat itulah Pras ikut bangun.


"Mas, aku kesiangan. Maaf ya kamu beli aja buat sarapan, aku harus buru-buru berangkat kerja" ujarnya sambil bersiap.


"Mmmm" gumam Pras yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Aku berangkat naik ojek aja, gak apa-apa kan?"


"Iya, hati-hati di jalan" sahut Pras.


"Eh ibu... " sapa Zahira saat ia menuju pintu.


"Kamu mau kemana?" tanya Dian.


"Zahira berangkat kerja dulu ya bu, ini sudah kesiangan"


"Oh, ya sudah.. " sahutnya membiarkan Zahira pergi begitu saja.


Dari depan pintu ia melihat Zahira berjalan pergi hingga hilang dari pandangan, barulah setelah itu ia masuk lagi ke dalam untuk menemui putranya.


"Pras.. ibu lapar, apa Zahira sudah nyiapin sarapan?"


"Oh belum bu, kan dia kesiangan jadi gak sempat buat sarapan. Nanti Pras beli dulu ya"


"Gimana sih istri kamu! harusnya dia tuh bangun pagi, buat sarapan baru berangkat kerja" omel Dian yang sudah tak tahan kelaparan.


"Ya kan dia kesiangan bu" sahut Pras pelan.

__ADS_1


"Emang dia gak pasang alarm apa?"


"Gak tahu juga bu"


"Ya udah, gih cepetan beli makanan. Ibu sudah lapar" ucapnya.


Tak ingin membuat ibunya semakin marah Pras pun segera pergi untuk kembali tak lama kemudian, selesai makan Dian membereskan bekas mereka makan dan begitu melihat wastafel di penuhi dengan piring kotor kekesalan kembali lagi.


Sambil menggerutu ia cuci semua piring itu dan menyimpannya di tempatnya, selesai pada pekerjaan itu tiba-tiba ia teringat akan pakaian kotor.


"Jangan-jangan si Zahira gak nyuci pakaian juga" gumamnya dengan perasaan tak enak.


Bergegas ke sisi lain kamar mandi ia melihat tumpukan pakaian kotor di dalam mesin cuci, menggelengkan kepala dengan geram Dian hanya bisa mengelus dada.


Sore hari saat Zahira baru pulang kerja semua unek-unek yang sejak tadi ia pendam akhirnya di keluarkan, tanpa peduli keringat Zahira yang belum kering dari pekerjaannya di toko.


"Zahira lain kali kamu pasang alarm sebelum tidur supaya gak kesiangan, sebelum berangkat kerja kamu tuh harus siapin sarapan dulu buat suami mu! itu tugas istri yang gak boleh kamu lewatkan, ibu benar-benar kecewa ya sama kamu... Piring kotor numpuk, cucian baju numpuk, rumah berantakan! kerja sih boleh tapi tugas istri jangan sampai kamu abaikan!" gerutunya.


"Maaf mah, nanti Zahira kerjakan semua"


"Gak perlu! semua udah mamah kerjakan, mana tega mamah liat Pras tinggal di rumah yang kotor kayak gitu" bentaknya.


Sambil menahan air mata agar tak jatuh saat itu juga, badannya telah remuk akibat lelah di pekerjaan sekarang hatinya pun ikut remuk atas semua amarah dari mertua.


Satu hari yang berat itu akhirnya ia tutup dengan memasang alarm lebih awal, tentu ia tak ingin kembali kena amarah mertuanya akibat kesalahan yang sama.


Esok paginya ia benar-benar bangun pagi dan mengerjakan semua pekerjaan rumah hingga menyiapkan sarapan saat Pras dan mertuanya masih tertidur lelap, walaupun badannya terasa semakin remuk dan sakit di sana sini.


"Pagi mah... " sapanya saat melihat Dian keluar dari kamarnya.


"Wah... kamu udah bikin sarapan?" tanyanya melihat meja makan yang sudah di penuhi lauk.


"Iya mah, mamah mau sarapan sekarang?" tawarnya.


"Boleh, dimana Pras?" jawabnya sambil tersenyum.


"Masih tidur, biar aku bangunin dulu" ujarnya hendak berjalan ke kamar.


"Eh gak perlu, kasian Pras. Dia pasti masih ngantuk, jangan kamu bangunin"

__ADS_1


"Tapi... ini kan udah siang juga, terus aku juga mau berangkat kerja"


"Ya kamu kan bisa naik ojek kayak kemarin" tutur Dian.


Ucapan itu benar tapi sekaligus salah bagi Zahira, tentu karna masalahnya kemarin Pras baru bangun tidur dan belum siap mengantarnya berangkat kerja. Sementara ia sedang memburu waktu agar sampai toko tepat waktu, berbeda dengan kali ini.


Meski begitu Zahira tak mengatakan apa pun lagi, ia duduk menemani mertuanya sarapan sebelum kemudian berangkat kerja.


"Kamu kenapa Za? sakit?" tanya Kiki melihat wajah kusut sahabatnya itu.


Sejenak Zahira menatap Kiki, sedikit menimbang sebelum berkeluh kesah. Ia menceritakan bagaimana kata-kata mertuanya yang telah menyakiti hatinya, walaupun semua ucapan itu ada benarnya tetap saja tidak mudah bagi Zahira untuk menerimanya.


"Kamu yang sabar ya Za, mertua mu emang kelewatan deh ngomongnya" ujar Kiki yang ikut kesal.


"Iya Ki, makasih ya kamu udah mau dengerin curhatan aku"


"Sama-sama, kan aku udah bilang gak perlu ragu kalau mau cerita" sahutnya.


Rutinitas mereka di toko akhirnya selesai, seperti biasa Pras menjemput Zahira yang di temani Kiki.


Perasaan lelah habis bekerja membuat Zahira terkulai lemas di kursi, sambil mengumpulkan energi ia memainkan handphone sebelum kembali mengerjakan tugas rumah.


"Ya ampun Zahira.... ini sudah hampir waktunya makan malam! kamu ko malah main handphone di sini sih bukannya cepat-cepat masak" tegur Dian yang geram melihat santainya Zahira.


"Iya mah, aku cuma istirahat sebentar"


"Gak usah cari alasan! inget kamu itu seorang istri dan punya tanggung jawab buat ngurusin suami"


"Iya mah.. aku ke dapur sekarang" sahut Zahira cepat yang tak mau mendengar ocehan apa pun.


Ia bergegas pergi ke dapur sementara Pras yang mendengar kehebohan itu datang, dengan bingung ia bertanya.


"Ada apa sih mah?"


"Istri kamu tuh! di bilangin yang bener sama mertua ko malah melotot, makanya kamu sebagai suami harus lebih tegas dong Pras biar istri mu tidak leha-leha" jawabnya ketus.


Pras hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa.


Sementara di dapur setetes air menitik dari mata Zahira, menandakan hatinya yang kembali terluka. Memang benar bahwa lidah yang tak bertulang lebih tajam dari pedang berbaja, hanya dengan beberapa kata saja Zahira merasa sudah sanggup hidup seperti ini lagi.

__ADS_1


__ADS_2