
Beberapa minggu terakhir Pras telah meluangkan waktu untuk menemani Ayu, ini adalah bentuk permintaan maaf sebab ia telah menggagalkan rencana liburan mereka. Betapa Atu sangat senang sebab sepanjang waktu Pras ada untuknya, bahkan menemaninya belanja seperti pasangan kebanyakan.
Kini dengan ikhlas ia membiarkan Pras meluangkan waktu liburnya untuk Anisa, baginya tak apa tak bertemu sehari sebab masih ada esok hari lagi untuknya.
Pras yang sudah berjanji akan membawa Anisa ke tempat bermain pergi bersama Dian untuk menyenangkan putrinya, betapa Anisa bahagia hingga lupa waktu karena banyak teman bermain.
Namun Pras tak membiarkan Anisa begitu saja, begitu melihat Anisa kelelahan ia segera membawanya pulang. Meski Anisa merengek sebab masih betah Pras tetap membawanya pulang, dengan janji baru akan membelikannya eskrim akhirnya Anisa menurut.
Setibanya dirumah sebuah kejutan besar membuat mata Pras tak bisa berkedip, Zahira berdiri tepat didepan pintu sambil tersenyum.
"Mas," panggilnya tak kuasa menahan air mata.
"Zahira?" balas Pras masih tak percaya.
Ia pun berjalan perlahan mendekati Zahira, menyentuh pipinya yang merona dan menghapus air matanya yang asli.
"Kamu sudah kembali dek?" tanyanya.
"Iya mas, aku kembali dengan cepat!" jawabnya.
Kini perasaan tak percaya itu berubah menjadi luapan bahagia, dengan erat ia memeluk Zahira untuk melepaskan kerinduannya. Begitu juga dengan Zahira yang tak bisa berhenti menangis karena haru, sementara Dian dan Anisa masih berdiri menatap mereka.
Setelah puas dengan Pras kini Zahira beralih pada Anisa, akhirnya empat tahun penantiannya terbayar sudah dengan ucapan sikecil yang memanggilnya bunda.
Betapa Zahira sangat senang tak mau lepas dari Anisa, bahkan setelah menghabiskan waktu berjam-jam ia terus mencium dan memeluk Anisa.
Tak lupa ia juga menceritakan bagaimana ia bisa pulang dengan cepat, sementara alamat rumah Pras yang baru ia ketahui dari Bunda Patimah.
Malam itu yang seharusnya menjadi milik Pras dengan ikhlas ia harus mengalah kepada Anisa, sebab Zahira begitu merindukan Anisa sehingga tidur pun ingin bersama si kecil.
__ADS_1
Pras dapat mengerti hal itu, lagi pula masih ada hari-hari lain untuk dirinya. Esok paginya barulah Zahira hanya untuk Pras, dengan sengaja Pras tak masuk kantor karena ingin terus bersama dengan istrinya.
Seharian mereka bercanda dan tertawa, menjadi keluarga bahagia yang sempurna. Bahkan yang awalnya hanya sehari Pras memperpanjang liburannya menjadi sepekan, selama itu banyak yang mereka bincangkan terlebih perkembangan Anisa.
"Hari ini kamu masuk kerja mas?" tanya Zahira disuatu pagi yang cerah.
"Iya dek, mas udah ngambil libur kelamaan."
"Aku boleh ikut gak mas? aku ingin tahu kantor kamu seperti apa dan restoran yang udah kamu bangun," tanyanya.
"Tentu aja, kamu sama Anisa siap-siap sekarang ya?" sahut Pras dengan senang hati.
Zahira pun bergegas ganti pakaian dan merias diri, tak lupa ia juga menyiapkan Anisa dengan layak. Sepanjang jalan mereka masih bercengkrama dan bercanda, Anisa pun terlihat senang akan kehadiran Zahira yang melengkapi hidupnya.
"Kita sampai," ujar Pras sambil memarkir mobilnya.
"Ini restoran punya kamu mas?" tanya Zahira dari balik kaca mobil.
Zahira tersenyum mendengarnya, betapa ia bersyukur akhirnya semua berjalan lancar sesuai harapan. Pras pun membawa mereka masuk, mengenalkannya pada beberapa karyawan penting seperti asistennya.
Puas melihat-lihat Pras mengajak mereka makan seraya mengenalkan hidangan populer di restorannya, Zahira yang disuruh mencicipi memuji kerja keras Pras yang telah berhasil membangun ini semua.
"Lho Anisa gak makan?" tanya Zahira saat melihat putrinya hanya minum.
"Makanannya pedas dek jadi Anisa gak bisa makan, lagi pula ini belum masuk jadwal makannya," ujar Pras menjawabkan.
Zahira termenung, ia baru sadar bahwa ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang putrinya. Ini membuat hatinya tiba-tiba sedih sebab sebagai ibu kandung ia justru seperti orang asing.
"Apakah... Anisa juga pendiam seperti ini mas? sejak kemarin gak banyak yang dia omongin atau memang dia gak kenal aku?" tanyanya.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih dek? Anisa itu baru empat tahun tentu kosakatanya belum banyak, dia belum bisa bicara lancar dan di umur segini justru dia sudah pintar karena pandai mengekspresikan diri," sahut Pras.
Zahira termenung, lagi-lagi ia merasa telah gagal menjadi seorang ibu. Pras yang peka sadar akan kesedihan Zahira pun menggenggam tangannya dengan lembut, kemudian berkata "Berkat kamu Anisa mendapatkan semua yang dia inginkan, kini dengan kembalinya kamu dia bisa tahu bagaimana perasaan senang memiliki ibu. Terimakasih ya dek, kamu sudah berjuang keras untuk kami."
Air mata seketika menggenang, bersamaan dengan senyum bahagia ia jatuh sebagai tanda haru dan syukur.
* * *
Fokus kerjanya telah hilang selama seminggu, selama Pras tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tak bisa dihubungi. Ayu tidak tahu apa yang terjadi pada kekasihnya itu, dan akibatnya ia merasa resah seharian tanpa bisa fokus pada pekerjaan.
Berbagai pikiran negatif muali menghantui benaknya, muali dari kemungkinan Pras akan mengakhiri hubungan mereka hingga suatu keadaan buruk menimpanya.
Tapi karyawannya mengatakan Pras hanya sedang mengambil libur saja, ini justru membuat semuanya menjadi semakin aneh.
Tak bisa terus menunggu kabar resmi dari Pras ia telah memutuskan akan pergi ke rumah Pras untuk memeriksa, tak peduli jika pada akhirnya ia akan dimarahi atau semacamnya.
Jam terus bergulir, tiba waktunya makan siang Ayu memilih pergi ke restoran Pras lagi. Berharap akan ada kabar terbaru tentang Pras, saat ia berjalan masuk matanya yang telah lama menanti akhirnya menemukan juga sosok Pras yang sudah lama ia rindukan.
Senyum bahagia Ayu mempercepat langkahnya, tak sabar ingin menyapa apalagi saat Pras bangkit dari tempat duduknya.
Namun seorang wanita yang rupanya duduk dihadapan Pras ikut bangkit, menghalangi matanya yang ingin terus menatap Pras.
Saat wanita itu bergeser ia melihat tangannya menggendong Anisa, lalu apa yang ia lihat selanjutnya telah menghentikan langkah kakinya seketika.
Pras merangkul wanita itu dan mengecup kepalanya, begitu mesra dipenuhi dengan kasih sayang dan cinta. Ia bisa melihat senyum wanita itu saat menengok ke arah Pras, membiarkan dirinya dalam pelukan Pras saat mereka berjalan.
Entah apa yang baru saja terjadi didepan matanya Atu tak mengerti, siapa wanita yang Pras rangkul dan cium ia tak tahu. Berbagai pertanyaan mulai muncul hingga satu pikiran negatif kembali menghantuinya, ada kemungkinan Pras akan mengakhiri hubungan mereka dan ia harus siap akan hal itu.
Setelah banyak waktu yang terbuang hanya untuk memikirkan hal itu pada akhirnya ia sadar bahwa ia adalah seorang wanita simpanan, maka kemungkinan besar wanita yang menggendong Anisa dan bersama Pras adalah istri sahnya yang sudah kembali.
__ADS_1
Betapa hidup sangat menyedihkan, baginya kini semua menjadi tak adil.