Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 44 Keputusan


__ADS_3

Lama ia menatap pantulan dirinya dalam cermin, melihat begitu banyak kekurangan yang ia miliki dan kelebihan yang Ayu miliki. Setelah melihat wajah Ayu dalam foto yang diambil Sarah betapa seketika dunia seakan mengolok-oloknya, bahkan udara seperti enggan menghampirinya sehingga sesak ia rasakan.


Sedari tadi sejak berbagai foto itu sampai di handphonenya tangis segera pecah dan tak mau berhenti, bahkan meski telah habis air matanya Zahira masih meratap pilu.


Lalu senyum pahit tiba-tiba muncul saat ia ingat cerita Sarah tentang teman mereka yang mengalami hal ini, betapa ternyata dunia sangat kejam kepada wanita.


"Dek... aku pulang... " teriak Pras mengagetkannya.


Ceklek


Pintu kamar dibuka, nampak Pras berantakan seperti biasa saat ia pulang kerja. Tapi yang dilihat Zahira adalah bagaimana tangan Ayu membelai semua itu hingga kacau.


"Dek kamu kenapa? ko mas panggil gak jawab sih!" tanya Pras.


Zahira tak ingin menyahut, hatinya terlalu terluka hingga tak ada kata yang sanggup ia utarakan.


"Kamu kenapa?" tanya Pras lagi kini sambil mendekat dan membelai rambutnya.


Zahira menepis tangan itu, tak sudi disentuh oleh tangan yang sudah merangkul mesra wanita lain. Ia terlalu jijik sampai bahkan tak ingin dekat ataupun melihat Pras, tanpa memperdulikannya Zahira naik ke atas ranjang.


Tentu Pras bingung atas sikap dingin Zahira, seumur hidup rumah tangga mereka jika ada masalah Zahira akan mengomel tanpa henti bukan mogok bicara.


Merasa tak nyaman Pras terus merayu dan membujuk Zahira untuk bicara, hingga setelah banyak hal yang ia lakukan Zahira hanya berkata "Aku gak enak badan mas, semua badan ku terasa sakit dan ngilu jadi tolong biarkan aku sendiri."


Akhirnya Pras mengalah, membiarkan seperti kata Zahira. Ia sendiri pun sudah lelah sehingga dengan mudahnya tertidur, sementara Zahira terus menatap Pras dengan amarah yang tak kian mereda.


Cring


Dimalam buta itu Zahira cukup aneh karena sebuah pesan yang masuk, tapi saat ia melihat itu dari Sarah segera ia pun pergi keluar untuk saling berbalas pesan.


"Suamimu sudah pulang?" tanya Sarah dalam pesan itu.

__ADS_1


"Sudah."


"Sekarang kau sudah tahu semuanya, apa yang akan kau lakukan?"


"Entahlah, sudah pasti aku marah dan kecewa tapi hanya itu yang bisa kurasakan sekarang."


"Aku tidak akan ikut campur dalam masalah pribadi mu, tapi aku pernah berada diposisi mu dan langkah yang kuambil adalah perceraian. Jika dia sudah berselingkuh maka kedepannya dia akan terus melakukan hal itu, tak ada kata berhenti."


Zahira termangu, cukup takut membaca kenyataan yang dialami Sarah.


"Aku tidak bisa memutuskan sekarang, bercerai itu tidak mudah," balas Zahira.


"Semua terserah kau saja, bagaimana jika ku selidiki lebih dalam? setelah kau mengetahui semuanya bisa kau putuskan nanti."


"Baiklah, aku minta bantuan mu sekali lagi."


"Aku mengerti, sekarang tugasmu adalah bersandiwara. Jangan sampai suami mu tahu kalau kau sudah mengetahui perselingkuhannya, bersikaplah normal seperti biasa."


Percakapan pun berakhir, Zahira menghela nafas panjang. Sangat mudah untuk bicara tapi ia tahu akan sulit bersandiwara didepan Pras setelah semua ini. Meski begitu ia akan tetap mencoba, ia memulai dengan menyiapkan sarapan seperti biasa.


"Belum sih, badan ku masih terasa sakit. Tapi aku gak bisa biarin kamu berangkat kerja dengan perut kosong," sahut Zahira memaksakan senyum.


"Ya ampun dek.. kan mas bisa beli nanti di jalan, gih kamu istirahat aja dikamar!" seru Pras memaksa.


Biasanya Zahira akan luluh atas perhatian Pras itu, tapi sekarang ia merasa muak dan jijik hingga ingin muntah.


Ingat akan kata Sarah yang mengharuskannya bersandiwara ia pun mengangguk tersenyum, mengikuti perintah Pras dan membiarkannya menikmati sarapan itu sendiri.


Hal yang kini paling ia benci namun harus ia tahan adalah ketika Pras mencium keningnya dengan mesra, seketika terbayang bagaimana Pras juga mencium Ayu.


Setelah Pras berpamitan pergi dengan segera ia mencuci muka, membersihkan bekas ciuman Pras dikeningnya hingga ia merasa bersih.

__ADS_1


Kembali air mata melenggang begitu saja di pipi, perasaan tak nyaman membuat kakinya terasa melayang.


Perlahan ia berjalan dan menatap setiap ruangan dalam rumahnya, ia baru sadar bahwa rumah itu luar biasa indah dan nyaman.


Sayang, rumah yang susah payah di bangun itu justru berada di ujung jurang. Siap terjatuh sebagaimana keputusan yang ia ambil untuk melangkah, mungkin tetap utuh diatas jurang namun hanya akan nampak indah dari jauh saja.


* * *


Ingin lari sejenak dari masalah yang ada Zahira memutuskan untuk pergi ke rumah Kiki, kali ini ia tak ingin curhat melainkan hanya kunjungan biasa.


Tapi saat sampai disana Kiki sedang pergi, hanya ada Fariz disana.


"Hai Anisa... " sapa Fariz pada putri kecil Zahira.


Anisa tersenyum malu, seperti gadis yang luluh pada seorang pemuda. Itu membuat hati Zahira geli hingga tak kuasa menahan tawa, akhirnya Zahira membiarkan Fariz mengajak bermain Anisa.


Sungguh Fariz sangat pandai bermain dengan anak kecil, Anisa dibuatnya lengket kepadanya hingga tak mau berpisah.


"Kamar kamu gak di pasang kelambu Za?" tanya Fariz sambil menatap bintik-bintik merah di tangan Anisa.


"Enggak, kenapa emang?" tanya Zahira.


"Kasian lho Anisa di gigitin nyamuk, sebaiknya kamu pasang kelambu. Apalagi sekarang masuk musim hujan, bisa gawat kalau Anisa kena DBD."


Zahira mengangguk pelan, ia tak menyangka Fariz bisa begitu perhatian kepada anak kecil. Entah mengapa kini ia mulai menyadari semua perhatian Fariz yang selalu bertujuan pada kebaikan, tiba-tiba ia merasa menyesal karena telah memperlakukan Fariz dengan tidak pantas.


"Maaf," ujar Zahira tiba-tiba.


"Apa?" tanya Fariz tak begitu mendengar.


"Banyak perkataan ku yang sudah menyinggung mu, harusnya aku tidak perlu sekasar itu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, justru aku yang harus minta maaf karena sudah bersikap keterlaluan. Harusnya aku tahu batasanku," balas Fariz.


Zahira tersenyum, bersyukur memiliki Fariz sebagai sahabat sejak dulu hingga sekarang.


__ADS_2