
Hanya dengan satu kali pandang Kiki tahu ada sesuatu yang tak beres, sangat terlihat jelas dan begitu kentara.
"Ada apa?" tanyanya berharap mendapat jawaban dengan mudah.
"Apa?" tanya Fariz balik.
Kiki mendengus kesal, mata tajamnya pun tak beralih dari Fariz hingga membuatnya tak nyaman.
"Ufh.... aku menyatakan perasaan ku"
"Apa?!" teriak Kiki seketika.
Fariz hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya sementara Kiki melongo, untuk beberapa detik saling membisu sampai Kiki mampu mencerna apa yang baru saja dia dengar.
"Lalu... apa jawaban Zahira?"
"Apalagi? kau pikir dia akan senang dan menerima ku? dia hanya diam, tidak mengatakan apa pun dan membiarkan aku pergi begitu saja"
"Fariz... kenapa kau melakukan hal ini?"
"Aku tidak bisa menahannya, aku terlalu muak bersembunyi seperti pencuri. Meski setelah ini aku di benci tapi setidaknya tidak ada lagi kepura-puraan diantara kami, aku bersyukur atas itu" sahutnya.
Betapa lapang hati itu menerima sebuah kenyataan, di dunia yang tidak adil ini kadang memang hati yang paling jujur.
Tersenyum pahit Fariz menatap sahabatnya seperti anak kecil yang merajuk, bertanya pelan.
"Kali ini saja, bolehkah aku pinjam bahu mu untuk bersandar? mungkin sedikit berat karena kau tahu aku cukup keras kepala."
Kiki tersenyum geli, menepuk pundaknya perlahan sebagai isyarat bahwa ia telah mengijinkan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya.
"Entahlah, aku telah menghabiskan bertahun-tahun melihatnya dari jauh. Mungkin bertahun-tahun kedepan aku masih akan menunggunya walaupun yang ku gengggam hanya kemungkinan 0,001% "
"Kau memang keras kelapa" tukas Kiki namun dengan sebuah senyum kebanggaan.
Setidaknya cinta yang di miliki Fariz adalah yang tersuci, tetap setia seperti pujangga mentari yang rela bangun pagi buta demi melihat keindahan itu.
* * *
Menjadi teman curhat bagi Fariz ternyata memakan waktu lama, itu membuatnya terlambat datang ke toko dan hampir kena sangsi berat dari bosnya.
Mengingat ia adalah pegawai yang cekatan maka hukuman yang ia terima hanya membersihkan toko itu sebelum pulang kerja seorang diri, hukuman kecil yang akan menyita banyak waktu.
Sialnya hari itu sedang banyak pengunjung, di dominasi remaja dengan tangan jahil mereka. Hanya membeli beberapa pena tapi mengacak semua benda yang ada, saat tiba waktu untuk menutup toko ia hanya bisa mendengus kesal menatap semua rak.
Tak ada pilihan, ia harus cepat membereskan semua itu jika ingin segera pulang. Ternyata beres-beres sendiri memakan waktu selama satu jam penuh, malam semakin larut yang membuat Kiki agak parno saat keluar dari toko.
Tring..
Ponselnya berbunyi, saat ia lihat rupanya Dimas mengirim pesan padanya. Sungguh suatu kebetulan lagi yang menyenangkan, mengingat malam yang terlalu berbahaya untuk seorang gadis Kiki meminta bantuan agar di jemput.
Dengan senang hati Dimas menyanggupinya, ia meminta Kiki untuk menunggu di sana sebentar sementara Dimas segera pergi.
__ADS_1
Senyumnya mengembang mengetahui Dimas dalam perjalanan, berdiri seorang diri di depan toko Kiki mulai melirik kiri kanan yang sepi.
Angin bertiup lembut namun membawa hawa dingin yang menusuk, meski malam begitu gelap tanpa bulan ia bisa melihat awan berarak cukup cepat.
"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" gumamnya.
Tapi ia tak perlu takut kehujanan, Dimas akan segera sampai dengan mobil panti yang selalu ia bawa kemana-mana.
Sepuluh menit berlalu, keningnya mulai berkerut saat melihat seseorang tengah berjalan ke arahnya. Mungkin hanya orang yang lewat, tapi saat orang itu berdiri dibawah cahaya lampu jalan ia salah total.
Meski sedikit jauh tapi Kiki bisa melihat dengan jelas wajahnya, wajah tampan yang membuatnya bergidik.
Segera ia mengambil handphone, menekan nomor Dimas untuk menelponnya.
"Halo.. "
"Dimas kamu dimana?" tanya Kiki segera dengan suara yang bergetar.
"Masih di jalan, mungkin limabelas menit lagi aku sampai"
"Cepatlah.. aku mohon cepatlah datang kemari, dia... dia di sini.. sangat dekat denganku"
"Siapa? apa yang terjadi Ki?" tanya Dimas cemas sebab ia bisa merasakan ketakukan yang melanda hati Kiki.
"Orang itu.. . Bagas!" jawabnya.
Perlahan Kiki mengambil langkah mundur saat ia melihat Bagas kembali berjalan ke arahnya, masih dengan handphone di telinganya ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Langkahnya semakin di percepat sambil berkata kepada Dimas bahwa ia akan mencoba menghindar, itu sudah menjadi keputusan yang paling bagus untuk situasi ini.
Dengan nafas yang terengah-engah Kiki hanya mampu menjawab Ya sementara kakinya mulai berlari, sesekali ia menengok ke belakang dan melihat Bagas masih mengejarnya.
Bersamaan dengan detak jantungnya yang kian memburu nafasnya juga seakan berpacu dengan waktu, ketakukan yang mulai merajai hatinya membuat keringat dingin mengalir dari kening hingga jatuh melalui dagu.
Entah sejauh apa ia telah berlari, setelah melewati beberapa tikungan ia memutuskan untuk bersembunyi di balik rongsokan di sebuah jalan sempit.
"Ah!" pekiknya yang segera ia bungkam saat melihat Bagas dari celah yang sempit.
Dugh Dugh Dugh Dugh
Detak jantungnya teramat kencang hingga dapat ia dengar, dalam hati ia hanya dapat berdoa Bagas tidak menyadari keberadaannya.
Srek
Aaaaaaaa...
Sayang, doanya tak terkabul. Dengan satu tarikan Bagas menyingkirkan kardus bekas yang menjadi tempat persembunyian Kiki, senyum jahatnya mengembang melihat mimpi buruk tersirat dalam mata Kiki.
"Aku menemukanmu" ucapnya pelan.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Kiki dengan lantang untuk mengalahkan ketakukannya.
"Kenapa kau lari dariku? aku hanya ingin dekat dengan mu, berteman dengan mu"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau berteman denganmu" sebuah jawaban yang salah.
Senyum Bagas hilang seketika, terganti dengan sorotan khas predator.
Gep
Aaaaa....
"Lepaskan aku!" teriak Kiki sambil meronta.
Mencoba melepaskan genggaman Bagas yang teramat kuat, tak peduli meski Kiki memohon ia mulai menyeretnya keluar dari tempat itu.
Tes Tes Tes Drsssss.....
Bersamaan dengan air mata yang mulai menggenang hujan pun jatuh ke bumi, menghapus setiap jejak yang Bagas tinggalkan.
"Hei!"
Buk
Tanpa peringatan satu pukulan keras melayang begitu saja, membuat Bagas terhuyung dan jatuh dengan mudah. Dalam beberapa detik Kiki terpaku karena kaget, tapi saat ia melihat Dimas yang berdiri dengan nafas yang memburu ia segera menjauh dari Bagas.
Ughh...
Erang Bagas sebab pukulan itu membuat kepalanya pening, butuh waktu baginya untuk melihat dengan jelas dan saat melihat Dimas amarahnya meledak.
Buk
Aaaaaa....
Teriakan Kiki menandai sebuah perkelahian yang cukup sengit, dua pemuda itu sekuat tenaga mencoba saling mengalahkan. Dengan kekuatan yang hampir seimbang secara bergantian mereka memberi dan menerima setiap pukulan, namun rupanya Dimas lebih unggul.
Ia menempatkan diri diatas Bagas dan memberinya banyak pukulan hingga membuat darah keluar dari hidungnya, itu membuat Kiki bergidik ngeri.
"Sudah... Dimas ku mohon sudah.. hentikan!" ujar Kiki sambil menarik tangan Dimas.
Kelelahan akhirnya Dimas berdiri, membiarkan hujan memberi rasa perih pada setiap luka yang ia berikan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara berat.
Kiki mengangguk meski ia masih syok dengan kejadian ini, itu membuat naluri prianya terbangun. Di tengah hujan yang kian deras Dimas melepaskan jaketnya untuk ia berikan pada Kiki, mengajaknya pulang sesegera mungkin.
Sepanjang jalan hanya ada suara hujan hingga mereka sampai di rumah, Kiki segera memberi Dimas handuk dan segelas air panas.
"Kau tidak apa-apa? apa ada yang terluka?" tanya Dimas masih khawatir.
"Tidak.. aku baik-baik saja" jawab Kiki dengan senyum yang di paksakan.
Jelas itu adalah sebuah kebohongan, Dimas dapat mendengar suara bergetar Kiki yang masih syok dan tangannya yang tak mau berhenti gemetar.
Dimas tak bisa berdiam saja, ia memberanikan diri untuk duduk di samping Kiki demi membuatnya merasa terlindungi.
Perlahan ia mengusap rambut Kiki yang masih basah kuyup, ternyata ia membuat Kiki nyaman hingga menyandarkan kepalanya pada bahu Dimas yang bidang.
__ADS_1
Sebuah pelukan pun akhirnya Dimas berikan, membuat air mata Kiki tumpah secara perlahan hingga berakhir dengan tangisan yang deras.