Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 25 Judi


__ADS_3

Sebab kini kehidupannya sudah membaik Zahira bermaksud untuk bertamu kerumah Kiki untuk mengucapkan terimakasih, dengan membawa serta Anisa tak butuh waktu lama baginya untuk sampai.


Kiki menyambut kedatangan sahabatnya dengan gembira, mereka bicara hingga lupa waktu.


Sampai Zahira melirik jam dan menyadari bahwa hari sudah sore, merasa tak enak dia berkata, "Maaf ya Ki! aku mengganggu waktumu selama ini,"


"Apa maksud mu? aku senang kau datang berkunjung,"


"Kau adalah wanita karir, banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan tapi malah mendengarkan curhatan ibu rumahtangga ini!" ujarnya.


"Hush! aku senang ko mendengar ceritamu, apalagi jika sampai membantu."


Sejenak kedua sahabat itu saling tersenyum, teringat akan Pras yang terlalu lama ditinggal Zahira pun cepat berpamitan. Ia tak mau ada pertikaian karena pulang terlambat, terlebih mengajak Anisa yang masih bayi.


Sampai di rumah ia cukup heran melihat keadaan rumah yang gelap, seolah tidak ada orang disana.


Tok Tok Tok


"Mas! aku pulang... kamu didalam?" teriaknya sambil mengetuk.


Tak ada jawaban, itu membuatnya lebih heran lagi. Untung ia membawa kunci cadangan sehingga ia bisa membukanya, tapi baru saja ia menempelkan kunci itu pintunya bergerak sendiri yang artinya tidak dikunci.


Dalam kegelapan Zahira mencoba berjalan perlahan, menyusuri tembok mencari saklar.


Cekrek


"Ah... mas... aaaaaaaaaaaaa......." belum sempat ia menyatakan sebuah kata kengerian mendahului tengkuknya hingga reflek menjerit.


Dibawah sana, seonggok tubuh terkapar dengan bercak darah dimana-mana. Butuh waktu beberapa menit bagi Zahira untuk menguasai dirinya, mencoba untuk tenang ia menghampiri tubuh itu.


Dan saat ia berhasil membalikkan tubuh itu akhirnya ia mengetahui bahwa itu adalah Pras, semakin ngeri Zahira hanya bisa menutup mulutnya.


"Mas.... mas... apa yang terjadi?" tanyanya getir.


Tapi Pras tak menjawab, bahkan ia tak bergerak. Itu membuat Zahira semakin takut yang akhirnya menyadarkannya, dengan cepat ia meminta bantuan untuk membawa Pras ke rumahsakit.


Beberapa menit terlalu menegangkan hingga membuat benaknya berfikir negatif, beruntung dokter yang menangani Pras mengatakan bahwa semua baik-baik saja.

__ADS_1


Pras hanya mengalami luka ringan dan akan sembuh seiring berjalannya waktu, itu membuat Zahira dapat bernafas dengan lega.


Setelah diijinkan membesuk tanpa menunggu lagi dia pun masuk, menemui Pras yang masih terbaring namun dengan keadaan yang lebih baik.


"Mas... apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu bisa seperti ini?" tanyanya tetap khawatir.


"Preman itu, mereka mendatangi ku dan menghajarku habis-habisan," ungkapnya.


"Tapi kenapa? kita kan selalu bayar setiap minggunya!"


"Namanya juga preman dek, seperti itulah pekerjaan mereka!" tukas Pras.


Zahira hanya bisa mendengus kesal, jika terus seperti ini hidup mereka tak akan pernah damai. Ini membuatnya cukup frustasi hingga bingung harus bagaimana, namun untuk keselamatan keluarganya Zahira memutuskan untuk pindah tempat tinggal dulu.


Pras setuju akan usulan itu, malam itu juga mereka segera berbenah meninggalkan rumah dan pindah ke rumah yang baru.


Karena kantuk yang terus menyerang Zahira memutuskan untuk tidur duluan, meninggalkan sisa pekerjaan rumah yang masih menumpuk.


Pras dengan senang hati menawarkan diri untuk menyelesaikan tugas beres-beres, itu karena Zahira memang butuh istirahat sebab besok pagi ia harus bangun untuk bekerja.


"Mungkin dia ke toilet," gumamnya.


Ia berniat mengambil air sebelum kemudian matanya tak sengaja melihat layar handphone Pras yang menyala, dengan penasaran ia melihat apa yang sedang di lakukan suaminya dengan handphonenya itu.


"Dek!" panggil Pras tiba-tiba yang baru saja kembali.


Zahira menengok, tapi kemudian matanya kembali menatap layar handphone Pras.


"Ko kamu bangun? ada apa?" tanyanya dengan suara yang cukup bergetar.


"Sejak kapan kamu suka main ini mas?" tanya Zahira penuh tuduhan.


Itu membuat jantung Pras terhenti seketika, ia tak menyangka Zahira akan mengerti apa yang sedang ia lakukan.


"A-apa maksud kamu?" tanyanya gugup.


"Jangan bilang kalau selama ini uang yang aku kasih untuk bayar hutang malah kamu pakai buat judi online!" teriak Zahira murka.

__ADS_1


Tak ada kata pembelaan yang bisa Pras ucapkan sebab itu merupakan kebenaran bukan tuduhan, ia hanya bisa menunduk dengan perasaan bersalah.


Tentu tindakan Pras mengundang kekecewaan yang berat bagi Zahira, seorang diri ia berjuang mencari nafkah dengan harapan kehidupannya akan jauh lebih baik tapi ternyata tidak.


Betapa sia-sia peluhnya yang menetes sementara hutang masih betebaran seperti bakteri di sekelilingnya, siap membuatnya sakit dan berakhir dengan kematian.


Dengan sangat menyesal Pras hanya bisa berkata, "Maafkan mas dek."


Zahira tak mau mendengarnya, bahkan air mata sudah enggan menetes lagi. Ia memilih untuk pergi ke kamar, memeluk sikecil Anisa dan kembali tertidur dengan sendirinya.


Esok harinya setelah pulang bekerja, tanpa pamitan pada Pras ia pergi membawa Anisa untuk bertamu ke rumah Kiki.


Lagi, ia menceritakan bagaimana Pras telah melukai hatinya. Kiki yang tak tega akhirnya memberi sedikit saran, dalam kekalutan Zahira menerimanya.


"Tabungkan uang hasil kerja mu, lalu bayar langsung ke rentenirnya tanpa melalui siapa pun. Meski berat tapi pada akhirnya hutang itu pasti lunaskan? setidaknya dengan begitu kamu bisa hidup tenang, walaupun sebenarnya menurut ku lebih baik kamu pisah saja dengan Pras," ujarnya.


"Maksudnya cerai?" tanya Zahira.


"Coba kamu pikir, untuk apa kamu pertahankan rumahtangga kamu kalau nyatanya kamu malah tersiksa setiap saat seperti ini?" tanya Kiki yang begitu kesal.


"Entahlah Ki, rasanya aku juga tidak punya kuasa untuk bercerai dengan mas Pras," akuinya.


Sesungguhnya dalam lubuk hati Zahira ia teramat mencintai Pras, memang banyak sikap Pras yang telah menyakiti hatinya. Tapi hingga saat ini Pras tetap menjadi sosok pria yang lembut dan perhatian, sifat yang membuatnya berat untuk berpisah.


"Ya sudah, untuk saat ini kamu urusin aja dulu hutang mu. Masalah yang lain biarlah nanti, seperti kataku kamu langsung temui rentenir itu dan bayar langsung padanya," ujar Kiki.


Zahira mengangguk, ia menurut pada nasihat Kiki dan menemui rentenir itu. Setelah bertemu barulah semuanya terungkap bahwa rupanya Pras telah meminjan uang jauh sebelum kelahiran Anisa, uang itu awalnya digunakan untuk berjudi di bar.


Pras sempat beruntung dengan menang beberapa kali, tapi kemudian buntung yang ia dapat hingga saat ini.


Apa pun jenis judi telah ia coba dan semuanya tak ada yang berhasil, hutangnya semakin menumpuk terlebih setelah ia kena PHK.


Zahira hanya bisa mengelus dada untuk menenangkan hatinya, dengan memelas ia memohon kepada rentenir itu agar jangan lagi memberi Pras pinjaman sementara ia akan melunasi hutangnya.


"Melihat mu begitu sholehah pintu hatiku terketuk, baiklah! aku tidak akan memberikan suami mu pinjaman lagi. Tapi ingat kau harus bayar hutannya beserta bunganya," ucap rentenir itu.


Zahira begitu senang mendengarnya, ia mengucapkan banyak terimakasih dan berjanji akan melunasi hutang itu.

__ADS_1


__ADS_2