Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 12 Semangka Kuning


__ADS_3

Malam buta itu semua mata terpejam rapat dengan benak yang bermimpi indah, semua suara senyap di telan keheningan tanpa hampa.


Damai sempat membuat Zahira terlelap begitu nyenyaknya, sampai suara perut keroncongan memaksanya bangun di tengah kantuk.


Ia melirik jam dan mendapati malam masih pukul dua dini hari, terlalu pagi untuk bangun. Namun perutnya terus meronta meminta jatah, membuatnya menyerah pada dingin untuk berjalan ke dapur.


Masih ada sepotong kue tersisa di lemari es, manis dan dingin. Sedikit membuat giginya ngilu tapi menjawab rasa laparnya, tak cukup dengan cemilan manis di ambilnya sebuah apel merah yang mengkilat.


Malam masih panjang, kantuknya segera menyerang dalam hitungan detik. Kini perutnya telah tenang sehingga ia memutuskan untung kembali beristirahat, dalam balutan selimut yang hangat dengan cepat ia terlelap.


Anehnya, hanya selang beberapa jam saja matanya segera terbuka lagi sebab tak kuasa menahan lapar yang melanda.


"Uhh... aku gak bisa tidur lagi" erangnya.


Dengan setengah mata terbuka Zahira memaksakan diri untuk bangun, melirik jam yang menempel di dinding untuk mengetahui waktu.


"Astaga... ini baru jam empat dan perut aku udah laper" gumamnya.


Di lihatnya Pras masih tidur dengan nyenyak, tak mau membangunkan sang suami ia bergerak perlahan keluar dari kamar.


Mencoba mencari sesuatu untuk di makan, sayangnya tak ada yang tersisa. Mau tak mau akhirnya ia membuat telur mata sapi, apa pun itu yang penting dapat memenuhi rasa laparnya.


"Dek? kamu lagi ngapain?" tanya Pras yang tiba-tiba datang.


"Eh.. mas! ko kamu bangun?"


"Iya.. mas pengen ke toilet, kamu lagi makan?" tanyanya melihat piring berisi telur yang di pegang Zahira.


Dengan malu ia tersenyum sambil mengangguk, itu membuat Pras gemas hingga mencubit pipinya.


"Ya ampun... istri mas jam segini kelaparan" ucapnya.


"Aw... sakit tahu.. " erang Zahira mencoba melepaskan diri.


"Ini pasti dede bayi yang minta ya.. anak ayah jam segini pengen makan.. " ujarnya sambil mengelus perut.


Zahira hanya tersenyum, membiarkan Pras bicara dengan calon buah hati mereka. Memang akhir-akhir ini ia merasa terus kelaparan, bahkan dalam satu hari ia bisa makan nasi sebanyak empat kali.


Itu membuat badannya semakin melebar, pakaian yang muat pun hanya daster yang kadang membuatnya terlihat kumuh. Meski begitu dimata Pras Zahira tetaplah cantik, justru semakin menggemaskan sebab pipinya yang semakin tembem.


"Kamu masih mau makan dek?" tanya Pras.


"Entahlah, sekarang sih makan telor aja udah cukup. Tapi beberapa jam kemudian perutnya laper lagi"


"Kalau begitu mas ceriin makanan ya! biasanya jam segini tukang nasi uduk udah pada buka" tawarnya.


"Kalau gak ngerepotin mas adek mau.. " jawabnya.


Pras tersenyum, mengelus rambut Zahira dengan lembut sebelum keluar mencari makanan.

__ADS_1


Akhirnya setelah menunggu beberapa saat Pras pulang dengan membawa makanan yang ia janjikan, dengan lahap Zahira segera memakan habis makanan itu sebelum kembali tidur.


Beberapa jam ia habiskan dengan tidur setelah perutnya terisi penuh, kemudian bangun kembali untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan melayani keperluan Pras untuk bekerja.


Siangnya ia mendapat tamu yang membuatnya asik mengobrol, itu adalah Kiki yang sengaja mampir saat pulang dari kuliah.


"Suami kamu mana Za?"


"Lembur, nanti sore baru pulang" sahutnya.


"Oh.. eh kamu ada barang-barang bagus yang gak kepake gak? apa pun itu kayak buku juga boleh"


"Um... kurang tahu ya, emang kenapa Ki?"


"Kamu inget panti yang aku ceritain? anak-anak yang tinggal udah banyak dan kekurangan barang, makanya aku lagi gencar cari bantuan buat mereka"


"Oh... gitu, nanti aku cari dulu ya"


"Gak usah maksain, aku cuma cari barang bekas yang masih layak di pake. Tentu aku juga perlu nyortir lagi barangnya sebab ini buat anak-anak, jadi kayak buku aja gak semua bisa aku kasih ke mereka"


"Aku ngerti, jadi sekarang kamu lebih sibuk lagi ya.. " ujar Zahira tersenyum.


"Ah ya... ini gara-gara Fariz! niatnya cuma bantuin dia beresin panti buat di isi anak-anak, eh... malah keterusan jadi panitia juga" tukasnya.


Zahira tersenyum, meski ucapan Kiki terdengar seperti keluhan tapi ia tahu Kiki menikmati pekerjaannya itu.


Untuk beberapa menit mereka habiskan dengan obrolan santai, walaupun masih betah tapi Kiki harus segera pamit sebab pekerjaannya menumpuk sebagai pegawai di toko dan pengurus panti.


Masih berdiri di depan pintu Zahira menatap seorang pria mendorong gerobak lewat di depannya, sambil berteriak menjajakan dagangan berupa buah lokal.


Melihatnya membuat Zahira tiba-tiba menginginkan sesuatu, dengan cepat ia menghampiri sebelum pria itu pergi jauh.


"Bang! ada semangka kuning?"


"Yah gak ada mbak, adanya semangka merah" sahut pria itu.


"Gitu ya.. ya udah makasih bang" sahutnya.


Entah mengapa hatinya merasa kecewa, dengan murung ia masuk ke rumah dan mengurung diri hingga Pras pulang.


"Dek... kamu kenapa?" tanya Pras heran melihat wajah sedih Zahira.


"Gak apa-apa ko mas" sahutnya pelan.


"Yakin? kamu keliatan murung gitu" tanyanya lagi.


"Semangka mas... aku pengen semangka kuning"


"Ya ampun dek.. cuma pengen semangka, ya udah mas cariin ya.. " ujar Pras menahan tawa sebab merasa lucu akan tingkah Zahira yang seperti anak kecil.

__ADS_1


Walaupun masih lelah sebab baru saja pulang bekerja tapi Pras segera tancap gas, mencari apa yang di inginkan Zahira. Tak berapa lama kemudian ia kembali dengan membawa sebutir besar semangka, Zahira yang sudah menunggu sejak tadi dengan antusias menghampiri.


"Ambilin pisau dek, biar mas yang potong" perintah Pras yang takut istrinya terluka.


Dengan cepat Zahira membawa barang yang di minta, lalu diam tepat di hadapan Pras untuk melihat bagaimana suaminya memotong buah itu.


Senyum antusiasnya merekah lebar, sayangnya segera lenyap begitu saja saat melihat warna dalam semangka itu merah bukan kuning seperti yang ia inginkan.


"Ayo dek dimakan, katanya kamu mau semangka" ujar Pras.


Namun Zahira terdiam dengan wajah yang kembali menunjukkan kekecewaan, tentu itu membuat Pras bingung.


"Kamu kenapa dek?" tanyanya.


"Aku maunya semangka kuning mas... bukan semangka merah" jawabnya pelan.


"Sama aja semangka kan? ini enak ko dek, rasanya manis" balas Pras.


Namun Zahira tetap tak mau memakannya, justru tiba-tiba ia menangis tanpa kata. Itu membuat Pras lebih bingung lagi, ini adalah kali pertama ia melihat Zahira menangis hanya karena warna semangka.


"Ko kamu nangis sih dek? kenapa?"


"Aku maunya semangka kuning mas... bukan semangka merah.. " sahut Zahira menegaskan.


Pras semakin bingung akan kekukuhan Zahira, namun karena tak tega melihat tangisannya ia segera berjanji akan membelikan semangka kuning seperti yang Zahira inginkan.


Sialnya buah itu tiba-tiba seolah hilang dari bumi, betapa sulit Pras mendapatkan buah itu hingga menghabiskan waktu yang lama.


Ia terus saja bertanya pada penjual buah-buahan yang di lihatnya hanya untuk mendapatkan kekecewaan, hingga malam pun tiba akhirnya ia mendapatkan buah itu.


"Ini mas buahnya" ujar seorang penjualan buah-buahan.


"Ini beneran semangka kuning?" tanya Pras memastikan.


"Iya mas"


"Boleh di belah dulu gak pak? cuma buat mastiin aja warnanya beneran kuning" ujar Pras yang tak mau salah beli lagi.


"Boleh sih pak, tapi beneran lho ini semangka kuning" jawab penjual itu sedikit tersinggung sebab merasa tak di percayai.


"Iya Pak, saya cuma takut salah beli lagi. Saya udah cari ini semangka kuning dari tadi dan belum dapat, kalau saya salah beli lagi nanti istri saya nangis lagi" curhat Pras.


"Oh.. jangan-jangan istrinya lagi ngidam ya!" tebak si penjual.


"Kurang tahu ya, tapi istri saya memang lagi hamil" jawab Pras dengan polosnya.


"Kalau begitu emang lagi ngidam mas, nih mas semangkanya benaran warna kuning ya... sebaiknya cepetan di bawa pulang buat istrinya, orang lagi ngidam emang suka aneh-aneh mas tapi harus diturutin buat kepentingan bayinya juga" ujar penjual itu sambil menunjukkan semangka yang telah ia belah.


"Oh iya Pak, makasih ya... " jawab Pras sambil tersenyum.

__ADS_1


Sebagai seorang suami ia memang pernah mendengar istilah ngidam, namun ia tak menyangka Zahira akan mengalaminya dan seperti ini rasanya.


Berbekal satu pengetahuan yang telah bertambah ia pun segera pulang untuk memenuhi keinginan si jabang bayi.


__ADS_2