Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 35 Perasaan Yang Menghantui


__ADS_3

Anisa adalah batu loncatan besar bagi Ayu untuk mendapatkan hidup Pras, kini setelah ia berhasil meraih hati Anisa satu keluarga Pras pun membuka pintu hati mereka lebar-lebar.


Bahkan Dian dan Nisa kerap kali menghabiskan waktu bersamanya, meskipun sekedar mengobrol dan minum teh. Kedekatan itu membuat Dian dan Nisa menuangkan berbagai pujian untuk Ayu kepada Pras, diantaranya adalah, "Dia cantik dan baik, walaupun belum berkeluarga tapi dia bisa mengurus Anisa dengan baik."


Pras yang mendengar semua pujian itu hanya tersenyum, cukup kaget sebab cara keluarganya merespon Ayu berbeda dengan Zahira.


Terkadang Dian ibunya bicara tidak baik tentang Zahira, entah itu sifat manjanya atau pemalasanya. Membandingkan dengan Ayu yang telaten dan selalu tampil cantik.


"Coba aja dulu kamu ketemunya sama Ayu, mamah pasti nyuruh kamu buat nikahin dia. Beda sama Zahira, lihat! sekarang kamu malah ditinggal buat ngurus anak sendiri. Padahal itukan tugasnya istri!," ujar Dian masih membandingkan.


"Ya kan Zahira juga pergi buat cari uang mah," ujar Pras pelan.


"Tapi kan kamu sekarang sudah punya usaha sendiri, malah kamu sekarang sudah jadi bos! punya rumah, punya mobil, harusnya Zahira pulang buat ngurusin kalian!," sahut Dian lagi.


"Zahira sudah mau pulang kok, tahun depan saat Anisa umur lima tahun baru dia pulang."


"Kelamaan! kenapa gak pulang sekarang aja?" tanya Dian dengan wajah jutek.


"Ya gak bisa dong mah, kan kontrak kerjanya memang lima tahun," sahut Pras.


"Alah.. alesan!" tukas Dian yang kemudian pergi sambil menggerutu sendiri.


Pras hanya menggelengkan kepala, tak tahu harus bicara apa lagi untuk memberi pengertian kepada ibunya bahwa Zahira tidaklah terlalu buruk.


Ia akui Ayu memang lebih unggul segalanya dari Zahira, Ayu memang lebih cantik, lebih perhatian, lebih ulet. Tapi hanya Zahira yang membuatnya ingin selalu memanjakannya, ketika Zahira sakit atau merengek saat itulah muncul sisi gantlemannya sebagai seorang pria yang ingin melindungi. Terlebih meskipun Zahira banyak mengeluh tentangnya tapi ia tak pernah berkoar-koar kepada orang lain tentang keburukan suaminya itu.

__ADS_1


"Mas!," teriak Ayu untuk terakhir kalinya sebab dari tadi Pras sibuk melamun.


"Ah maaf, kamu bilang apa tadi?" tanya Pras merasa bersalah.


"Kamu mikirin apa sih? ko dari tadi ngelamun terus, lihat! kamu sampai gak makan masakan aku," ujar Ayu sambil menunjuk piring di hadapan Pras.


"Oh iya, maaf. Aku cuma lagi mikirin kerjaan aja," ujar Pras.


Tentu Ayu tidak percaya bergitu saja, namun ia tak bertanya lagi dan mengalihkan topik pembicaraan.


"Gimana mas? enak?," tanyanya penuh antusias.


"Mmm, enak! selain cantik ternyata pacar mas ini pandai masak juga," puji Pras yang membuat pipi Ayu merona.


"Kenapa mas? kok kamu ketawa?" tanya Ayu heran.


"Eh, enggak. Aku cuma keinget sesuatu yang lucu aja," sahut Pras gugup.


"Oh," balas Ayu sambil mengangguk.


Malam akan semakin larut, Pras telah menitipkan Anisa kepada Dian untuk beberapa hari itu sebab ia harus pergi keluar kota untuk pekerjaan. Tapi itu hanya alasan agar ia bisa meluapkan rindunya kepada Zahira lewat Ayu, sepanjang sore mereka telah menyisir pantai demi menikmati desiran ombak yang membawa suasana romantis.


Demi memuaskan Pras bahkan Ayu meminta ijin kepada pihak hotel agar ia bisa memasak sendiri untuk Pras, sekilas orang akan melihat pasangan muda yang sedang dimabuk cinta.


Setidaknya itu benar untuk pihak Ayu, tapi kurang tepat untuk Pras sebab anehnya Zahira begitu menggelantung didepan matanya. Tak membiarkannya bersenang-senang dengan bebas, terus bergentayangan bahkan saat ia melepas hasrat bersama Ayu.

__ADS_1


Apa pun yang dilakukan Ayu ia melihatnya sebagai Zahira, dalam waktu lama akhirnya ia kesal hingga pergi begitu saja. Ayu yang kaget karena tiba-tiba ditinggal sendiri hanya bisa termangu untuk beberapa saat.


"Ada apa mas? kenapa kamu jadi gelisah seperti ini?" tanya Ayu bingung.


"Tidak apa-apa," dusta Pras.


Melihat raut wajah Pras yang begitu keras Ayu tahu dia harus memberi waktu kepada Pras, maka ia pun tak bertanya lagi dan membiarkan Pras sendiri sampai tenang.


Sementara Pras justru kian gelisah, dalam benaknya ia pun bertanya-tanya mengapa ia begitu memikirkan Zahira. Setelah sekian lama hubungan gelapnya bersama Ayu baru kali ini ia merasa begitu dihantui oleh rasa bersalah, seakan Zahira ada disampingnya dengan sorot mata penuh tuduhan dan derita.


Karena perasaan yang kian mengganggu akhirnya Pras memutuskan untuk merubah rencana, harusnya mereka pergi lagi ke salah satu tempat wisata dan menikmati malam romantis bersama. Tapi Pras merubahnya dengan pulang lebih awal, tentu Ayu sedih karena perubahan rencana itu.


Ia sedikit meluapkan kekesalannya dengan merajuk, bahkan hampir saja Ayu melanjutkan liburan mereka seorang diri. Tapi sebagai pria Pras berhasil membujuknya hingga akhirnya Ayu pun luluh.


"Lho Pras? kerjaan mu sudah selesai?," tanya Dian saat Pras datang untuk membawa Anisa pulang.


"Sudah mah, kerjaannya lebih cepat selesai dari yang diperkirakan."


"Kalau begitu harusnya kamu manfaatin waktu luang itu buat santai, kan Anisa ada mamah yang jagain."


"Gak apa-apa kok mah, lagian Pras udah kangen sama Anisa."


"Ya sudah kalau begitu, biar mamah beresin dulu barang-barang Anisa," ujar Dian yang segera pergi.


Setelah beberapa menit Dian kembali dengan satu tas berisi mainan kesayangan Anisa, Pras pun berpamitan pulang tak lama kemudian.

__ADS_1


__ADS_2