
Sebanyak Empat puluh panggilan tak terjawab dan puluhan lainnya pesan, Pras tahu ia telah berbuat tak adil pada Ayu. Kerinduannya pada Zahira telah membuatnya lupa akan janji yang ia buat pada Ayu, merasa bersalah karena tak pernah memberi kabar ia memutuskan untuk menemui Ayu.
Sementara Ayu yang telah lama menanti terlanjur kecewa hingga ia tak bisa membiarkan Pras masuk, di depan pintu akhirnya bersusah payah Pras merayu.
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Aku janji hal ini tak akan terulang lagi," ujarnya.
"Selama ini kamu jadikan aku sebagai ratumu mas, tapi saat istrimu pulang tiba-tiba aku bahkan tidak lebih berarti dari kerikil. Setega ini kamu sama aku mas!" keluhnya.
"Tidak begitu Yu, andai kamu tahu bagaimana sifat Zahira. Dia sangat tempramental, sedikit saja kesalahan yang ku buat bukan cuma aku yang kena imbasnya tapi juga kamu! aku cuma gak mau kamu dalam masalah karena itu kita harus lebih berhati-hati."
"Kalau dia seburuk itu kenapa gak kamu ceraikan saja dia mas?" tanya Ayu penuh emosi.
"Gak semudah itu, justru jika kami bercerai masalahnya semakin rumit. Dia juga gak bakal biarin aku ketemu Anisa lagi, kamu sangat mengenal ku dan kamu pasti tahu seberapa berartinya Anisa buatku."
"Mas..." panggil Ayu lirih.
Entah apa lagi yang harus ia katakan, pikirannya telah sampai di jalan buntu hingga tak ada yang bisa ia lakukan.
"Kita pasti bisa lalui ini, bersama dengan kamu aku yakin kita pasti bisa bahagia pada akhirnya. Karena itu aku mohon pengertianmu," ujar Pras sambil memegang tangan Ayu.
Akhirnya hatinya luluh juga, dengan ikhlas ia membiarkan Pras memeluk dirinya.
* * *
Sudah sekian lama Zahira pergi, kini setelah kembali ia ingin menemui Kiki yang sudah lama ia rindukan. Sahabat yang selalu ada untuk mendukung dan memberi banyak bantuan, sebelumnya ia telah memberitahu akan bertamu karena itu Kiki pun tak sabar akan kedatangan sahabatnya itu.
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum..." ucap Zahira.
"Wa'alaikum salam," jawab Kiki dari dalam.
Ceklek
Begitu pintu terbuka Kiki segera merangkul untuk melepaskan kerinduannya, saling memanggil nama hingga puas. Saat jarak memisahkan mereka ada banyak kisah yang ingin mereka ceritakan, tapi kini saat telah bertatap muka meraka hanya bisa menangis dan tertawa.
__ADS_1
"Akhirnya kamu pulang juga, selama kamu pergi rasanya sangat sepi Za. Gak ada teman buat curhat," ucap Kiki yang tiba-tiba mengingat peristiwa empat tahun lalu.
Andai waktu itu Zahira tidak pergi setidaknya ada bahu wanita yang dapat mengerti perasaannya, mungkin juga ia tak akan menikahi Fariz kala itu.
"Maaf Ki, kamu tahu aku juga memiliki masalah ku sendiri. Tapi semuanya kini sudah membaik, sekarang aku ada disini dan siap mendengar semua cerita kamu."
Kiki mengangguk seraya tersenyum, sekarang Zahira memang ada di sini tapi ia merasa tak ada gunanya curhat sekarang.
"Ngomong-ngomong aku kaget lho, aku gak nyangka sekarang kamu pakai kerudung."
"Oh iya, aku memilih untuk hijrah Za. Aku harap dengan keputusan ku ini Allah akan memaafkan dosa ku," sahut Kiki.
"Ada apa Ki?" tanya Zahira sebab ia melihat sendu mata Kiki seolah kemalangan besar telah menimpanya.
"Enggak ko, gak ada apa-apa," sahut Kiki bersembunyi di balik senyum.
Zahira tahu akan kepura-puraan itu, tapi ia memilih untuk diam menunggu Kiki nyaman agar mau bicara tanpa beban.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari luar.
"Wa'alaikum salam," sahut mereka berbarengan.
"Za? kapan kamu kembali?" tanya Fariz memulai.
"Oh, ya seminggu yang lalu. Gimana kabar kamu?" sahutnya.
"Baik, sangat baik!" jawab Fariz tanpa bisa memalingkan wajah dari wanita yang sekian lama hidup dalam hatinya.
"Mau aku buatin kopi?" tanya Kiki yang mengerti dimana posisinya.
"Um ya," sahut Fariz.
Segera Kiki pergi ke belakang, membiarkan mereka bicara berdua sebab tak akan ada kesempatan lagi untuk hal ini. Meski yang mereka obrolkan hanyalah hal-hal biasa yang terkesan baku, sekian lama Kiki memberi waktu hanya mereka habiskan untuk saling melempar senyum.
"Um... aku ganti baju dulu, kalian ngobrol aja," ujar Fariz setelah Kiki datang dengan kopinya.
__ADS_1
Sebenarnya Fariz masih betah berlama-lama berdua dengan Zahira, tapi karena ia juga bingung harus bicara apa akhirnya ia pergi saja.
"Fariz... tinggal disini?" tanya Zahira mengarah pada ucapan Fariz.
"Ya, kami menikah empat tahun lalu setelah kamu pergi keluar negri," jawab Kiki tanpa ekspresi.
"Jadi... kalian sudah menikah?" tanya Zahira memperjelas.
Kali ini Kiki mengangguk sebagai jawaban.
"Astaga Kiki, apa aku bilang? gak mungkin kalian gak ada rasa! sekarang ucapan ku terbukti kan?" ucap Zahira riang.
Kiki hanya tersenyum, andai ia bisa menceritakan sebab dibalik pernikahan mereka. Bagi mereka pernikahan ini tak lebih dari kompromi, masing-masing dalam hati mereka hingga saat ini masih ada Zahira dan Dimas.
"Selamat ya Ki, semoga pernikahan kalian selalu harmonis dan bahagia selalu."
"Terimakasih," sahut Kiki.
Setelah banyak mengobrol dengan leluasa Zahira pamit juga, terlalu lama ia bertamu dan tak bisa membiarkan Anisa terus bersama neneknya.
Fariz yang masih merasa rindu hanya bisa menatap kepergian Zahira dari balik jendela, tanpa bisa memanggil namanya lagi.
"Maafkan aku," ujar Kiki tiba-tiba.
"Andai saja aku gak minta kamu nikahin aku pasti saat ini kamu masih bisa bicara dengan Zahira, tapi kamu tenang aja. Baik kepada Zahira atau Dimas aku pasti akan mengatakannya," lanjutnya penuh sesal.
"Gak ada gunanya buat ku Ki, kamu tau dihati Zahira hanya ada suaminya. Apalagi sekarang perekonomian mereka membaik, sudah gak ada celah buat ku masuk ke hati Zahira. Kesempatan ku sudah hilang saat Zahira memutuskan untuk pergi empat tahun yang lalu."
"Enggak Ris! kamu masih punya kesempatan, sama seperti ku. Jika kita mau berusaha pasti kita bisa, hanya saja memang butuh waktu untuk itu." ujar Kiki bersikukuh.
"Jadi kamu tidak akan menyerah? seburuk itu aku jadi suami mu sampai kamu masih berusaha memberi pengertian pada Dimas?" tanya Fariz.
"Enggak, kamu adalah suami yang baik dan aku bersyukur atas itu. Tapi kamu tahu sendiri aku hanya cinta sama Dimas!" sergah Kiki.
Hahahahaha
__ADS_1
Tawa Fariz meledak tiba-tiba, membuat Kiki bingung sebab ia merasa tak ada yang lucu.
"Aaku cuma bercanda! gak usah dianggap serius," ujar Fariz setelah puas tertawa.