
Seharian itu apa pun yang terjadi diluar sana tak memengaruhi Dimas, bahkan seruan ibunya yang memanggil untuk makan pun tak ia dengar.
Kenyataan itu bagai bola berduri yang bergulir kemanapun membuat luka, saat ia teringat tentang masa kebersamaan itu juga bertambahlah duka.
Hari demi hari ia lewati dengan mengurung diri di kamar sampai Fariz datang menemuinya, barulah ia setidaknya mau keluar dari kamar walaupun hanya pindah ke ruang tamu.
Melihat kondisi Dimas yang kacau ia tahu apa yang telah terjadi, sebagai sahabat Fariz hanya bisa menghiburnya.
"Kau tidak memberitahu kepulangan mu padaku, setidaknya kita harus merayakannya bukan?" tanya Fariz.
"Tidak ada yang perlu dirayakan, aku akan segera pergi lagi untuk bekerja. Selama kepergian ku tolong jaga ibu," sahut Dimas dengan lesu.
"Apa maksudmu? ini adalah waktunya merayakan keberhasilan mu! bukankah semua ini demi membahagiakan orang yang kau cinta?" seru Fariz tak terima.
"Yang ku cinta bukan hanya ibu dan sayangnya separuh cinta itu telah melumpuhkan sebagian diriku, aku hanya butuh waktu dan aku yakin ibu akan mengerti atas keputusan yang aku ambil."
"Dimas kau sangat egois!" bentak Fariz marah.
Tapi Dimas tak peduli, dia benar-benar pergi esok harinya tanpa berpamitan kepada pada siapa pun kecuali ibunya.
Hanya sebuah pesan bilamana ada yang bertanya tentang dirinya yaitu, "Selama aku tak kembali berarti aku masih terkurung dalam kepedihanku."
* * *
Langit cerah itu mendukung hari libur Zahira yang akan pergi ke perkumpulan TKW dari Indonesia, ini adalah kali ketiga ia pergi untuk menemui teman-teman satu profesinya.
__ADS_1
Rasa senang membuat tubuhnya tak bisa bersikap tenang, itu karena ia sangat tak sabar untuk menemui teman-teman seperjuangannya.
Sebuah lambaian tangan dari seorang wanita membuat langkah Zahira semakin cepat saat ia telah sampai, sambil tersenyum lebar ia menghampirinya.
"Hai, maaf aku terlambat! kau tahu cici selalu menyuruh ku menyiapkan sarapan meski hari ini aku libur," ujarnya begitu tiba.
"Santai saja, yang penting kau bisa datang!" balasnya.
Wanita itu adalah seorang ibu muda seperti Zahira, namanya Sarah dan sudah lebih dulu bekerja dinegri asing itu yang artinya dia senior Zahira.
Mereka menghabiskan banyak waktu untuk bergosip tentang majikan masing-masing serta rencana masa depan, tentu karena mereka punya mimpi sama yakni membangun usaha sendiri setibanya di tanah air.
"Eh kau tahu gosip tentang Desi?" tanya Sarah disela makan siang mereka.
"Apa?" tanya Zahira penasaran.
"Benarkah? kasian sekali... lalu bagaimana dengannya?" tanya Zahira lebih penasaran.
"Dia pulang kampung untuk mengurusi surat perceraian, tentu saja dia juga membayar pengacara mahal agar berhasil mendapatkan harta gono gini yang lebih banyak."
"Ahh.... inilah kenapa aku memilih untuk menjanda, sebab aku tahu saat kami terhalang jarak suamiku tidak akan sanggup melewati hari tanpa belaian wanita. Sebelum aku pergi saja dia sudah berani main wanita!" lanjut Sarah dengan ketus.
Entah mengapa tiba-tiba Zahira teringat pada Pras, ada ketakutan hal serupa akan terjadi pada dirinya.
Melihat raut wajah Zahira membuat Sarah seketika merasa bersalah maka dengan cepat ia berkata, "Tapi Tidak semua pria seperti itu, hanya saja memang kebanyakan saja. Mengingat bagaimana kau menceritakan suamimu aku yakin satu-satunya masalah mu hanya pada ekonomi, jadi kau tidak perlu memikirkannya."
__ADS_1
"Bohong jika aku bilang tidak khawatir, sudah tiga tahun kami terpisah jarak tentu aku juga mengerti kalau mas Pras butuh seseorang didekatnya. Tapi seperti katamu! aku harap dia tetap setia menanti kepulangan ku," sahutnya.
Sarah mengangguk sambil tersenyum, lalu mengubah topik pada hal lain agar Zahira tak berkelanjutan memikirkannya.
Ia mengatakan rencananya yang akan pulang ke tanah air, ia telah mendapat informasi dari keluarganya bahwa uang tabungannya sudah cukup untuk membangun sebuah usaha.
Zahira bertanya kapan pastinya namun Sarah juga tak tahu, kemungkinan waktu yang ia miliki disana hanya sekitar setahun lagi.
"Sarah... meski nanti kau sudah pulang maukah kau tetap berteman dengan ku?" tanya Zahira yang telah merasa sedih sebab tahu perpisahan itu akan tiba.
"Kenapa kau bicara seperti itu? setelah kau pulang ke Indonesia kau harus mengunjungi ku! aku akan memberitahu alamat ku," sahut Sarah tak kuasa menahan kelingan airmata.
Zahira membalasnya dengan sebuah senyuman yang diiringi tangisan pula, untuk beberapa menit mereka larut pada kesedihan menghadapi perpisahan yang belum terjadi.
Begitulah wanita, cepat larut dalam emosi yang kadang tak masuk akal.
Saat senja telah datang yang menandakan perpisahan kecil harus terjadi, mereka saling berpelukan sebelum akhirnya berpisah untuk pulang ke rumah majikan masing-masing.
Sebelum pulang Zahira menyempatkan diri menelpon Pras, sekedar bertanya kabar tentang putri mereka yang semakin aktif.
Meski usia Anisa baru tiga tahun tapi Pras sudah mengatakan rencana sekolah yang akan dimasuki Anisa nanti, rencananya Anisa akan mulai masuk TK setelah usianya mencapai lima tahun.
Zahira mendukung keputusan itu, ia bahkan memutuskan akan pulang saat Anisa berumur lima tahun. Saat itu kontraknya telah selesai dan ia tak ingin memperpanjangnya, ia tak sanggup tinggal lebih lama lagi.
Pras merasa senang akan kabar itu, mengatakan bahwa ia tak sabar menunggu kepulangan Zahira membuat pikiran tentang perselingkuhan tertendang keluar dari benaknya.
__ADS_1
Dengan lega ia pun mengakhiri telepon itu, mengambil langkah untuk kembali kerumah majikannya. Menyiapkan diri untuk rutinitas yang akan ia kerjakan besok pagi.