Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 53 Mati Rasa


__ADS_3

Zahira kaget bukan main mengetahui kenyataan yang terjadi pada sahabatnya itu, betapa besar rupanya cobaan yang mereka hadapi. Ia juga sangat salut akan perjuangan Kiki yang akhirnya berhasil mendapatkan cintanya, hidup bahagia bersama orang yang selama ini perjuangkan.


Setelah perceraian itu Dimas akan meminang Kiki tentu setelah habis masa iddahnya, saat hari itu tiba mereka akan memeriahkan pesta pernikahan seperti yang mereka impikan selama ini.


"Ini sudah terlalu malam, aku pamit pulang dulu ya?" ujar Zahira.


"Baiklah, hati-hati di jalan!" seru Kiki.


"Biar aku antar ke depan," tawar Fariz.


Zahira mengangguk pelan dan mereka pun berpamitan, berjalan keluar rumah angin malam yang dingin menyapa hingga membuat Zahira sedikit bergidik.


Tak ada suara yang keluar kecuali dari binatang malam, hingga tiba di mobil mereka masih saling membisu.


"Terimakasih," ujar Zahira pelan sebelum ia masuk ke dalam mobil.


Fariz mengangguk pelan seraya tersenyum, membuat Zahira menatap panjang pada pemuda itu.


"Ada apa?" tanya Fariz merasa malu akan tatapan itu.


"Kenapa kau bisa sebaik ini?" tanya Zahira.


"Kenapa kau bisa berbuat jauh seperti ini? jasa mu kepada Kiki aku yakin seumur hidup Kiki tak akan melupakannya," lanjutnya.


"Aku akan berbuat yang sama jika itu terjadi padamu," jawab Fariz yang membuat Zahira mengerutkan kening.


"Kau dan Kiki masing-masing menempati hatiku, aku siap berkorban apa pun demi kalian. Inilah cinta yang ku miliki, untuk saudara perempuan ku."


"Kalau begitu tolong aku!" ujar Zahira.


Jelas dari wajahnya tergambar permohonan, bahkan genangan di ujung matanya menandakan ia sedang tak baik-baik saja.


"Zahira... " panggil Fariz lembut.


"Maukah kau menemaniku setiap hari? besok aku akan pergi ke panti, kau ingin aku buatkan apa?" tanyanya seraya tersenyum.


"Bagaimana dengan sayur asam? aku ingin sesuatu yang manis, asam, gurih, sedikit pahit juga tidak apa-apa yang paling penting ada rasa asin," tanya Fariz datar.


Zahira mengangguk, ia berjanji akan membuatnya dengan sepenuh hati. Itu akan menjadi makanan sempurna yang bisa mereka nikmati bersama sambil merenungi perjalanan nasib yang bercampur aduk.

__ADS_1


Pulang kerumah ia disambut oleh Pras yang sudah menunggu sejak tadi, ini adalah kali pertama Zahira pergi tanpa memberitahunya dan pulang begitu larut.


Dengan cemas Pras bertanya namun Zahira menjawab dengan ala kadarnya, membuat Pras hampir kehilangan kesabaran. Tapi mengingat situasi mereka yang habis di tinggal Anisa Pras pun dapat meredam amarahnya, ia harus mengerti tak mudah bagi Zahira menjalani semua ini.


Seperti biasa mereka tidur terpisah, Zahira tidur di kamar Anisa tanpa mengijinkan Pras masuk. Pagi harinya ia akan bangun untuk melakukan aktivitas seperti biasa, karena sudah janji ia membuat sayur asem yang enggan ia hidangkan kepada Pras.


Setelah Pras berangkat kerja barulah ia bersiap untuk pergi ke panti, anak-anak panti menyambut kedatangan Zahira dengan riang. Mengajaknya bermain sampai puas, ia juga memberi pelajaran dasar untuk anak-anak yang siap bersekolah.


"Kau sudah datang sejak tadi?" tanya Fariz yang baru datang.


"Mm, kau mau makan sekarang?" balas Zahira.


Fariz mengangguk, mereka pun pergi ke taman untuk makan siang berdua. Sambil menikmati udara yang cukup sejuk dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan.


"Bagaimana perceraian kalian?" tanya Zahira.


"Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik."


"Alhamdulillah," balas Zahira.


Mereka saling tersenyum yang membuat Fariz sadar hati Zahira mulai terbuka untuknya, sebenarnya ia ingin memanfaatkan hal ini untuk lebih dekat dengan Zahira. Tapi mengingat status Zahira yang masih istri orang ia pun mengurungkannya, lagi pula ia takut jika berusaha terlalu keras Zahira akan membencinya seperti waktu itu.


Selesai dari panti Zahira pergi menemui Sarah, ia meminta bantuan Sarah untuk mendapatkan restoran yang saat ini menjadi milik Pras.


"Aku akan mengurusnya untuk mu, tapi dengarkan ini. Meski restoran itu sudah berpindah kepemilikan atas nama dirimu saat kalian bercerai dia tetap akan mendapatkan bagian, itu karena dia juga berperan dalam pembangunannya."


"Baiklah, tapi setidaknya aku ingin bagian yang lebih besar."


"Itu pasti, aku akan mengusahakannya untuk mu. Aku punya pengacara yang handal, tapi kami butuh dokumennya."


"Akan ku berikan padamu," ujar Zahira yakin.


Sarah mengangguk, menatap salut pada wanita yang kini berhasil bangkit dari ketidakberdayaannya.


Sebagai teman seperjuangan dan senasib Sarah berjanji akan mengupayakan segala cara, ini adalah bentuk kebenciannya pada semua pria yang telah berkhianat.


Hati itu lagi-lagi Zahira pulang malam, membuat Pras cukup kesal hingga bicara dengan nada tinggi. Tapi lagi-lagi Zahira tak peduli, ia langsung masuk ke kamar Anisa dan tidur.


Perubahan sikap Zahira ini tentu membuat Pras stress, ia sangat tidak suka akan Zahira yang pendiam seperti robot. Pusing sendiri Pras memutuskan untuk menemui teman-temannya, curhat masalah istrinya serta meminta saran.

__ADS_1


"Bawa wanita ke rumah mu, saat melihat suaminya bersama wanita lain aku yakin istri mu akan marah. Tidak ada istri yang sanggup melihat hal ini jadi aku yakin pasti akan berhasil, awalnya pasti kalian bertengkar hebat. Tapi lama-lama istrimu pasti kembali seperti biasa, malah dia akan menjadi lebih cantik dan perhatian padamu."


Itu adalah saran yang beresiko, tapi Pras memikirkannya cukup baik. Mengingat sifat Zahira yang mudah marah ia rasa hal ini patut dicoba, malam itu ia memutuskan untuk membawa Ayu ke rumahnya.


Ayu yang tiba-tiba di jemput dan di ajak pulang ke rumahnya kaget bukan main, tapi tentu ia juga sangat senang sebab akhirnya Pras berani terbuka akan hubungan mereka.


Seperti yang Pras duga malam itu Zahira belum pulang, tanpa repot-repot bersembunyi dengan terbuka mereka bermesraan sampai terdengar suara pintu yang di buka.


Seketika mereka terdiam, melihat ke arah pintu yang perlahan terbuka. Zahira yang baru pulang seketika terdiam melihat Ayu berada di sana bersama Pras, ia menatap mereka satu persatu dengan tajam.


Tapi kemudian tanpa kata ia berlalu begitu saja seolah tak melihat apa-apa, Pras yang siap mendengar berbagai cacian hanya membeku sebab tindakan Zahira di luar ekspetasinya.


Tapi kemudian ia menemukan harapan saat Zahira kembali, namun anehnya ekspresinya tetap datar.


"Aku sudah siapkan kamar untuk kalian, sebaiknya kalian lakukan disana. Tidak baik jika sampai di lihat tetangga," ujar Zahira.


Ia pun berlalu begitu saja, malah Pras yang akhirnya naik pitam sebab rencananya gagal. Dengan geram ia melepaskan pelukan Ayu dan berlari menghampiri Zahira.


"Kamu kenapa sih Za?" serunya dengan nada tinggi.


"Apa sih?" balas Zahira.


"Aku tahu hal ini memang gak mudah, tapi Anisa gak akan kembali jadi stop Za! justru sikap mu ini akan membebani Anisa!" hardiknya.


"Diam! jangan sekali-kali kamu bawa nama putriku!" balas Zahira dengan nada yang lebih tinggi.


Enggan terus berdebat Zahira memilih pergi sementara Ayu mencoba mendekati Pras untuk meredam amarahnya dan meninggalkan Zahira, tapi Pras yang saat ini tersulut emosi tak mudah untuk di ajak bicara.


"Tunggu Za! aku belum selesai ngomong!" teriaknya hendak pergi menyusul.


"Udah mas! biarin dia pergi," pinta Ayu sambil memegang tangan Pras.


"Arrrggghhh minggir!" bentak Pras sambil mendorong.


Aaaaaaaaa...


Buk


Tanpa Pras sadari ia mendorong terlalu keras hingga Ayu jatuh menghantam lantai, sambil meringis kesakitan Ayu mencoba bangkit namun yang ia lihat justru darah yang berasal dari celananya.

__ADS_1


"Mas...." panggil Ayu lirih.


Pras menoleh dan saat ia melihat darah itu seketika ia merasa menyesal dan panik.


__ADS_2