Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 16 Dosa


__ADS_3

Saat satu hati tengah tenggelam dalam balutan hitam ada dua hati yang baru saja membuat musim semi, itu terlihat jelas dari senyum keduanya yang tak pernah pudar justru semakin melebar.


"Jadi... sejauh apa tingkat keberhasilannya?" tanya Fariz pelan.


"Apa maksud mu?" tanya Kiki bingung.


"Jangan pura-pura bodoh, matamu selalu bisa melihatnya walaupun dinding itu memisahkan kalian" sahutnya sambil menunjuk dinding yang tepat di depan mata.


Kiki tersenyum malu sambil menundukkan kepala, tentu ia paham maksud Fariz sebab matanya terus mengikuti langkah Dimas yang pergi ke ruangan lain.


"Jadi bagaimana?" ulang Fariz.


"Kami hanya berteman, tidak ada sesuatu yang kau pikirkan"


"Sungguh? kalau begitu kenapa kau tidak coba peruntungan mu?"


"Aku seorang gadis! harusnya dia yang mengatakannya duluan!" ujar Kiki keberatan.


"Apa salahnya? ini jaman modern, jika kau terus menunggu takdir akan berubah haluan pada apa yang tidak kau kehendaki" sahut Fariz.


Kiki sangat mengerti maksud dari ucapan itu, ia juga memiliki ketakutan akan hal itu namun ia masih belum siap untuk mengatakannya.


"Kau masih tersiksa.. harus berapa lama lagi? cobalah buka hatimu untuk di singgahi gadis manapun, jangan biarkan dia kosong dan berdebu" saran Kiki yang sudah tak tahan pada penderitaan Fariz.


"Meski kisahku tidak di mulai bukan berarti mudah untuk melupakannya, sifat cinta memang seperti itu"


"Jangan biarkan waktu yang membuatmu menyerah, tapi ijinkan kenyataan yang membuatmu ikhlas. Memang berat, tapi kasihanilah hatimu yang telah berpenyakit."


Fariz melihat banyak kekhawatiran dalam mata Kiki untuk dirinya, sejak kecil hingga saat ini hanya dia satu-satunya orang selalu ada kala senang maupun susah.


"Akan ku usahakan" sahutnya dengan sebuah senyum pahit.


"Aku pergi dulu, hari ini aku ada kelas" ujar Kiki segera berpamitan.


Seorang diri kini Fariz memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah panti, mengawasi anak-anak yang bermain di luar.


"Kopi?" tawar Dimas sambil menyerahkan sebuah cangkir.


Fariz mengangguk dan mengambil cangkir itu, berteduh di bawah pohon yang rindang mereka menikmati semilir angin lembut yang menyegarkan.

__ADS_1


"Mereka terlihat ceria seperti biasa" ucap Dimas.


"Dan kau terlihat bahagia lebih dari biasanya" balas Fariz.


"Sungguh?" tanya Dimas dengan sedikit malu.


"Aku tahu kalian sedang dekat, hanya sekali lihat saja semua orang juga akan tahu siapa yang sedang jatuh cinta"


"Haha... kau terlalu jeli kawan!" tukas Dimas.


"Jadi apa rencana mu? kau tahu Kiki adalah saudariku dan tidak mungkin aku membiarkannya jalan dengan pria brengsek tanpa status"


"Wow... tenanglah, kau tahu aku bukan tipe pria yang kau khawatirkan"


"Tetap saja aku menagih kejelasan dari mu" tegas Fariz.


"Hmmm.... kondisi keluarga ku sedang tidak aman, aku sudah berdosa dengan terus mencintainya. Saat ini aku hanya sedang berusaha memperbaiki kondisi keluarga dan keuangan ku, setelah semuanya siap aku akan langsung menikahinya" jelas Dimas.


"Aku mendukung mu..." sahut Fariz melihat keteguhan yang pernah ia miliki dulu.


"Terimakasih... kau penuh pengertian."


* * *


Tok Tok Tok


"Assalamualaikum... "


"Waalaikumsalam... "


Dengan cepat Zahira menuju pintu, membukanya untuk melihat siapa yang datang bertamu.


"Kak Nisa.. " panggilnya begitu melihat keluar.


"Masuk ka.. kenapa gak bilang dulu kalau mau ke sini? aku kan bisa masakin yang enak buat kakak" ujarnya sambil memberi ruang.


"Alah... gak usah, lagian kakak udah makan ko di rumah. Mana Pras? ko dia gak keliatan?"


"Mas Pras masih kerja kak, nanti sore baru pulang"

__ADS_1


"Oh... ini kakak sengaja datang buat ngasih ini ke kamu" ujarnya sambil menyerahkan sebuah tas dengan ukuran cukup besar.


Zahira di buat penasaran dengan isi tas itu, maka ia pun tanpa sungkan segera membukanya untuk melihat isinya. Ia cukup kaget saat mengetahui isi dalam tas itu adalah pakaian bayi, berbagai model dan ukuran.


"Itu baju bekas Nabila, sengaja kakak simpan rencananya buat calon adiknya nanti. Tapi inget usia kandungan mu jadi kakak pikir kamu lebih butuh, toh kakak masih promil juga" jelas Nisa.


"Oh... gitu...makasih atas perhatiannya" sahut Zahira meski sebenarnya ia kurang senang.


Untuk anak pertamanya ia ingin memberikan semua yang terbaik, dari segi pakaian pun sebenarnya ia ingin memberikan semua yang baru dengan model yang lucu-lucu. Tapi apa boleh buat jika Nisa memberinya yang bekas, akan sangat tidak sopan jika dia menolak.


Mereka mengobrol cukup lama meskipun topik yang ada tak jauh dari drama televisi yang saat ini sedang hits, setelah beberapa menit kehabisan topik barulah Nisa berpamitan pulang.


Selang tak lama dari kepergian Nisa Pras baru pulang dari kerajaannya, melihat dua cangkir di meja dan sebuah tas berisi pakaian bayi teentu ia tahu seseorang telah bertamu.


"Siapa yang datang dek?" tanyanya.


"Kak Nisa, dia datang memberikan pakaian bekas anaknya waktu masih bayi" jawabnya sambil membantu Pras membuka jasnya.


"Oh, syukurlah... kalau begitu kita gak perlu beli pakaian bayi"


"Lho kok gitu sih mas? masa kamu gak mau beli pakaian baru buat anak kita!" tanya Zahira tersinggung.


"Bukannya gak mau tapi uang kita gak akan cukup untuk kebutuhan yang lain, lagi pula pakaian bayi kan kepakenya cuma sebentar"


"Tapi tetep aja mas kita harus beli lagi, semua pakaian pemberian kak Nisa ka model lama. Apa kata orang kalau mereka liat anak kita pakai pakaian kuno, kita sendiri yang akan malu sebagai orang tua mas... "


"Ya jangan kamu dengerin apa kata orang, sudah bagus ada pakaian yang bisa di pakai kan?"


"Kamu kenapa sih ngerasa rugi banget beli yang baru? ini buat anak kita lho mas.. darah daging kita.. " tanya Zahira dengan kesal.


"Dek.. kan mas udah bilang kita harus hemat, untuk biaya hidup kita berdua aja udah pas-pasan dan sekarang di tambah satu anak. Cari uang tuh gak gampang dek, kita harus bisa ngatur uang buat kebaikan kita juga.. "


"Ya kamu cari dong uang tambahan lain, kamu kerja sampingan apa kek! kalau aku gak hamil juga aku bisa bantu cari uang.. harusnya kamu sebagai kepala keluarga bisa atasi masalah keuangan kita karena ini tanggungjawab kamu mas.. "


"Cukup!" bentak Pras tiba-tiba.


"Aku baru pulang kerja dan kamu udah ributin masalah uang lagi, aku capek ya terus kamu salahin.. sebagai istri harusnya kamu tuh dukung suami! bukan bisanya cuma ngeluh ini itu terus.. "


Amarah itu membuat Zahira terdiam, matanya telah mulai memerah dengan genangan yang siap tumpah. Sementara Pras memilih membuang muka, menjauh dengan membawa serta kekesalannya.

__ADS_1


__ADS_2