Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 18 Cinta yang Terlalu Lama


__ADS_3

Sepanjang hari yang panas adalah musim semi untuk mereka yang hatinya di penuhi bunga, begitu cerah dan damai.


Tapi takdir tidak akan selalu berjalan mulus seperti apa yang di harapkan, kerikil akan selalu masuk ke dalam sepatu saat berjalan seperti hitam yang nyata meski tidak masuk dalam jajaran pelangi.


Itu merupakan titik dimana dunia benar-benar terasa bagai musuh, dan Zahira baru mengalami yang pertama ini.


Saat dimana ia berjalan sendiri dengan perut besarnya di pusat perbelanjaan, tidak benar-benar sendiri sebab Pras akan menjemputnya setelah selesai belanja.


"Oh... tidak... " gumamnya menatap barisan makanan kaleng di barisan bawah.


Ia mendengus kesal, mengutuk kaleng itu sebab berada pada tempat yang sulit di jangkau oleh ibu hamil. Mau bagaimana lagi? ia harus berjuang membungkuk atau duduk terlebih dahulu hanya untuk mengambil benda itu.


Perjuangan yang melelahkan itu menarik perhatian seorang pria yang tak sengaja lewat, tentu saja sebagai seorang pria sejati dengan cepat ia membantu.


"Biar aku ambilkan" ujarnya sambil segera mengambil makanan kaleng itu.


"Owhh... terimakasih.. " sahut Zahira yang benar-benar tertolong.


"Fariz!" panghilnya seketika saat menatap wajahnya.


Itu adalah sebuah kebetulan yang tak terduga, sejenak Fariz hanya membeku menatap wanita impiannya tersenyum padanya.


"Oh... Hai.. " sapanya begitu tersadar.


"Terimakasih... aku benar-benar tertolong" ulang Zahira.


"Ya.. tidak masalah... um... kau belanja sendirian?"


"Ya, suamiku akan menjemput nanti setelah aku selesai belanja. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan" jawabnya.


"Oh kalau begitu jika kau tidak keberatan boleh aku menemani mu? aku khawatir kau akan kesulitan mengambil barang lagi" tawar Fariz.


"Tentu saja, aku sangat tertolong" sahut Zahira senang mendapat bantuan.


Fariz mengangguk dan segera mengambil alih keranjang belanjaan Zahira, kembali berjalan mereka pun mulai mengobrol.


Zahira menjadi wanita yang cerewet dengan mendominasi obrolan mereka, tapi Fariz tak keberatan justru ia senang karena dapat melihat Zahira secara terang-terangan.

__ADS_1


Ia begitu menikmati waktu itu, berjalan riang bersama Zahira yang selama ini menjadi mimpinya.


"Bagaimana pekerjaan mu di panti?" tanya Zahira.


"Baik, semuanya berjalan dengan baik"


"Syukurlah, lalu bagaimana dengan Kiki? sudah lama dia tidak mengabariku, pasti saat ini dia sedang sibuk"


"Ya, kadang-kadang kami bertemu di panti. Sejauh ini yang kutahu dia sedang sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya"


"Kalian benar-benar hebat, jika melihat bagaimana kehidupan Kiki saat ini membuat ku cukup iri padanya. Terkadang aku merasa keputusan ku untuk menikah adalah sebuah kesalahan besar, ternyata berumah tangga tidak semudah yang ku kira"


"Kenapa? kau tidak bahagia?" tanya Fariz segera.


"Tentu aku bahagia, Pras adalah suami yang baik dan perhatian hanya saja... " sulit bagi Zahira untuk menyelesaikan kalimatnya.


Namun Fariz menunggu, apa pun itu yang di akan di katakan Zahira sehingga ia tak boleh menggantungkan ucapannya.


"Cukup sulit untuk beradaptasi, rumah tangga bukan hanya kehidupan tentang dua insan tapi juga dua keluarga. Aku tidak boleh sembarangan bertindak karena itu bisa menjadi masalah besar, bahkan rasanya aku tidak boleh salah"


"Kehidupan sekolah dan rumah tangga sangatlah berbeda, hukuman yang kuterima bukanlah diskors atau cukup mengatakan maaf"


"Kalau begitu jelas kau menderita, bukan hanya tidak bahagia. Lalu untuk apa kau bertahan? apa yang membuatmu terus seperti ini?"


"Apa maksud mu?" tanya Zahira tak mengerti kemana arah ucapan itu.


"Tidak bisakah kau meninggalkan kehidupan mu ini? jika kau menderita maka tinggalkan saja semua ini"


"Apa kau baru saja menyuruhku untuk bercerai?" tanya Zahira.


"Jika itu persepsi mu tentang kebebasan maka... ya!"


Zahira kehilangan kata-katanya, terlalu syok sebab setahunya Fariz bukanlah orang yang akan memberikan nasihat buruk.


"Fariz... kau... kau... bagaimana bisa kau memikirkan hal ini? kau lebih paham agama dan kau menyuruh ku untuk berdosa?"


"Aku hanya tidak tahan melihat mu menderita" sahutnya sebagai bentuk pembelaan.

__ADS_1


"Kau sudah salah paham! aku bahagia... hanya karena aku berkata ada sedikit masalah dan iri pada Kiki bukan berarti hidup ku buruk!" jelas Zahira dengan lantang.


Fariz membuang muka, terlalu muak untuk dirinya yang hanya mencintai tanpa melihat tembok besar yang jelas mengatakan untuk tidak melangkah lagi.


"Aku mencintaimu" ujarnya tiba-tiba.


"Apa?" tanya Zahira.


"Aku mencintaimu" ulang Fariz kini dengan suara yang lebih lantang dan mata yang tepat menatap Zahira.


"Heh... Fariz... aku... "


"Aku sudah mencintaimu sejak kita masih SMA, sejak kau belum mengenal Pras. Sejak itu... hingga kini.. " ujarnya yang membungkam Zahira seketika.


"Satu-satunya penyesalan ku adalah tidak mengatakannya sejak dulu, walaupun mungkin kau akan menolak tapi setidaknya aku tidak akan tersiksa sebab memendam cinta ini terlalu lama. Sekarang aku tidak peduli Zahira... aku tidak peduli kau membenciku atau menganggap ku aneh, aku sudah tidak bisa menahan perasaan ku lagi dan perlu kau ingat selama bertahun-tahun aku bertahan dengan hatiku. Maka untuk tahun-tahun kedepan aku akan tetap bertahan, jika tangan ku masih belum bisa menggenggam gadis lain maka tak peduli status mu istri orang lain cintaku tetap hanya untukmu."


Itu adalah sebuah keegoisan yang membuat Zahira merasa terpenjara, mulai detik itu juga pertemanan mereka telah rubuh.


Akan ada kecanggungan bilamana di masa depan mereka bertemu baik disengaja atau tidak, sebab Zahira dalam posisi yang serba salah.


Mengetahui bagaimana selama ini ia dicintai pria lain membuatnya mengingat bagaimana masa SMA dulu, masa di mana Fariz begitu baik padanya.


Kini semua begitu masuk akal, tentang semua sikap Fariz kepadanya yang dirasa berlebihan. Bahkan ekspresi Fariz saat menghadiri pesta pernikahannya tiba-tiba dapat ia ingat dengan jelas, senyum yang di paksakan dan mata yang berkaca-kaca.


"Dek!" panggil Pras untuk yang ketiga kalinya.


"Eh mas... " sahutnya kaget.


"Kamu kenapa bengong di sini?"


"Enggak mas, aku cuma capek aja abis belanja sendirian"


"Ya ampun... maafin mas yang dek.. mas kan udah bilang sebaiknya tunggu urusan mas selesai dulu baru kita belanja bareng" ujar Pras sambil mengelus lembut tangan istrinya itu.


"Gak apa-apa ko mas, belanjanya udah selesai jadi mening sekarang kita langsung pulang aja"


"Ya udah ayok!" sahut Pras segera mengambil tas belanjaan itu sementara tangan yang lain menggenggam tangan Zahira.

__ADS_1


__ADS_2