
Kepulangan Kiki yang membawa air mata membuat seribu tanya pada hati Fariz, tak berani untuk langsung bertanya sebab ia tahu Kiki pergi menemui Dimas. Tentulah sesuatu yang buruk telah terjadi, pastilah itu alasan dari tangisan Kiki.
Tapi tanpa diminta Kiki sudah bicara lebih dulu, sambil menatap buah hati mereka yang tertidur pulas.
"Aku akan berhenti untuk mencoba, biarlah seperti apa takdir ku akan ku jalani. Maaf karena sebelum, sekarang dan untuk kedepannya aku akan terus menjadi benalu. Cintaku masih ada padanya tapi tidak dengan harapanku, mulai saat ini aku hanya seorang janda yang meminta perlindungan harkat dan martabat darimu. Semoga kau mau menerima ku dengan ikhlas."
"Saat ini tidak mudah untuk bicara, keadaan kalian sedang sangat tidak baik. Tenangkan dirimu, beri dia waktu dan bicaralah lagi nanti."
"Tidak Fariz! dimatanya aku hanya seorang wanita yang terlena akan cinta hingga melahirkan buah hati karena zina, aku akui itu memang benar. Tapi penghinaannya menunjuk kau! begitu banyak sudah pertolongan mu untuk ku dan dia tapi balasan ini tidak bisa ku terima," tukas Kiki.
"Aku akan bicara dengannya! akan ku katakan semuanya dan buat dia mengerti," ujar Fariz sambil berjalan kearah pintu.
"Jika memang dia mencintaiku tak peduli bila aku bekas orang lain dia akan menerimanya, tapi tidak! dia menghinaku dengan sumpah serapah dan menutup jalin persahabatan diantara kalian tanpa mau mendengarkan," ujar Kiki menghentikan langkah Fariz.
"Biarlah... semuanya sudah berakhir, setidaknya aku masih memiliki tanda cinta yang akan tetap mencintai ku. Atha!" lanjutnya sambil menatap putra kecilnya dengan penuh rasa syukur.
Saat ia meraih tangan penghulu Fariz sadar apa yang ia lakukan hanya akan membuat kedua orangtua mereka senang, tapi setelah ikrar janji suci itu akan ada badai yang menghantamnya dengan keras.
Sebagai sahabat pertemanan mereka telah di uji dengan begitu hebat, jika pada akhirnya permusuhan yang tercipta buah dari pertolongannya maka ia tak menyesal.
Sebelum saling berbagi piring dengan Dimas sudah lebih dulu ia berbagi asi dengan Kiki, karena itu kehormatan Kiki jauh lebih penting seperti yang ia inginkan dari pada kebahagiaannya.
* * *
"Dek... " panggil Pras.
"Iya mas!" sahut Zahira segera berlari menghampiri.
"Ini buat kamu," ujarnya sambil menyerahkan seikat bunga.
__ADS_1
"Untuk ku? waw.. terimakasih mas, tapi dalam rangka apa?" tanya Zahira heran sebab seingatnya tak ada yang spesial hari itu.
"Tidak ada, aku cuma mau ngasih bunga aja buat istri mas ini."
"Hmmm, kamu ko jadi makin romantis gini sih mas?" tanya Zahira sembari tertawa kecil.
"Gak masalah kan?" balas Pras bertanya.
"Ya enggak dong mas, malah aku senang."
Ddddrrrrrttttt Ddddrrrrrttttt
Baru saja Pras akan memeluk dan mencium Zahira sebuah telpon masuk ke ponselnya, senyum di wajah Pras seketika hilang saat melihat itu dari Ayu.
"Um, mas jawab telpon dulu ya sebentar. Kamu bisa tolong siapin air dulu gak buat mas mandi?" tanya Pras segera mencari aman.
"Oh iya mas," jawab Zahira tanpa curiga.
Pras juga tidak berhak menutup telpon, karena itu ia harus pandai-pandai bersikap di depan Zahira agar tak menimbulkan kecurigaan.
Tapi sepandai apa pun menyembunyikan bangkai baunya pasti akan tercium juga, insting seorang istri lebih menyeramkan dari pedang bermata dua.
Sering kali Pras menerima telpon tanpa mengenal waktu dan selalu lama tentu menimbulkan kecurigaan, terlebih berbagai alasan Pras ketika ditanya terkadang tak masuk akal.
Bahkan sering kali saat kehabisan alasan sebagai gantinya Pras akan marah yang membuat Zahira tersinggung, akhirnya pertengkaran kecil itu akan ditutup dengan tangis Zahira dan permintaan maaf dari Pras.
Semakin hari Zahira yang mulai merasa resah sebab Pras ada disampingnya tapi terasa jauh, seolah hatinya tak berada disana memutuskan untuk menemui Sarah.
Sekedar mencurahkan isi hati demi mencari ketenangan batin.
__ADS_1
"Apa kau sudah mengecek handphonenya?" tanya Sarah.
"Sudah, semuanya normal dan tak ada yang tak dia tutupi."
"Bagaimana dengan sikapnya, maksudku selain yang kamu katakan apa ada hal lain yang cukup janggal? atau kebiasaan yang baru."
"Um, ya.. dia lebih sering mencukur kumis dan janggut, memakai parfume dan berpakaian modis. Seperti bujang yang sedang kasmaran," sahut Zahira.
Sarah terdiam, sebagai wanita yang sering diselingkuhi ia sudah sangat hapal bagaimana karakteristik pria bila sedang menutupi sesuatu.
"Apa kau percaya padaku?" tanya Sarah serius.
"Tentu, kita habiskan bertahun-tahun bersama di negri orang. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri," sahut Zahira.
"Kalau begitu siapkan dirimu, sebab aku yakin suamimu memiliki wanita lain dalam hidupnya."
Akhirnya ketakukan yang selama ini bagai mimpi buruk menjadi kenyataan, sayangnya meski telah memiliki firasat Zahira enggan menerima kenyataan ini.
"Tapi kau tidak punya bukti! bahkan aku sendiri sebagai istri tidak memiliki bukti kuat untuk hal ini! bagaimana bisa dengan mudah kau katakan hal itu hanya karena semua yang ku katakan."
"Aku akan menemukan buktinya, beri aku alamat kantor suamimu. Aku akan memberikan bukti itu kepadamu dan kau harus siap untuk hal ini," jawab Sarah.
Menelan ludah susah payah Zahira mengangguk, ia pun memberikan alamat kantor Pras serta plat nomor mobil yang selalu Pras gunakan.
Setelah semua itu ia hanya perlu menunggu dalam keresahan, mencoba bersikap normal dihadapan Pras selama Sarah menyelidiki.
Bagi Sarah hal mudah untuk membuntuti tanpa ketahuan, ia sudah terbiasa melakukan ini dulu pada suaminya.
Hanya butuh waktu dua hari baginya sampai menemukan Pras jalan dengan Ayu, tak hanya itu ia juga telah mengetahui rumah Ayu. Saat momen yang ditunggu akhirnya tiba, Sarah mengambil beberapa poto dimana Ayu dan Pras saling berpelukan dan mencium.
__ADS_1
Mendapatkan bukti yang kuat ia siap melapor pada Zahira. Lewat telpon dia berkata, "Aku akan mengirimkan beberapa bukti padamu, siapkan hatimu untuk melihatnya."