
Satu persatu tamu berdatangan, Pras yang sumringah menyambut semua orang dengan senang hati terlebih beberapa rekan bisnisnya.
"Dimana Zahira?" tanya Dian cukup kesal sebab harusnya Zahira menamai Pras sebagai tuan rumah.
"Mengambil kue, sebentar lagi juga dia pasti datang."
Tapi yang lebih dulu hadir justru Ayu, dengan gaun merah yang mengingatkan Pras akan pesta temannya. Hari dimana hubungan mereka bermula, kali ini pun Ayu tampil memukau hingga menyedot perhatian publik.
Bagai dewi sintal yang selalu menjadi idaman para lelaki, bibirnya yang merah bagai delima terlalu menggiurkan untuk diabaikan.
"Selamat datang," sambut Dian dengan senyum penuh.
"Terimakasih tante, mas... selamat ulang tahun," ujarnya beralih pada Pras.
"Terimakasih," balas Pras.
Ayu masih berdiri di sana, membiarkan orang-orang menikmati kecantikannya dan berbicara tentangnya. Sampai sebuah mobil berhenti tepat di pintu masuk, perhatian orang-orang pun sedikit beralih karena penasaran siapa yang datang terlambat itu.
Begitu pintu terbuka sepasang sayap lebih dulu mengepak keluar, putih dan bersih lambang dari kesucian. Setidaknya hanya itu gambaran yang tepat untuk dress putih yang Zahira kenakan, tak ada yang berlebihan dari make up nya tapi justru membuatnya tampil lebih menarik dari semuanya.
Ia tersenyum kepada semua orang, senyum tulus dan hangat seperti ibu yang selalu menimang anaknya. Saat ia berjalan membawa kue dikedua tangannya yang orang lihat adalah bidadari dengan penimbangannya.
"Maaf aku telat mas, karena ini kue spesial jadi mereka butuh waktu untuk menyiapkannya," ujar Zahira begitu sampai dihadapan Pras.
"Ah iya, gak apa-apa," sahut Pras yang masih terbius akan penampilan beda Zahira.
Ia pun meletakkan kue itu di meja, menyuruh pelayan untuk menyiapkannya sebab acara sebentar lagi akan dimulai.
"Jadi... kau yang bernama Ayu?" tanya Zahira sembari tersenyum.
"Benar, dia Ayu!" sahut Dian.
"Aku banyak mendengar tentang mu dari ibu mertuaku, terimakasih sudah membantu mas Pras dalam pekerjaannya."
__ADS_1
"Heh itu bukan hal besar, aku hanya membantu mencari tempat saja," balas Ayu menahan rasa cemburu sebab baru kali ini ia kalah dalam merebut perhatian.
"Pesta sebentar lagi akan di mulai, silahkan duduk di tempat yang pantas untuk mu," ujar Zahira sarat akan makna.
Pras tak bisa bicara banyak atau bertindak apa pun, ia hanya sesekali melirik Ayu dengan perasaan tak nyaman.
Sementara cemburu kian membakar Ayu saat dengan sengaja Zahira menebar kemesraan mereka, apalagi saat Pras memuji Zahira sebagai istri sempurnanya.
Acara berlangsung cukup meriah, sampai Pras larut dalam suasananya dan melupakan Ayu yang duduk sendiri bagai patung.
"Zahira!" panggil Kiki.
Tersenyum senang Zahira menghampiri Kiki dan Fariz, seramai apa pun tempat itu saat mereka bertiga bersatu maka hanya akan ada satu dunia yaitu milik mereka.
"Bagaimana kabar tante? apa semuanya baik?" tanya Zahira.
"Alhamdulillah Za, terimakasih atas bantuan kamu saat itu. Kalau gak ada kamu aku gak tahu apa yang bakal dibeli Fariz!" jawab Kiki.
"Santai aja, itu cuma masalah kecil."
Fariz yang sudah kenal menyambut hangat kedatangan Sarah, mengenalkannya kepada Kiki sehingga mereka bisa mengobrol.
"Ah sebaiknya aku menikmati hidangan saja, rasanya aneh jika satu ikut mengobrol ditengah lingkaran ibu-ibu," gurau Fariz.
"Hahahaha, kau benar! jangan sampai orang menyangka ada kelainan darimu," tukas Kiki.
Mereka pun tertawa, sementara Fariz mengangkat alis menanggapi ucapan Kiki. Ia pun pergi membiarkan tiga ibu muda itu sibuk bergosip, membicarakan banyak hal termasuk anak-anak mereka.
"Apa kau sedang diet? kau terlihat kurusan, " tanya Zahira kepada Kiki.
"Tidak, hanya saja akhir-akhir ini aku sedang tidak enak makan."
"Wajahmu juga sedikit pucat, jangan-jangan kau sedang hamil anak kedua!" tukas Sarah.
__ADS_1
"Tidak mungkin! kami tidak melakukan itu," bantah Kiki yang membuat Sarah dan Zahira termangu.
"Maksud ku aku sedang datang bulan," laratnya.
"Oohh, kalau begitu itu pasti efeknya. Jangan lupa minum vitamin penambah darah," seru Zahira.
"Ummm, aku permisi sebentar," ujar Sarah dengan mata yang tertuju pada Ayu.
Zahira yang sudah tahu kemana Sarah akan pergi mengijinkannya, di tengah tawa itu kini hatinya tiba-tiba berdegup kencang.
Perasaan gugup dan takut bercampur aduk hingga tanpa sadar ia mulai menggaruk tangannya hingga lecet, Kiki yang mulai sadar akan sikap Zahira menatap heran dengan sesekali bertanya.
Sementara itu Sarah masih mengikuti Ayu yang berjalan kearah parkiran mobil, ia melihat Ayu masuk dan duduk disana tanpa melakukan apa pun.
Bersembunyi di balik pohon tak lama kemudian Sarah melihat Pras berjalan melewatinya, nampak jelas Pras menatap berkeliling untuk memastikan keadaan aman.
Sesuai dugaannya Pras masuk ke mobil Ayu, dari balik kaca belakang ia bisa melihat mereka bicara. Dengan cepat Sarah pun mendekat, tentu dengan penuh hati-hati juga.
Mendapatkan tempat yang bagus ia mengeluarkan ponsel untuk mulai merekam, meski tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam mobil tapi Sarah berhasil merekam bagaimana mereka berpelukan dan bermesraan.
...----------------...
"Zahira, jika ada waktu aku ingin bicara dengan mu," ujar Kiki.
"Tentu, kau bisa bicara sekarang!" sahut Zahira mencoba memfokuskan diri hanya pada lawan bicaranya saja.
"Tidak di sini, jika kau tidak keberatan aku ingin berkeluh kesah kepadamu tentang Dimas."
"Dimas?" tanya Zahira.
"Aku sempat menyinggungnya empat tahun yang lalu," ujar Kiki mengingatkan.
"Oh iya," sahut Zahira mulai ingat.
__ADS_1
Meski mungkin kisah mereka telah menjadi angin lalu tapi Kiki tak bisa membohongi perasaannya, ia ingin mendengar pendapat Zahira sebagai sahabatnya.
Oleh karena itu ia sudah memutuskan akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi empat tahun yang lalu, saat dimana Zahira memutuskan untuk pergi ke luar negri.