Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 26 Keikhlasan Yang Ditolak


__ADS_3

Janji tetaplah janji, mau seperti apa keadaannya janji itu harus ditepati. Apalagi ia mengucap janji kepada yang berkuasa, terlambat satu detik saja satu anggota tubuhnya dipastikan akan hilang.


Mengurung kata 'bagaimana' dalam benaknya membuat kerutan di dahi itu tidak pernah luntur, justru semakin kuat setiap detiknya.


Pras yang mencoba menghibur karena tak tega malah kena semprot kata pedas yang membuatnya bungkam seketika, besok sudah jatuh tempo dan itulah alasan aura dinginnya.


Ia sudah pergi kesana sini mencari bantuan, bahkan ia sudah meminta bantuan bunda namun masih tak ada hasil. Kini satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya berdo'a, berharap akan ada keajaiban atau setidaknya keringanan.


Menghabiskan sisa malam dengan mata yang tak bisa menutup, akhirnya Zahira menyambut pagi dengan dengusan putus asa.


Ia sudah memutuskan akan meminta maaf dan meminta waktu setidaknya sehari lagi untuk membayar hutang tersebut, langkahnya telah dikuatkan begitu keluar dari rumah.


Dalam perjalanan yang terasa berat tiba-tiba handphonenya berdering, rupanya itu dari Kiki yang mengajak bertemu.


Disebuah kafetaria yang tak jauh Kiki telah menunggu sejak tadi, beberapa menit kemudian Zahira yang sudah dipanggil barulah sampai.


"Ki, kamu sudah nunggu dari tadi?" tanyanya.


"Lumayanlah, tapi itu tidak penting!" sahutnya.


Zahira cukup heran melihat kemudian Kiki mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari tasnya, yang kemudian amplop itu ia serahkan kepada Zahira.


"Apa ini Ki?" tanyanya.


"Pakai uang ini untuk melunasi hutang mu," jawabnya.


Zahira terkesima mendengar hal itu, segera ia melihat isi amplop itu yang ternyata berisikan uang dengan jumlah banyak.


Dengan terbata Zahira hendak berkata, "Ki..." namun Kiki tidak membiarkannya bicara apa pun lagi.


"Cepat pergi! selesaikan urusan mu, bebaskan keluar mu dari lintah darat itu!" perintahnya.

__ADS_1


Tak ada waktu untuk haru, Zahira hanya diberi kesempatan untuk mengucapkan terimakasih sebelum ia pergi.


Tiba di rumah sang bos Zahira disambut oleh beberapa pria kekar dengan wajah sangar, saat ia mengatakan niat kedatangannya mereka pun mengawalnya masuk kedalam.


Tak ingin menunda lagi Zahira segera melunasi hutangnya tersebut, tentu ia tak ijinkan pulang sebelum uang yang ia bawa itu di periksa keasliannya dan di hitung jumlahnya.


"Bagus, aku tak mengira kau berhasil melunasi hutang suami mu yang teramat banyak. Sebenarnya aku cukup penasaran darimana kau bisa mendapatkan uang sebanyak ini, tapi itu juga bukan urusanku," ujar bos rentenir itu.


"Dengan begini hutang saya sudah lunas kan?" tanya Zahira memastikan.


"Ya, mulai saat ini aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi," jawabnya.


Bagai pecah bisulan, kini tak ada lagi yang membuat hatinya cenat-cenut. Dengan senyum lebar diwajahnya Zahira pulang membawa senang, sebelum ia merangkul sang buah hati telah ia tetapkan untuk pergi menemui Kiki terlebih dahulu.


Sebab jika bukan karena Kiki maka saat ini tangan dan kakinya masihlah dirantai, ia akan datang untuk mengucapkan terimakasih dengan kesungguhannya.


Tapi apa yang ia temukan di rumah Kiki rupanya seketika melenyapkan senyum lebarnya, tanpa ada yang menyadari keberadaannya semua fakta telah ia dengar.


Disana, Fariz tengah bicara dengan Kiki. Mengatakan sesuatu yang tak pernah ia kira, "Zahira menerima uangnya tanpa bertanya apa pun, memang aku juga yang tak memberinya kesempatan untuk bertanya," ujar Kiki.


"Kau bisa mengandalkan ku, tapi Fariz...bukannya aku mau ikut campur masalah pribadi mu hanya saja rasanya kurang benar kau melakukan semua ini sementara status Zahira adalah istri orang," ujar Kiki sedikit khawatir.


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Selama aku masih hidup sebisa mungkin aku akan terus menjadi bayangannya!" janji Fariz yang membuat Zahira menutup mulut tak berdaya.


Tak ingin ketahuan ia segera pergi dari tempat itu, mencerna apa yang baru saja ia dengar dengan hati yang bercampur aduk.


Butuh beberapa menit baginya untuk akhirnya tenang, berdiri disana dengan benak yang melamunkan sesuatu. Sampai ia melihat Fariz berjalan melewatinya, "Fariz!" panggilnya.


Fariz menoleh, cukup terkejut melihat Zahira yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Za? apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya.

__ADS_1


"Menunggu mu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan."


Fariz tertegun, cukup bingung dan penasaran dengan apa yang akan Zahira katakan.


"Aku telah mendengar semuanya, karena itu... aku ingin berterimakasih atas bantuan yang telah kamu berikan," ujarnya.


"Za, itu.. i-iya.. aku hanya... " susunan kalimat yang berada dalam benak Fariz rupanya tak mampu menjadi rangakain kata yang benar.


"Aku akan mengganti uangmu!" ujar Zahira tegas.


"Za... itu.. tidak perlu," sahut Fariz mulai tak enak hati.


"Tidak! aku akan tetap mengganti uangnya, tapi tolong beri aku waktu untuk melunasinya."


"Zahira aku bilang itu tidak perlu! aku ikhlas membantumu!" ujar Fariz bersikukuh.


"Meski begitu aku akan tetap menggantinya, Fariz... saat kau menyatakan perasaan mu waktu itu aku sempat berfikir itu hanyalah gurauan. Tapi aku sudah memikirkannya dengan baik, aku tahu kau serius maka aku akan menjawabnya!" tegas Zahira.


Fariz menelan ludah dengan susah payah, merasa tak siap akan apa yang sudah bisa ia terka.


"Aku senang memiliki mu sebagai sahabat ku, tapi aku tidak akan bisa menerima mu sebagai seseorang yang lebih spesial dari itu. Karena itu, sebagai sahabat juga ijinkan aku untuk membalas kebaikan mu ini dengan mengganti uang yang telah kau berikan," ujarnya.


"Aku mengerti jika hubungan kita tidak bisa lebih dari seorang sahabat, sejak dulu aku sudah puas memiliki hubungan ini dengan mu. Oleh karena itu, sebagai sahabat aku tidak bisa membiarkan mu dalam kondisi kesulitan."


"Jika memang begitu tolong jangan bebani aku! berikan aku kesempatan untuk membalas kebaikan mu dengan cara yang aku bisa," pinta Zahira.


"Zahira aku mohon jangan keras kepala! aku ikhlas menolong mu tanpa meminta balasan!" ujar Fariz mulai kehabisa kesabaran.


"Dan aku tidak bisa menerima keikhlasan mu sebab tersemat sebuah perasaan terlarang!" balas Zahira dengan suara yang lebih keras.


Itu membungkam Fariz seketika, ia sangat tahu sifat Zahira yang keras kepala sehingga tidak ada gunanya untuk berdebat.

__ADS_1


Pada akhirnya Fariz mengalah, ia membebaskan Zahira melakukan apa yang ia kehendaki.


"Sekali lagi terimakasih karena telah menolong ku, lain kali kuharap kau tidak terlalu ikut campur lagi," ujar Zahira sebelum akhirnya pergi.


__ADS_2