Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 21 Ratu Anisa


__ADS_3

Fariz telah mendengar bahwa Zahira baru saja melahirkan, itu dari ajakan Kiki yang ingin menjenguknya. Sejujurnya ia ingin ikut, namun saat ini ia tak memiliki wajah untuk di tampilkan di hadapan Zahira.


Maka dari itu Kiki pergi berdua saja dengan Dimas, membawa sebuah bucket bunga serta hadiah untuk sang jabang bayi mereka pun tiba dengan cepat.


"Kiki... " sapa bunda yang kebetulan baru keluar dari ruangan tempat Zahira menginap.


"Bunda.. apa kabar?" balasnya segera berlari menghampiri.


"Alhamdulillah sehat, sudah lama ya kita tidak ketemu"


"Iya bun"


"Pasti sekarang kamu lagi sibuk kuliah"


"Begitulah bun, eh kenalkan ini Dimas" ujarnya memberi ruang agar Dimas dapat memberi salam.


"Bagaimana keadaan Zahira?" tanyanya.


"Alhamdulillah dia dan bayinya baik-baik aja ko, kamu mau jenguk?"


"Iya bun"


"Kalau gitu ayo masuk... dia pasti senang lihat kedatangan kamu" ujar bunda mempersilahkan.


Kiki dan Dimas pun berpamitan, membuka pintu setelah di ketuk mereka menatap Zahira yang sedang duduk tengah menggendong bayi kecilnya.


Melihat sahabatnya datang menjenguk Zahira senang bukan main, apalagi dengan hadiah manis yang di bawa Kiki.


"Selamat ya.. sekarang kamu udah jadi ibu"


"Terimakasih Ki" sahutnya.


"Cantik banget bayi mu, sudah di beri nama?"


"Sudah, namanya Anisa"


"Uuhhh... cantik sekali namanya, siapa yang memberikannya?"


"Aku, nama lengkapnya Ratu Anisa. Ratu adalah nama yang diberikan mas Pras dan Anisa adalah nama dariku" jelasnya.


Kiki hanya tersenyum mendengarnya, karena mereka masih memiliki pekerjaan maka mereka pun memutuskan untuk pulang meski sebenarnya Kiki masih ingin berlama-lama.

__ADS_1


Di sepanjang jalan pulang rupanya Dimas cukup memikirkan hal ini, melihat bagaimana Kiki sangat senang saat mencoba menggendong Anisa muncul sebuah niat dalam hatinya.


"Ki.. jika aku melamar mu sekarang apa kau akan menerimanya?" tanya Dimas tiba-tiba.


"Apa? sekarang? jangan konyol, fokuslah mengemudi" sahut Kiki.


"Hei kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Dimas sedikit tertawa.


"Apa? aku mengatakan yang seharusnya"


"Katakan padaku, kenapa aku merasa seolah kau akan menolak ku?"


"Mungkin memang seperti itu yang akan kau dengar"


"Jadi kau akan menolak ku?" tanya Dimas memastikan.


"Kau yang bilang tidak akan serius padaku sampai mewujudkan cita-cita mu, jangan berubah pikiran hanya karena melihat orang lain bahagia dengan rumah tangganya"


"Begitu rupanya, tapi bagaimana jika aku berubah pikiran karena takut kehilangan mu?"


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Kiki heran.


"Mungkin tubuhmu tidak pergi kemana pun tapi bagaimana dengan hati? kita tidak bisa menebak tentang perasaan, saat ini mungkin aku yang ada dalam hatimu tapi setelah kita berpisah dan kau dekat dengan pria lain bisa saja kan hati mu berubah"


"Kau melupakan Fariz" balasnya.


Kiki melongo, menatap tak percaya pada wajah Dimas yang bengkak karena rasa cemburu. Tentu itu membuatnya geli hingga tak ada kata yang keluar justru sebuah tawa yang meledak.


* * *


Dua hari sudah Zahira menghabiskan waktunya di rumah sakit, setelah Pras menyelesaikan administrasi akhirnya mereka pun bisa pulang.


Bunda yang masih saja khawatir pada Zahira memutuskan untuk ikut membantu mereka pulang kerumah, bahkan setelah sampai ia juga memberikan semua kebutuhan Zahira agar Zahira bisa pokus pada putrinya.


Sementara Dian sebagai mertua dan Nisa baru datang menjenguk, melihat keberadaan bunda di sana mereka pun mengobrol sampai lupa waktu.


"Bunda sampai kapan tinggal di sini?" tanya Nisa.


"Entahlah, mungkin sampai Zahira cukup kuat buat ditinggal"


"Oh, mungkin Zahira tidak di kasih obat bagus sama dokter ya.. padahal lahirannya normal. Saya aja dulu di sesar cuma satu hari besoknya sudah bisa ngerjain semua sendiri, iya kan bu?" celetuknya.

__ADS_1


"Iya lho, saya dulu sempet khawatir karena namanya sesar kan ngeri ya.. tapi alhamdulillah meski harus ngeluarin biaya puluhan juta yang penting anak dan si ibu sehat" sahut Dian.


"Iya bu" hanya itu yang dapat bunda katakan dan sebuah senyuman yang sangat di paksakan.


Beruntung Zahira ada di kamarnya, tengah istirahat setelah semalam begadang karena tangisan si kecil. Jika Zahira sampai mendengar apa yang baru saja Nisa katakan maka bunda yakin ia akan menyuruh bunda pulang, seperti itulah Zahira yang terlalu mendengarkan perkataan orang lain.


"Pras bunda mau bikin teh, kamu mau sekalian bunda bikinin kopi?" tawarnya setelah beberapa menit dari kepulangan Dian dan Nisa.


"Boleh bun kalau gak ngerepotin" sahutnya.


Bunda segera pergi ke dapur, membuat dua macam minuman yang tak membutuhkan waktu lama.


"Ini kopi mu" ujar bunda sambil menaruh gelas itu di meja.


"Terimakasih bun"


"Zahira sudah bangun?"


"Belum, dia masih tidur"


"Oh, biarin kalau begitu. Nanti kalau dia bangun tengah malam bilangin ada lauk sengaja bunda sisain buat dia makan, ngurus bayi tuh cape lho... apalagi dalam masa menyusui bawaannya pasti lapar terus"


"Iya bun" sahut Pras.


"Gimana sama pekerjaan mu? apa gak masalah kamu ngambil libur selama ini?" tanya Bunda yang membuat Pras bingung untuk menjawab.


"Um... sebenarnya Pras baru di PHK bun" akuinya yang tidak ingin kena masalah akibat berbohong.


"Astaghfirullah... terus gimana?"


"Ya sekarang Pras lagi nyari kerjaan baru, mudah-mudahan cepet ketemu kerjaan yang cocok"


"Nyari kerja jangan pilih-pilih Pras, apa pun itu asal halal kamu kerjain aja. Kasian Zahira kalau kamu terus nganggur, apalagi biaya hidup kalian sekarang bertambah"


"Iya bun, mohon doanya supaya semuanya lancar" ujar Pras semakin tertunduk malu.


"Pasti ibu do'ain" sahut Bunda.


Mengelus dada karena rasa khawatir kini Bunda semakin tak tega meninggalkan Zahira sendiri, bahkan ia telah meminta ijin pada suaminya untuk membantu perekonomian putrinya.


Tentu ayah Zahira tak keberatan, untuk putri semata wayangnya ia tak masalah di tinggal sendiri di rumah yang penting kehidupan Zahira terjamin.

__ADS_1


Untuk beberapa minggu itu bunda memberikan semua kebutuhan Zahira dan cucunya Anisa dari pesangon yang di miliki suaminya, sayangnya Pras mulai betah dengan kondisi itu hingga jarang mencari pekerjaan.


__ADS_2