
Mencari tempat strategis bukanlah hal yang mudah, memang ada beberapa yang masuk kategori tapi dengan biaya sewa yang mahal membuat Pras harus berfikir dua kali.
Ia tak menyangka akan sesulit ini mencari tempat yang bagus untuk membuka cabangnya, mulai lelah ia memilih istirahat di restoran miliknya sendiri sambil menikmati secangkir kopi.
"Ada apa mas? ko mukamu keliatan kusut begitu?" tanya Ayu menghampiri.
"Eh, enggak ada apa-apa ko! kamu lagi istirahat?" sahutnya.
"M-mm, kalau enggak ada apa-apa gak mungkin ekspresi wajahmu begitu. Ayolah mas... cerita aja!" paksanya.
Pras sedikit menimbang, tapi kemudian dia pun menceritakan apa yang menganggu pikirannya itu. Ayu mendengarkan dengan baik, sampai akhirnya Pras selesai dengan curhatannya.
"Ternyata gitu, yaudah nanti aku coba cari. Kalau gak salah di dekat rumah temanku ada bangunan yang disewakan, tempatnya cukup strategis ko soalnya dekat pusat perbelanjaan gitu. Nanti deh aku coba cek ke sana lagi," ujarnya.
"Ya ampun makasih ya Yu! kamu selalu ada buat nyelesain masalah aku, jadi gak enak aku sama kamu!" ucapnya.
"Apaan sih mas!? biasa aja kali, kita kan teman," balas Ayu dengan pipi yang memerah karena malu.
Obrolan mereka pun berlanjut sambil makan siang, sampai Ayu balik ke kantornya karena harus kembali bekerja.
"Yu! tadi kamu makan siang dimana? ko gak ada dikantin?" tanya temannya yang juga baru balik.
"Oh, aku makan di restoran dekat kantor," sahutnya.
"Oooh.... bareng mas Pras ya..." goda temannya dengan senyuman nakal.
"Ih apaan sih?" tukas Ayu yang sedikit salting.
"Gak usah malu gitu, mas Pras itu keliatannya baik ko! dia juga lumayan ganteng," ujarnya lagi.
"Udah ah! waktunya kerja!" balas Ayu yang segera pergi ke mejanya.
Menahan senyum yang begitu sulit untuk disembunyikan, sebenarnya selama ini ia juga sudah menyadari akan ketampanan Pras juga kebaikannya yang telah menarik perhatiannya. Kebaikan yang membuatnya merasa nyaman dan aman, apalagi pertemuan pertama mereka adalah saat dimana Pras datang sebagai pahlawan seperti dalam film.
Sebenarnya ia mulai penasaran dengan kehidupan pribadi Pras, ia berencana untuk mencari tahu. Tapi ia bingung mau mulai darimana, selain itu Pras juga tidak pernah menyinggungnya sehingga ia segan untuk memulai.
Kembali bertemu setelah pulang kerja mereka sepakat akan meninjau tempat yang Ayu katakan tadi siang bersama, jika Pras merasa cocok maka ia akan langsung mengambil tempat itu.
__ADS_1
Rrrrrttttt.. Rrrrrttttt..
"Halo? iya bu, ada apa?" tanya Pras mengangkat telpon.
"Apa? Anisa masuk rumah sakit? iya bu, Pras segera kesana!" teriaknya panik.
"Siapa mas?" tanya Ayu penasaran sebab nama yang ia sebut adalah nama seorang perempuan.
"Maaf Yu, aku harus segera ke rumah sakit jadi kayaknya gak bisa nganter kamu pulang" ujarnya tanpa menjawab pertanyaan Ayu.
"Enggak apa-apa mas, kalau boleh aku ikut ke rumah sakit aja," jawabnya agar segera tahu apa yang membuat Pras begitu panik.
"Baiklah," sahut Pras segera memutar kemudi.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai, Dian yang sudah menunggu di depan segera menghampiri Pras untuk mengatakan apa yang terjadi.
"Demamnya semakin tinggi, dia juga mimisan dan sempat kejang. Ibu takut sesuatu yang buruk akan terjadi makanya ibu cepat bawa dia ke rumah sakit," jelasnya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Pras masih khawatir.
"Demamnya sudah turun, mimisan dan kejangnya sudah berhenti. Sekarang dia sedang tidur tapi kamu boleh ko nengok kedalam," jawabnya.
Meninggalkan Ayu yang masih tak mengerti siapa yang sedang mereka bicarakan, ia hanya bisa tersenyum dan menyapa Dian sementara Dian sudah bisa menebak tentang Ayu.
Pada akhirnya mereka pun bicara berdua, sementara Pras menengok Anisa. Dari Dianlah Ayu mengetahui bahwa Pras adalah pria yang sudah berkeluarga, memiliki istri dan anak yang saat ini sedang di rawat. Mengetahui kenyataan itu hatinya sedikit sakit sebab harapannya putus seketika, namun segera ia menepis kegalauan dengan berfikir bahwa tidak seharusnya ia mudah jatuh cinta pada pria yang baru dikenalnya selama beberapa bulan saja.
Karena Pras tak juga keluar akhirnya Ayu menitip salam kepada Dian dan pulang seorang diri, esoknya mereka tak bertemu seperti yang diharapkan Ayu sebab kondisi Anisa belum pulih.
Barulah ketika janji mereka untuk pergi mensurvei bersama mereka bertemu, dengan sedikit canggung Ayu bertanya bagaimana kondisi Anisa.
"Alhamdulillah sudah baikan," sahutnya.
"Syukurlah mas," balasnya lagi.
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi Ayu banyak diam dan melamun, tak seperti biasanya. Ini karena ia menjadi segan sebab sempat memiliki rasa yang rupanya merupakan dosa, dan Pras rupanya sadar akan keanehan yang terjadi pada Ayu itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
__ADS_1
"Oh baik ko mas, um... kenapa?" sahutnya.
"Hari ini kamu keliatan aneh, kayak orang bingung," balas Pras.
Ayu hanya bisa tersenyum, tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, seperti yang dikatakan Atu sebelumnya tempat itu memang cukup strategis.
Ini membuat Pras tergiut hingga mulai mencaritahu harga sewanya, mereka pun pegi menemui pemilik bangunan itu untuk bertanya-tanya. Setelah banyak mengobrol akhirnya mereka membuat persetujuan, Pras mengambil tempat itu dengan harga sewa yang telah disepakati.
"Makasih ya Yu kamu sudah mau menemani aku," ujar Pras sambil berjalan menuju mobil.
"Sama-sama mas," sahutnya.
"Cari makan yuk! ini sudah waktunya makan siang," ajak Pras.
Ayu mengangguk pelan, maka mereka pun kembali berjalan tapi tiba-tiba.
Sret...
"Ah... " pekik Ayu dengan tubuh bagian atas yang sudah condong kebelakang.
"Awas!" teriak Pras.
Gep
Dengan tepat waktu Pras berhasil menangkap tubuh Ayu hingga tak jadi terjatuh, dalam sepersekian detik yang terasa lama jantung Ayu berdegup begitu hebatnya saat mata mereka beradu pandang.
Dengan jarak yang begitu dekat ia bisa merasakan hembusan nafas Pras menyapu hidupnya, lalu bau parfum dari baju Pras yang wangi.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Pras membuyarkan lamunannya.
"Ah iya, gak apa-apa mas!" jawab Ayu segera melepaskan diri dari pelukan Pras.
Atas insiden tak terduga itu Ayu kembali merasa malu dan canggung, sementara Pras acuh seolah tak terjadi apa-apa. Sebisa mungkin iya mencoba bersikap normal, layaknya teman pada umumnya sebab itulah hubungan yang mereka jalin.
Tapi setiap saat bertemu Pras membuatnya sulit untuk tidak mengharapkan sesuatu yang lebih, terlebih lagi sikap Pras yang begitu perhatian dan penyayang membuat hatinya semakin luluh.
Hari demi hari, semakin ia berusaha memendap perasaan semakin kuat juga perasaan itu timbul. Hingga satu waktu ia memutuskan untuk menyerah, membiarkan apa yang terjadi sesuai dengan jalannya.
__ADS_1
Semakin ia dekat dengan Pras semakin dekat pula ia dengan keluarga Pras, hingga tahulah ia bahwa Pras sudah lama ditinggalkan Zahira ke luar negri.
Sama-sama merasa kesepian didunia yang ramai ini membuat mereka menciptakan satu dunia milik sendiri, dimana hati mudah tergores tapi juga mudah terobati.