Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 34 Hadiah Yang Terabaikan


__ADS_3

Bagai mendapat durian runtuh, kehidupan Pras begitu sempurna. Bisnis restoran yang ia kembangkan kini telah memiliki cabang yang sama suksesnya, dengan bangga ia memberitahu Zahira akan hal itu.


Memintanya untuk segera pulang agar dapat menikmati semua hasil jerih payah mereka, mendengar berita baik ini tentu Zahira juga tak sabar untuk pulang.


Hari demi hari ia hitung dengan tak sabar sampai akhirnya tersisa satu tahun lagi waktunya bekerja disana, tiba hari dimana Anisa berulang tahun yang ke empat membuatnya semakin tak sabar.


Di ulangtahun kali ini ada yang berbeda, Zahira memberikan mengirimkan hadiah jauh-jauh dari luar negri untuk putrinya tercinta.


Pras pun seperti biasa begitu sibuk menyiapkan pesta itu, sejak pagi ia sudah menyewa tempat untuk merayakannya meski pesta itu akan dilaksanakan nanti sore.


Berbagai persiapan lainnya seperti membeli kue dan hadiah pun sudah ia laksanakan, kini hanya tinggal menunggu waktu saja. Pras memutuskan untuk menuntaskan pekerjaannya dulu, hanya mengecek kinerja karyawannya seperti biasa.


Sisanya ia habiskan bersama dengan Ayu, kebetulan hari itu Ayu sedang libur kerja sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


"Mas, Anisa ulangtahun hari ini kan?" tanyanya.


"Iya," jawab Pras sambil mengangguk.


"Boleh aku beri dia hadiah?."


"Tentu saja, kau berhak melakukannya," sahut Pras.


"Tapi aku ingin memberikannya secara langsung," ujar Ayu yang membuat Pras melepaskan rangkulannya.


"Mas.. aku juga ingin dekat dengan anak mu, aku janji tidak akan bicara macam-macam!" pintanya dengan sungguh-sungguh.


Pras menghela nafas panjang, sudah hampir setahun mereka menjalani hubungan ini. Selama itu Ayu dapat menahan diri di depan umum, bahkan tidak pernah meminta yang macam-macam sebab ia sadar akan posisinya sendiri.


Memang sejak malam itu juga mereka sudah berkomitmen untuk merahasiakannya, itulah mengapa Pras merasa sedikit gugup akan permintaan Ayu.


"Aku mohon mas, sejujurnya aku kasian sama anak mu. Sejak kecil dia sudah ditinggalkan ibunya, biarkan aku mengobati luka yang diberikan istri mu demi Anisa. Aku bersumpah hanya ini yang akan aku lakukan tidak lebih," ujar Ayu lagi.


Akhirnya Pras mengalah, ia memberi ijin kepada Ayu untuk lebih dekat dengan putrinya. Tentu dengan syarat bahwa ia hanya sebagai teman kerja ayahnya, mendapatkan ijin itu Ayu pun senang bukan main dan mulai bersiap untuk pergi ke pesta.


"Tapi kamu harus datang sendiri, akan menghebohkan jika kita datang bersama," ujar Pras.


Ayu mengangguk setuju, Pras pun pergi lebih dulu sebab ia harus kembali memeriksa persiapannya. Saat waktunya tiba mereka pun pergi ke tempat pesta itu diadakan, semua keluarga dan temay turut hadir memeriahkannya seperti biasa.

__ADS_1


Anisa yang kini sudah sangat cerewet nampak riang gembira dan bermain bersama teman-temannya, dengan menggunakan gaun ala putri kerajaan ia bertindak sebagaimana putri.


Itu membuat Pras sangat senang, begitu juga dengan bunda Patimah. Meski datang agak terlambat tapi ia tak lupa dengan hadiah untuk cucunya, satu lagi ia membawa hadiah dari Zahira.


"Ini dari bunda?" tanya Anisa dengan suara imut yang menggemaskan.


"Iya sayang, bunda Zahira menitipkan kado ini khsusus untuk kamu."


"Terimakasih oma, boleh Anisa buka?" tanyanya tak sabar.


"Tentu sayang, ayo buka!" jawab bunda Patimah.


Tangan kecil itu merobek kertas kado dengan cepat, meski agak kesulitan tapi Anisa berhasil mengeluarkan isinya.


"Wah... bonekanya lucu oma!" teriak Anisa senang.


"Baguskan? ini boneka dari luar negri lho! dia terbang dulu pake pesawat sebelum sampai disini," ujar Bunda Patimah yang membuat Anisa semakin girang.


"Aku gak tahu kalau Zahira ngirim hadiah untuk Anisa," ujar Pras kepada Bunda Patimah.


"Dia sudah mencoba menghubungi kamu tapi tidak berhasil, akhirnya dia ngasih tahu bunda dan nyuruh buat kasihin ke Anisa."


"Sudah gak apa-apa, yang penting sekarang Anisa sudah terima hadiahnya dan dia senang," sahut bunda.


Pras mengangguk setuju, mereka pun kembali menikmati pesta. Tak berapa lama kemudian Ayu baru muncul, kedatangannya seperti biasa begitu menarik perhatian sebab gaun yang ia kenakan terlihat mewah. Ditambah dengan riasan yang membuatnya semakin cantik juga perhiasan yang menawan, Dian yang sudah mengenalnya menyambut kedatangan Ayu dengan senang.


"Selamat datang..." ucapnya sambil menghampiri.


"Terimakasih tante, mas Pras mengundang ku jadi rasanya tidak enak kalau aku gak datang," ujarnya memberi alibi.


"Tentu saja, tante senang kamu bisa datang. Ayo masuk!" ajaknya.


Ayu tersenyum dan mengikuti langkah Dian, saat ia bertemu dengan Pras mereka bicara layaknya teman biasa. Karena bintang hari itu adalah Anisa maka Ayu segera menghampirinya untuk memberikan hadiah yang telah ia berikan.


"Selamat ulangtahun Anisa, tante punya kado untuk mu!" ujarnya sambil menyerahkan kado itu.


"Terimakasih, boleh Anisa buka?" tanyanya.

__ADS_1


"Tentu saja!" sahut Ayu antusias.


Anisa menyimpan boneka pemberian Zahira diatas meja sebab tangannya sibuk dengan kado baru, seperti biasa ia merobek bungkus kadonya untuk melihat isinya. Saat ia menemukan sebuah tiara kecil yang dipenuhi permata mata jernihnya segera terpukau, dengan takjub ia berkata, "Wow! ini tiara yang sangat indah."


"Ini adalah tiara khusus untuk putri, karena itu tante memberikannya untukmu," ujar Ayu.


"Boleh Anisa pakai?" tanyanya polos.


"Tentu saja, ini milikmu."


Ayu pun membantu Anisa memakaikan tiara itu diatas kepalanya, kini setelan tiara itu terpasang Anisa nampak seperti putri sungguhan.


Dengan riang ia berlari menemui teman-temannya untuk memerkan kecantikan dari tiara tersebut, itu membuat Ayu sangat senang sebab jerih payahnya mencari kado terbayar sudah.


Melihat betapa senangnya Anisa menerima tiara itu Dian dan Pras ikut senang dan mengucapkan terimakasih kepada Ayu, tentu tindakan itu membuat Ayu sedikit malu.


Rupanya Anisa sangat menyukai tiara itu sebab ia tak mau melepaskannya, bahkan setelah pesta berakhir dan mengharuskan mereka pulang untuk istirahat.


Pras hanya menggeleng geli melihat kelakuan putri kecilnya itu, ia pun tak ingin memaksa dan akhirnya membiarkan Anisa tetap memakai tiaranya hingga tidur.


Sementara itu dirumah Bunda Patimah meski malam telah larut tapi Bunda belum bisa tidur, ia menunggu telpon dari Zahira yang sudah memberitahu akan menelpon nanti malam. Setelah beberapa menit yang membosankan akhirnya Zahira ada juga menghubungi, dengan cepat Bunda menjawab.


"Zahira..." panggilnya lembut.


"Bunda, maaf Zahira telat nelpon. Tadi Zahira mandi dulu," ujarnya.


"Gak apa-apa kok nak."


"Gimana tadi pestanya?" tanya Zahira antusias.


"Seperti biasa, Pras membuatnya begitu mewah."


"Lalu gimana dengan kado dari Za? apa Anisa sudah menerimanya? apa dia senang?" tanyanya lagi.


Bunda termenung sejenak tapi kemudian menjawab, "Tentu saja, dia memeluk dan mencium boneka itu. Dia mengucapkan terimakasih untuk mu!."


"Oh syukurlah, kalau begitu sudah dulu ya bunda!? pasti bunda lelah habis dari pesta," ujarnya dengan senyum gembira.

__ADS_1


"Iya sayang," jawab bunda dan telpon pun mati.


Dalam keheningan air mata mengalir di pipi Bunda, sedih hatinya tak tega akan apa yang terjadi pada hadiah pemberian Zahira. Anisa melupakan boneka itu di meja setelah ia mendapatkan tiara dari Ayu, bahkan yang paling menyakitkan adalah Anisa lebih menyukai tiara itu hingga tak mau melepaskannya.


__ADS_2