
Dua hari adalah waktu yang teramat singkat, meski begitu Zahira bersyukur sebab setidaknya ia bisa memulihkan badannya. Ia sudah kembali menyiapkan hati untuk cercaan baru, namun keberuntungan sedang beruntun padanya.
Nisa datang menjemput ibunya, dengan meminta maaf dan berjanji tidak akan bicara kasar lagi.
Dian menerima permintaan maaf putrinya itu dengan senang hati, tanpa menunda ia segera berpamitan dan pulang bersama Nisa.
Menghembuskan nafas lega Zahira mengantar kepergian mertuanya itu sampai di pintu, melambaikan tangan dengan harapan ibu dan anak itu tidak akan pernah bertengkar lagi.
Mengawali hari damai yang baru Zahira mengerjakan tugas rumah dengan senang hati, ia bahkan memasak makanan kesukaan Pras yang istimewa.
"Mewah banget dek makanan hari ini" ujar Pras.
"Iya mas, aku bosen dengan makanan rumah sakit jadi aku masak semua ini" jawabnya beralasan.
"Ya udah, yuk makan!" ajak Pras.
Pasangan muda itu segera melahap makanan mereka, menghabiskan waktu berdua dengan penuh keromantisan yang tenang hingga hari itu berakhir.
Esoknya Zahira bangun seperti biasa, kembali mengerjakan tugas rumah dengan senang hati sebelum berangkat kerja. Di toko, ia menceritakan kebahagiaannya itu kepada Kiki.
"Aku ikut senang Za, semoga mertua mu gak balik lagi ke rumah" ujar Kiki menanggapi.
"Aku harap juga begitu"
"Eh nanti pulang kerja bisa gak kamu datang ke rumah? kamu kan belum pernah main ke rumah ku" tanyanya.
"Duh maaf Za aku gak bisa, aku udah janji sama Fariz mau bantuin dia di rumah Yatim"
"Gitu ya.. "
"Lain kali aja ya Za"
"Ya udah gak apa-apa, ngomong-ngomong bukannya Fariz ke luar kota ya?"
"Enggak, dia jadi kuliah di sini sambil ngurusin rumah yatim piatu milik pak Haji"
"Oh gitu, yah... pada akhirnya kalian tetep bareng lagi ya hahaha" gurau Zahira.
"Apaan sih!" tukas Kiki sambil merengut.
"Kalian kan udah bareng sejak lahir, kayaknya jodoh mu dia deh Ki"
"Ngaco! mana mungkin!" bantah Kiki keras.
"Lah siapa tahu? lagian kalian udah bareng sejak kecil emang kamu gak ada hati buat Fariz?"
"Meski bareng sejak kecil bukan berarti aku harus suka sama dia kan? kayak gak ada cowok lain aja!" gerutunya.
__ADS_1
"Gimana kalau Fariz yang suka sama kamu? bakal kamu terima gak?"
"Gak mungkin, Fariz juga cuma nganggep sahabat aja gak lebih"
"Hati kan gak ada yang tahu Ki"
"Tapi serius Fariz tuh gak ada rasa sama aku" ujar Kiki bersikukuh.
"Tau dari mana kamu?" tanya Zahira yang tak bisa Kiki jawab.
Tentu saja Kiki tahu sebab di hati Fariz hanya ada Zahira seorang, bahkan meski kini Zahira adalah istri dari seorang pria Fariz masih menyimpan cintanya dengan baik.
"Pokoknya kami cuma sahabat sejak kecil" ujar Kiki segera mengakhiri topik itu.
Memang rasanya sangat tidak mungkin jika tidak ada hati diantara mereka berdua, cukup sulit mengatakan hubungan antara pria dan wanita hanya sebatas teman.
Apalagi Kiki dan Fariz sudah bersama sejak kecil, bagaimana cara mereka bercanda hingga saling menguatkan saat duka menjadi pertimbangan akan hadirnya cinta.
Tapi sungguh dalam hati Kiki tidak ada rasa apa pun kecuali saudara, itulah salah satu alasan mengapa ia mendukung cinta Fariz untuk Zahira.
"Bodoh!" gerutunya mengingat ucapan Zahira tadi.
"Siapa yang bodoh?" tanya Fariz yang tak sengaja mendengar.
"Oh bukan siapa-siapa"
Butuh waktu banyak untuk membereskan semua barang-barang itu, tentu saja karena perlengkapan yang ada semua adalah kebutuhan anak kecil.
Rumah dengan dua lantai itu harus segera mereka bereskan agar anak-anak yatim piatu bisa cepat menempatinya, lebih cepat lebih baik.
"Aku udah beresin kamarnya, tinggal kamu pindahin lemarinya aja" ujar Kiki setelah satu jam berlalu dalam kamar itu.
"Ok, makasih ya udah mau bantuin"
"Aku balik duluan ya, udah terlalu malam"
"Kamu bisa pulang sendiri? ini terlalu malam lho Ki buat cewek, gimana kalau tunggu sebentar lagi? nanti kita balik bareng" ujar Fariz yang khawatir akan keselamatan sahabatnya itu.
"Ah kamu kan lama baliknya.. gak apa-apa aku balik sendiri aja"
"Eh jangan dong, kalau sampe kamu kenapa-kenapa di jalan nanti aku yang di marahin tante. Tunggu deh!" sergahnya.
"Mas! oy Dimas!" teriak Fariz memanggil.
Seorang pemuda yang sebaya dengan mereka menoleh, segera menghampiri saat sadar dirinya di panggil.
"Apa Riz?" tanyanya.
__ADS_1
"Tolong anterin sodara gue ya! udah malam nih, kasian kalau dia balik sendiri"
"Oh, boleh"
"Eh enggak usah, nanti ngerepotin!" sergah Kiki cepat.
"Alah... biasa juga ngerepotin mulu.. " tukas Fariz yang membuat Kiki melotot padanya.
"Hahaha... tenang aja, Dimas ini teman satu kamar aku pas di pesantren. Dia orangnya santai ko, gih cepet balik! besok kamu ada kelas juga kan?" lanjutnya menjelaskan.
Kiki tersenyum canggung, tentu karena sebagai gadis ia harus bisa bersikap sopan pada pemuda yang baru di kenalnya.
Dengan paksaan Fariz akhirnya Kiki pun menurut, ia segera berpamitan pulang bersama Dimas.
Berada dalam satu atap mobil bersama seorang pria cukup membuat suasana menjadi canggung, Kiki yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi pendiam dengan harapan Dimas tidak mendengar detak jantungnya yang teramat kencang.
"Kamu... teman masa kecilnya Fariz ya?" tanya Dimas.
"Iya.. kenapa?"
"Oh benar rupanya, Fariz pernah nyinggung nama kamu dulu jadi aku inget"
"Oh gitu, um... Fariz cerita apa aja tentang aku?" tanya Kiki penasaran sambil berjanji dalam hati jika Fariz cerita macam-macam dia akan buat perhitungan.
"Gak banyak sih, seingat aku kalau gak salah kalian bareng terus dari kecil. Sekolah bareng, main bareng sampe sekarang"
"Oh gitu.. "
"H-mm, katanya kadang dia kerepotan karena harus jagain kamu terus"
"Masa? Fariz ngomong gitu?" tanya Kiki lebih penasaran.
"Hahahaha... Fariz tuh keliatannya kalem padahal orangnya bobrok juga, waktu pertama kenal dia aku pikir dia tuh dewasa dan bisa diandelin. Eh ternyata setelah kenal lama dia yang paling susah di atur, dia yang paling keras kepala dan gak cukup sulit buat cocok sama orang"
"Emang benar! Fariz tuh aslinya nyebelin banget!" sahut Kiki setuju.
Hahahaha
Obrolan ringan itu membuat suasana menjadi cair, tanpa terduga Kiki membuka diri dengan menampilkan sosoknya yang seperti biasa.
Dimas menerima sifat itu bahkan mengikuti kemana alur Kiki membawa, membuat Kiki senang sebab mendapat satu lagi teman yang menerimanya.
"Tapi... di balik semua sifat nyebelin itu aslinya Fariz adalah orang yang bisa di andalkan, dia adalah orang pekerja keras dan setia" ujar Kiki menutup percakapan itu sebab mereka hampir tiba.
"Ya... aku setuju" sahut Dimas.
"Makasih ya udah mau nganterin"
__ADS_1
"Sama-sama, lain kali kalau kamu butuh aku gak usah segan lagi" ujar Dimas memberikan senyum.