Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Ban 23 Do'a Kepada Pemilik Langit


__ADS_3

Pertengkaran tak dapat terelakkan lagi, Pras kukuh pada pendapatnya membela diri dengan alasan untuk biaya persalinan Zahira. Sementara Zahira juga murka karena Pras merahasiakan hal ini darinya, sangat menyayangkan mengapa suaminya begitu pendek pikiran hingga mau berurusan dengan lintah darat.


Entah berapa jam mereka saling berteriak, menangis, hingga hampir memaki. Tentulah cukup lama sebab tenaga mereka telah terkuras habis, hingga Zahira tertidur dengan sendirinya di kamar sementara Pras pergi entah kemana.


Hingga pagi datang Pras belum juga pulang, setelah siang barulah ia tahu bahwa Pras pulang ke rumah orangtuanya.


Terjebak sendiri dalam masalah Zahira memutuskan untuk pergi menemui Kiki, setidaknya akan sebuah tangan yang menghapus air matanya.


Setibanya disana Kiki sangat senang menyambut kedatangannya, begitu juga dengan Fariz yang kebetulan sedang ada di sana.


"Hai.. " sapa Zahira yang canggung.


Tentu pengakuan Fariz waktu itu masih membekas hingga membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.


Fariz sendiri meskipun sangat senang dapat bertemu Zahira tapi ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil.


"Apa si kecil tidur dengan pulas?" tanya Kiki memperhatikan Anisa yang masih di pangkuan ibunya.


"Ya, mungkin perjalanan ke sini cukup melelahkan untuk bayi."


"Kalau begitu tidurkan di kamarku! kalau dia terus dipangkuanmu nanti dia bisa terbangun karena celotehan auntynya," sahut Kiki yang membuat mereka tertawa kecil.


"Baiklah, aku pinjam kamarmu sebentar,"


"Tentu!" ujar Kiki.


Beruntung Kiki adalah orang yang cerewet, kecanggungan antara Zahira dan Fariz tidak terlalu nampak karena mereka sibuk menanggapi Kiki.

__ADS_1


"Aahh...ini mengingatkanku pada masa SMA kita," ujarnya sambil menghela nafas.


Fariz dan Zahira saling menatap mendengarnya, tapi segera Zahira berpaling karena tak kuasa menerima tatapan yang dipenuhi perasaan itu.


"Aku harus pergi, masih ada kerjaan lain," ujar Fariz tiba-tiba.


Kiki yang sebenarnya peka pada keadaan mereka tak banyak bertanya, ia mengijinkan Fariz pergi begitu saja.


Setelah Fariz berpamitan barulah Zahira mengungkapkan maksud tujuannya bertamu, tak lain adalah meminta pertolongan dari satu-satunya sahabat yang ia miliki.


Dengan perasaan yang kembali terluka ia berkata, "Aku benar-benar kecewa sama mas Pras, harusnya dia ngomong dulu sama aku biar kita bisa cari jalan keluar yang lain. Kamu tahu sendiri berurusan dengan lintah darat itu tidak akan pernah selesai, bunga akan terus berkembang."


"Kamu butuh berapa Za? aku masih punya tabungan, mumpung bunganya belum membengkak sebaiknya dilunasi sekarang juga," tanya Kiki yang tak bisa tinggal diam.


"Tidak Ki, aku pun tak tahu berapa jumlah pastinya. Tapi untuk saat ini aku cuma butuh kamu buat jadi tempat curhatku, setidaknya perasaan ku sedikit lega karenanya," sahutnya.


Jika itu pilihan Zahira maka Kiki tak bisa memaksa, meskipun ia sangat ingin membantu.


Kiki mengantar kepulangan sahabatnya itu dengan banyak memberi dukungan, nasihat serta senyum yang akan membuat Zahira kembali bersemangat.


Baru saja Zahira hilang dari pandangannya, sebuah pesan ia terima dari Dimas yang memintanya untuk datang ke tepi danau. Penasaran Kiki segera memenuhi panggilan itu, dan ketika ia tiba sebuah pemandangan menakjubkan telah memukaunya.


Sebuah tenda berdiri dimana sepasang kursi dan meja tepat di bawahnya, semakin Kiki mendekat ia dapat melihat telah siap sebuah hidangan dengan lilin tepat di tengahnya.


Saat ia melihat Dimas datang dengan terbata ia bertanya, "I-ini... apa semua ini?"


"Bagaimana? kau suka?" tanyanya.

__ADS_1


"Ini sangat indah Dimas, tapi untuk apa semua ini?" sahutnya kembali bertanya.


Sambil tersenyum ia berkata, "Untukmu."


"Apa?" gumam Kiki.


Dimas mengajak Kiki untuk duduk, menikmati apa yang telah ia siapkan.


"Ada apa?" tanya Dimas melihat wajah Kiki yang masih mengerut.


"Jelaskan padaku, untuk apa semua ini?" tanyanya lagi.


"Apa aku tidak boleh menyenangkan gadis yang aku sukai?" balas Dimas bertanya.


"Ini membuatku tak nyaman! kau tidak menjelaskan untuk apa semua ini, bagaimana bisa aku senang?" sahutnya.


Dengan suara lembut Dimas menjawab, "Saat ini aku sedang bingung, aku mendapat sebuah tawaran pekerjaan yang bagus namun jika aku menerimanya itu akan membuat kita berpisah cukup lama. Aku tidak bisa jauh darimu, aku tidak mau melakukannya,"


"Itu tidak menjawab pertanyaanku!" tuduh Kiki.


"Mungkin aku akan menerimanya, karena itu aku ingin memiliki banyak kenangan dulu denganmu agar kau tidak mudah melupakan ku!" ujarnya.


Keheningan tiba-tiba hadir diantara mereka, sesuatu yang sangat tidak Kiki sukai. Semuanya terlalu jelas, perasaannya, kenyataan dan pilihan yang harus ia tetapkan.


"Aku tidak menyukainya, semua ini justru akan menyiksaku setiap saat seperti udara yang ku helak. Jangan buat lebih banyak lagi, cukup pergi dan kembali."


Tanpa menunggu kata dari Dimas Kiki segera melangkah pergi sebelum angin sempat menerbangkan bulir air matanya, sementara Dimas masih terpaku di sana dengan matanya yang kosong.

__ADS_1


Selama dua hari mereka tak saling mengabari sampai Fariz memberitahu bahwa Dimas telah pergi, pergi tanpa mengucapkan perpisahan seperti apa yang diminta Kiki.


Namun meski perpisahan itu tanpa kata, setiap langkah yang di ambil Dimas juga setiap deru nafas Kiki terdapat do'a yang saling bersahutan. Permohonan dari dua insan kepada pemilik langit, berharap semua akan menjadi seperti yang diharapkan.


__ADS_2