Rumahku Di Ujung Tebing

Rumahku Di Ujung Tebing
Bab 22 Bunga Mengancam


__ADS_3

Telpon yang ia terima pagi itu telah membuatnya galau, tak mampu untuk memilih sebab baginya keduanya sangatlah penting.


"Bunda.. ada apa?" tanya Zahira melihat jelas sebuah kecemasan di wajah ibunya.


"Ayahmu sakit, tidak ada orang di rumah jadi... " sahutnya yang segera dimengerti Zahira.


"Kalau begitu bunda harus pulang! kasian kan ayah sendirian di rumah!"


"Tapi bagaimana dengan kamu?"


"Gak perlu khawatir sama Zahira, sekarang Za udah kuat ko! lagi pula kan ada mas Pras," ujarnya.


Meski berat tapi akhirnya Bunda pun pulang, dengan harapan Zahira benar-benar sudah mampu mengerjakan semuanya seorang diri.


Namun lagi-lagi Zahira keliru, mengurus seorang anak dan mengerjakan tugas rumah ternyata sangat melelahkan. Ada satu momen yang bahkan membuatnya setres saat bayinya menangis saat ia sedang mandi, sementara Pras tidak ada di rumah untuk mencari pekerjaan hasil dari desakannya.


Sore hari ketika Pras lelah dan ingin segera beristirahat justru ia di sambut dengan wajah Zahira yang cemberut.


"Ini anak mu!" tukasnya sambil menyerahkan Anisa yang tengah menangis.


"Lho! lho! dek? aku baru pulang ini! bukannya kamu sambut dengan senyuman atau kasih aku air minum dulu,"


"Ya ampun mas... kamu kan cuma jalan-jalan cari kerjaan doang, aku tuh dari pagi udah cape ngurusin anak mu sama ngerjain tugas rumah. Aku lebih cape dari kamu!" ujarnya dengan nada tinggi.


Pras hendak mengeluarkan pembelaannya, tapi ia terlalu lelah hingga tak ingin berdebat lagi. Tanpa kata segera ia pun pergi ke kamar sambil menenangkan putrinya yang masih menangis.


Beberapa saat kemudian setelah rumah itu hening Pras keluar dari kamar, melihat istrinya yang ketiduran di kursi membuat hatinya terenyuh seketika.

__ADS_1


Betapa berat ujian kehidupan mereka saat ini hingga sebuah pertengkaran menjadi bumbu wajib disetiap waktu, tak mau membangunkan Zahira ia memutuskan untuk mengambil makan sendiri.


Dengan lauk seadanya Pras begitu lahap makan hingga tak menyadari Zahira yang sudah terbangun dan tengah menatapnya dari belakang.


"Biar aku yang bereskan mas," ujarnya setelah melihat Pras selesai makan.


"Lho, kamu sudah bangun?" tanyanya yang tak mendapatkan jawaban.


Masih dengan wajah yang cemberut Zahira menuangkan segelas minuman untuk Pras setelah ia membereskan meja makan itu.


Duduk tepat disampingnya ia bertanya "Bagaimana tadi? kamu sudah dapat kerjaan mas?"


"Masih belum dek, kamu yang sabar dulu ya!"


"Ya ampun mas... beras udah tinggal sedikit, belum lagi kebutuhan yang lain. Terus Kak Nisa kapan mau bayar hutangnya?"


"Nanti itu kapan?" tanyanya kesal.


Pras hanya terdiam, ia sendiri tak tahu pasti sebab tak bertanya lebih lanjut. Sisa malam yang terasa hambar itu perlahan membungkus Zahira dengan kantuk akibat stres lagi, sementara Pras menghabiskannya dengan melamun tanpa di temani apa pun.


Ketika matahari akhirnya menampakkan sinarnya, mata Pras yang masih terasa berat dengan terpaksa harus terbuka demi keutuhan rumahtangganya.


Dengan harapan baru Zahira menyiapkan sarapan untuk suaminya, memastikan ia memakai kemeja rapih yang bersih agar penampilannya menjanjikan.


"Semoga hari ini kamu dapat pekerjaan baru mas," ujarnya.


"Aamiin," sahut Pras.

__ADS_1


Mengantarkan kepergian suaminya hingga kedepan pintu Zahira tetap berdiri di sana hingga Pras menghilang dari pandangannya, barulah ia masuk untuk mengerjakan tugas rumah seperti biasanya.


Mencuci pakaian kotor, piring kotor, hingga mengurus sang buah hati yang masih bayi membuat Zahira melupakan waktu. Saat akhirnya ia bisa beristirahat rupanya matahari sudah hampir terbenam, pantas saja perutnya begitu sakit sebab ia melewatkan makan siang.


"Anisa... kamu tidur yang lelap ya, mamah mau makan dulu," ujarnya pada bayinya yang mulai menguap terus.


Butuh beberapa menit sampai akhirnya bayi itu terlelap, dengan perlahan ia membaringkannya di kasur dan segera pergi keluar kamar.


Tok Tok Tok


Baru saja ia hendak mengambil piring sebuah ketukan di pintu tiba-tiba terdengar, mau tak mau Zahira harus menunda niatnya.


TokTokTok TokTokTok


Kini ketukan itu lebih nyaring dan jelas sang tamu bukan orang yang penyabar, membuat Zahira heran siapa yang bertamu seperti itu.


Ceklek


Pintu di buka, memperlihatkan tiga pria bertubuh kekar dengan stelan serba hitam.


"Maaf mas, cari siapa ya?" tanyanya dengan sedikit gugup sebab wajah sangar ketiga pria itu menakutinya.


"Kami cari Pras, dia tinggal disini kan?" sahut salah satu pria itu.


Keheranan Zahira kembali bertanya, "I-iya dia suami saya, ada apa ya pak?"


"Suami ibu punya hutang pada bos kami dan sudah terlambat bayar, kami hanya ingin mengingatkan kalau bunga terus berjalan. Jadi sebaiknya suami ibu cepat-cepat bayar demi keselamatannya sendiri."

__ADS_1


Seketika Zahira mematung, tanpa penjelasan lebih lanjut ia sudah mengerti bahwa hidup mereka telah terancam.


__ADS_2