
Seperti janji yang telah ia buat, kepada Pras ia minta untuk diantar menemui teman seperjuangannya Sarah. Saat mengetahui Zahira sudah pulang bukan main ia senangnya, apalagi saat Zahira bertamu.
Seperti yang sering diceritakan Zahira, begitu melihat Pras Sarah sudah mengetahui bagaimana sempurnanya ia sebagai suami. Bahkan Sarah setelah melihat Pras ia menjadi ragu kalau dulu Pras sempat terjebak lingkaran judi, itu membuatnya semakin percaya bahwa di dunia ini tak ada pria yang bisa dipercaya.
"Aku udah memenuhi janjiku, lain kali kalau sempat kamu harus main kerumah ku ya!" ujar Zahira.
"InsyaAllah ya Za, bisnis ku baru dimulai jadi aku lagi sibuk banget."
"Um, kalau boleh tahu mbak bisnis apa ya?" tanya Pras penasaran.
"Pakaian, aku baru aja buka toko dan belum berani nyari pegawai karena keuangannya belum stabil."
"Oh, mudah-mudahan usaha mbak diberi kelancaran."
"Aamiin..." sahut Sarah dan Zahira berbarengan.
Cukup lama mereka mengobrol sampai hari menjelang senja, memang jika sudah bertemu Zahira dan Sarah merasa sulit untuk diam hingga akhirnya lupa waktu.
* * *
Kembali untuk beberapa waktu Pras sibuk dengan keluarga kecilnya hingga melupakan Ayu, sudah tiga hari mereka tak bertemu atau saling bertanya kabar.
Dalam kesendirian hatinya yang kesepian merasa telah kehilangan arah, garis tali yang selama ini menjadi penuntun tiba-tiba lenyap.
Dan semakin ia merasa tersesat ketakutan akan kehilangan itu membuat banyak stigma egois, pada akhirnya amarah akan kehadiran Zahira yang kembali menjadi pemicunya.
Zahira adalah masalah, penghalang dan tembok besar yang harus ia runtuhkan demi kembali mendapatkan kebahagiaan. Tanpa kehadiran Zahira ia akan kembali mendapatkan Pras, pria yang paling ia idamkan selama ini.
__ADS_1
Tujuan telah ia tentukan, kini Ayu mulai mengambil langkah awal untuk mencapainya. Setelah banyak menunggu kabar akhirnya Pras datang juga padanya, memberikan perhatian dan waktu yang selama ini telah ia tunggu.
"Mas, kapan kita liburan lagi? akhir-akhir ini pekerjaan ku sangat melelahkan, aku pengen ngambil cuti dan liburan sama kamu," ujarnya sambil membelai bahu Pras yang bidang.
"Nanti ya, Zahira baru kembali jadi gak mungkin aku ninggalin dia begitu saja."
"Mas ini sudah dua bulan semenjak ia pulang!" tukas Ayu mulai kesal.
"Dia masih butuh aku buat nyesuain diri, bahkan dia gak tahu apa-apa tentang Anisa."
"Ya itu salahnya sendiri kenapa dia pergi keluar negri!"
"Kamu jangan bicara seperti itu! Kalau bukan karena usaha Zahira aku pun gak bakal bisa bangun rumah mewah atau buka restoran!" hardik Pras.
Ini adalah kali pertama Pras bicara dengan nada keras padanya, tak ada yang bisa Ayu lakukan selain diam. Matanya mulai berkaca-kaca dengan tangan yang gemetar, hampir ia menangis yang membuat Pras merasa bersalah.
"Hhhhhhh maafkan aku, aku gak bermaksud. Hanya saja aku gak suka kalau kamu menjelekkan Zahira, mau bagaimana pun dia adalah istriku," ujar Pras dengan suara melembut.
"Yu? kamu baik-baik aja?" tanya Pras mulai khawatir sambil mencoba membelainya.
Tapi Ayu segera menghindar sebelum tangan Pras sempat menyentuhnya, dari gelagatnya Ayu terlihat sangat ketakutan.
"Maafkan aku... aku janji gak akan gitu lagi... " ujar Ayu pelan mulai terisak.
"Iya mas maafin, udah gak apa-apa."
Tapi Ayu masih tak mau disentuh, itu membuat Pras semakin heran dan cemas. Pada akhirnya Pras memaksa untuk memegang tangan Ayu, sontak Ayu kaget akan sentuhan itu.
__ADS_1
"Yu! tangan mu dingin.." ujar Pras kaget.
Ayu hanya merespon dengan mengerutkan kening, matanya yang basah kuyup menatap takut seolah Pras akan melahapnya.
"Maafin aku, aku gak bermaksud," ujar Pras lagi benar-benar merasa bersalah.
Dipeluknya Ayu dan dapatlah ia rasakan degupan jantungnya yang sangat kencang, perlahan dibelainya rambut Ayu sambil terus mengucapkan kata maaf.
Butuh waktu yang cukup lama sampai Ayu bisa kembali normal, saat senyum kembali menghiasi wajahnya ia pergi untuk mengambil sesuatu dari laci.
Itu adalah sebuah surat yang kemudian ia berikan kepada Pras, tentu Pras bingung sekaligus penasaran apa isi dari kertas itu. Saat ia telah selesai membaca taulah ia alasan dibalik gemetar tubuh Ayu tadi, itu merupakan surat pernyataan dokter psikolog dimana Ayu menderita trauma yang cukup parah.
Awalnya Ayu ingin menyembunyikan hal ini dari Pras, tapi kini ia merasa Pras harus tahu agar ia tak lagi menghardiknya untuk hal apa pun itu.
Ayu adalah anak yang lahir dikeluarga toxic, ayahnya sering sekali marah, memukul, hingga menendang ibunya. Ayu kecil pun tak luput dari sasaran, dari mulut ayahnya sendiri ia sering di panggil dengan sebutan pembawa sial.
Tak cukup sampai disana bahkan setelah ia besar sebelum kedatangan Pras dalam hidupnya ia pun pernah memiliki kekasih dengan tempramen tinggi, seperti yang diketahui Pras mantan pacarnya itu sering kali kasar kepadanya.
Hidup dengan penderitaan seperti itu membuatnya memiliki trauma yang cukup serius yang akhirnya membuatnya harus pergi ke dokter psikolog, hanya setelah bersama Pras hidupnya membaik bahkan mencapai kedamaian yang ia idamkan.
"Maafkan aku, maafkan aku!" ujar Pras penuh sesal sambil memeluk Ayu.
Kini ia kembali bisa merasakan perhatian dan cintaa dari Pras, perasaan yang hanya miliknya seorang.
"Aku janji gak akan marah lagi, aku gak akan ninggalin kamu!" ucap Pras yang membuat Ayu tersenyum bahagia.
"Kalau begitu bersikap adil-lah mas, jika kamu menghabiskan waktu tiga hari bersama istrimu maka kamu juga harus menghabiskan waktu bersama ku selama tiga hari. Jika kamu membelikannya tas maka aku juga harus dibelikan," pinta Ayu.
__ADS_1
"Baik, aku akan melakukannya. Kamu jangan sedih lagi ya?" sahut Pras.
Ayu pun mengangguk senang.